Mengandung Benih Sang Mantan!

Mengandung Benih Sang Mantan!
Bab 26 - Marah atau Cemburu?


__ADS_3

Bryant tersenyum tipis menanggapi gumaman Trisya, tentu saja dia mampu membacanya walau tak mendengarnya.


"Sedang apa kau disini?" tanya Trisya yang tak ingin bersikap ramah sama sekali.


"Aku akan bertemu Klien, tapi mereka tidak datang hari ini," jawab Bryant sembari terus mengurusi Zalia layaknya seorang Ayah.


"Sejak kapan kalian dekat?" Bryant seketika mematung, tanpa sadar dia tengah memperhatikan Zalia lebih dari yang seharusnya.


Zalia menundukkan kepalanya, "apa salahnya aku memperhatikannya, lagi pula kita tetangga. Ayo makan lagi Zalia," Bryant kembali mengisi piring Zalia dengan daging kerang, dia tak peduli pada tatapan yang Trisya layangkan kearahnya.


"Ya, hanya itu hubungan kita, tetangga. Jadi berprilaku selayaknya status-mu," Trisya bangkit, "Zalia, apa makannya sudah kenyang?" Zalia mengangguk, anak itu turun dari kursi dan berjalan mendekati sang Ibu.


"Trisya, makanannya masih banyak, kamu mau kemana?" tanya Jonatan.


"Maaf Jo, hari ini aku sedikit merasa tak enak badan, kita akan makan siang bersama lain waktu."


"Duduk! Zalia masih makan!" geram Bryant.


"Zalia bilang dia sudah kenyang!" Trisya bersikukuh.


Bryant mendengus kasar, dia bangkit seraya melayangkan pandangan aneh pada Trisya, "kenapa kau sangat takut aku mendekati putrimu? Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?"


Trisya melebarkan matanya, "apa maksudmu? Menyembunyikan apa?" Trisya pura-pura tidak mengerti.


"Sudahlah Mommy, ayo kita pulang. Zalia sudah kenyang." Ucap gadis kecil itu dengan pandangan sedih.


"Kita pulang bersama, lagi pula tempat tinggal kita bersebelahan." Bryant menggenggam tangan Zalia hendak menariknya mengikuti langkahnya, namun Trisya menghempaskan tangan Bryant dan menarik kembali Zalia kearahnya.


"Lepaskan anakku!" diluar dugaan Trisya berucap setengah berteriak membuat banyak pasang mata menoleh kearah mereka.


Jonatan tampak kebingungan, dia merasa risih sekaligus malu dengan pandangan aneh dan ingin tahu yang mereka layangkan kearahnya saat ini.


"Sebaiknya, kita pergi dari sini. Atau orang-orang akan mulai membicarakan kita." Ucap Jonatan setengah berbisik.


Tanpa menunggu apa pun lagi, Bryant menggendong Zalia dan menarik lengan Trisya agar mengikuti langkahnya.


"Lepaskan aku Bryant!" Trisya berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Bryant namun gagal.


Bryant mendudukkan Zalia di kursi belakang mobilnya.


"Masuk!" Perintahnya pada Trisya tegas, "cepat masuk!" desaknya, membuat Trisya mau tak mau menuruti perkataan-nya.


Bryant menjalankan mobilnya kembali ke-rumah, dia melirik Zalia yang duduk diam di belakang, gadis kecil itu hanya menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Zalia, apa Om menakuti-mu? Om sungguh minta maaf."


Trisya mendengus kasar, "kau memang menakutkan, jadi jauhilah anakku."


Bryant tak menjawab, dia kembali fokus pada kemudinya. Tak butuh waktu lama mereka pun sampai. Trisya lekas turun dan membawa Zalia naik ke-lantai atas.


Bryant kembali mencekal lengan Trisya saat dia hendak masuk kedalam rumahnya, "aku ingin bicara!"


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan!" Trisya menolak keras, dia menghempaskan tangan Bryant dengan kasar.


"Jangan bersikap begini, Zalia melihat-nya," bisik Bryant, membuat Trisya seketika kembali bersikap seperti biasa.


"Zalia sayang, masuklah dulu Mommy ingin bicara sebentar dengan Om Bryant." Ujarnya sembari mengusap pelan kepala Zalia.


"Iya Mommy," ucapnya patuh, anak kecil itu masuk lebih dulu, kemudian Trisya kembali menutup pintunya.


Bryant menarik lengan Trisya menyeretnya masuk kedalam rumahnya, "apa yang kau lakukan, lepaskan aku," keluhnya berusaha melepaskan diri.


Brak...!


Bryant menutup pintu dengan kasar, dia menyudutkan Trisya ke dinding, "kau masih menjalin hubungan dengan pria itu?"


Trisya mendengus senyum, "bukan urusanmu."


"Apa dia Ayah anak itu?" Trisya hanya diam dengan tatapan datar.


"Dia bukan putri siapa-pun, dia hanya putriku," jawab Trisya tegas.


Bryant mendengus tawa, "tidak ada orang yang bisa menghasilkan anaknya seorang diri, aku bukan anak kecil yang akan percaya dengan alasan seperti itu."


"Zalia tidak punya Ayah. Ayahnya sudah meninggal," Trisya memalingkan muka kearah lain.


"Begitu-kah?"


"Ya!" Jawabnya tanpa ragu.


"Baiklah, apa kau mencintainya?"


"Maksudmu Jonatan?"


Bryant hanya diam matanya terpusat ke-mata Trisya, menanti jawaban yang mungkin akan melukai hatinya sendiri.


"Kalau pun aku mencintainya, itu bukan urusanmu."

__ADS_1


"Itu urusanku, karena aku juga mencintaimu Trisya, aku tidak suka saat kau bersamanya. Aku benci saat kau tersenyum padanya, tapi terhadapku, kau selalu memalingkan wajah." keluhnya dengan bibir tersungging lemah.


Trisya tersenyum sinis.


'Akhirnya, kau merasakan apa yang aku rasakan dulu, begitulah perasaanku dulu Bryant, saat kau bersama wanita lain dan bermesraan di hadapanku. Jujur saat ini perasaanku cukup puas rasanya, melihat kecemburuan di wajahmu.'


"Trisya, aku ingin rujuk kembali dengan mu, tolong pertimbangkan lagi. Sekarang semuanya telah berubah, aku sudah mencintaimu, mari kita mulai semua dari awal." Bujuk Bryant.


"Terus saja bermimpi! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah kembali padamu." Trisya mendorong tubuh Bryant hingga menghasilkan jarak beberapa inci.


"Minggir, Zalia sendirian di rumah dia akan menangis." Trisya hendak memutar gagang pintu, namun perkataan Bryant menghentikan niatnya barang sejenak.


"Apa kau begitu membenciku?" lirihnya pelan.


Dia menjawab dengan ragu, "sangat, aku sangat membencimu."


"Apa dia akan membuatmu bahagia? Apa aku bisa percaya padanya?"


Trisya enggan menjawab, dia berlalu begitu saja meninggalkan Bryant dengan pertanyaan tanpa jawaban.


Trisya mencengkram dadanya yang tanpa alasan yang jelas, terasa sesak, '*ada apa denganku? Kenapa aku jadi begini?'


'Tidak mungkin aku kembali luluh karenanya, semua itu terlalu menyakitkan untuk di lupakan, sadarlah Trisya.'


"Mommy." Panggilan dari Zalia, menyadarkan Trisya dari lamunannya.


"Sayang Mommy udah mandi, maaf ya Mommy lama, sini Mommy sisirkan rambutnya." Trisya mendudukkan Zalia di sopa dengan posisi memunggunginya, dan mulai menyisir rambut sepinggang milik Zalia.


"Mommy...," panggilnya.


"Ya sayang?"


"Om tetangga itu orang baik, tolong jangan marah padanya," ucapnya pelan.


Trisya terdiam sejenak, dia menguncir rambut Zalia, dan memutar badan gadis itu agar menghadapnya.


"Zalia tahu darimana kalau Om tetangga itu orang baik, kalian sering bertemu?" Zalia menunduk takut, lantas mengangguk.


'Maaf om tetangga, Zalia tidak bisa lagi berbohong pada Mommy.' gumamnya dalam hati.


"Om tetangga sering datang ke-taman beramain di dekat sekolah Zalia, kata Om tetangga dia suka melihat anak kecil, itu membuatnya teringat anaknya sendiri."


"Om tetangga punya anak?" Trisya tampak terkejut pandangannya melebar sempurna.

__ADS_1


Zalia mendongak menatap Trisya dengan bola mata hitamnya yang jernih, dia mengangguk pelan, "hmh, dia bilang begitu. Anaknya perempuan seumuran aku, tolong jangan marah padanya Mommy, Om tetangga orang yang baik, dia bukan orang jahat."


'Bryant punya anak? Dasar brengsek, apa lagi anaknya seumuran Zalia, memang orang seperti dia tidak bisa di percaya, kata cinta yang keluar dari mulut buaya darat hanya sebuah kata kiasan semata.'


__ADS_2