
Marc mengalihkan pandangannya kearah lain, "apa benar Nona sudah tidak punya perasaan apapun terhadap Tuan?"
"Bahkan aku sendiri pun tidak tahu Marc, sebenarnya aku ini benci atau tidak padanya." Trisya menghela napas pelan.
"Kebencian, berasal dari kemarahan. Jika Nona masih marah pada Tuan, itu artinya Nona masih punya perasaan khusus untuknya."
Frang... suara benda terjatuh membuat Trisya dan Marc sontak menoleh, suara itu berasal dari kamar rawat Bryant. Marc seketika berlari masuk, di susul Trisya dan Zalia yang mengekorinya di belakang.
Tampak Bryant tengan di bantu duduk oleh Marc, "kenapa Tuan tidak memanggil saya saja." Gerutu Marc.
"Aku hanya ingin minum tadi, tapi tanganku malah tidak sengaja menyenggolnya jadi gelasnya jatuh, haish, jadi orang sakit itu menyusahkan," ucapnya, ouch... Bryant meringis pelan merasai nyeri dan perih di perutnya bekas jahitan yang belum kering.
Bryant memandang kearah Trisya, "apa Zalia baik-baik saja?" Agaknya dia tidak melihat Zalia yang sembunyi di belakang tubuh sang Mamah.
"Dia baik-baik saja, terimakasih sudah menyelamatkannya." Zalia muncul dari balik punggung Trisya, membuat Bryant tersenyum cerah, seolah rasa sakit lenyap seketika dari tubuhnya.
"Syukurlah. Zalia tidak papa kan?" Tanya Bryant.
Zalia menatap Trisya seolah meminta izin untuk mendekati Bryant, Trisya mengangguk pelan, membuat gadis kecil itu tersenyum lebar dan berjalan mendekat pada Bryant.
"Aku baik-baik saja Om, hanya masih sedikit takut," ucap Zalia sembari duduk dan menaruh dagu di pembaringan Bryant menatap Bryant dengan manik hitamnya.
Bryant mengusap kepala Zalia penuh kasih sayang, "jangan takut, Om ada di sini Mommy juga." Bryant tersenyum pada Trisya yang hanya di balas dengan pandangan datar olehnya.
"Apa itu sakit?" Pertanyaan Zalia merajuk pada luka yang di dapat Bryant di perutnya.
__ADS_1
"Tidak, Om ini kuat seperi Superman, jadi luka kecil ini tidak akan membuat Om kesakitan." Ucapnya penuh percaya diri.
Trisya mendengus pelan sembari membuang muka kearah lain, "lihat Mommy mu tidak percaya, mau Om buktikan kalau Om ini kuat?"
"Tidak, tidak, tidak perlu Om, Zalia percaya ko," tukasnya.
Bryant banyak bicara dengan Zalia mereka tampak akrab satu sama lain, "Tuan aku ada diluar, jika anda butuh sesuatu panggil saja."
Trisya hendak mengikuti langkah Marc, namun seruan dari Bryant menghentikan niatnya, "kamu mau kemana? Apa kamu tidak khawatir lagi meninggalkan Zalia bersamaku?"
"Kau sedang terluka, tidak ada yang perlu di khawatirkan, lagi pula ruangan ini terletak di lantai dua, kalau kau ingin menculik Zalia kau harus melompat melewati jendela dan itu hanya akan berakhir di akhirat." Jawab Trisya ketus.
"Astaga, kau kasar sekali, Zalia jangan dengarkan perkataan Mommy-mu. Tapi, kenapa aku harus melompati jendela, disini ada pintu, aku akan membawanya lewat pintu." Bryant menyeringai jahil.
Trisya memutar bola matanya malas, "aku hanya bercanda, aku juga punya seorang putri, jika aku ingin aku bisa mengambilnya, tapi tidak--," Bryant menjeda ucapannya, "dia lebih membutuhkan Ibunya di bandingkan Ayahnya."
Trisya berjalan mendekat ke arah samping tempat tidur Bryant dan meletakan nampan tersebut di atas nakas.
"Aku tidak menyangka ternyata kau sudah menikah lagi dan punya seorang putri, kapan itu terjadi?"
Deg... Jantung Bryant berdetak dengan cepat entah alasan apa yang harus dia buat sekarang.
'Sial, kenapa aku harus mengatakan itu tadi, Trisya pasti salah faham padaku. Tapi, aku juga tidak mungkin mengatakan padanya kalau aku tahu Zalia itu putriku.' gumam Bryant dalam hati.
"I-itu sudah lama, kami sudah bercerai lagi," gumam Bryant dia mengalihkan pandangan ke arah lain, takut jika Trisya mengetahui kebohongannya.
__ADS_1
"Oh, jadi semua yang kau katakan padaku juga bohong, kau bilang kalau kau mencariku ke setiap penjuru kota, ck ck, memang kau tidak dapat di percaya," Cibir Trisya, dia tersenyum tipis seraya berlalu, "makanlah agar kau cepat sembuh."
"Sial!" Decak Bryant, setiap langkah yang Ia ambil seperti pedang bermata dua.
Zalia menilik wajah Bryant dan punggung Trisya silih berganti, berusaha mencerna apa yang Ibu dan pria di hadapannya bicarakan.
'Sepertinya, Om dan Mommy memang sudah saling mengenal, tapi kenapa Mommy sangat benci sama Om tetanga, padahal dia baik?' otak kecil Zalia berputar berusaha mencari jawaban yang tepat.
"Zalia mau?" Tawar Bryant saat dia hendak makan makanan yang tersaji di meja kecil di hadapannya.
Zalia menggeleng pelan, "makanan Rumah sakit tidak enak," ucap Zalia sembari menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Kamu benar, ini tidak enak," keluh Bryant sembari memakan bubur di hadapannya dengan malas.
Ceklek...
Trisya menutup pintu perlahan, dia tampak tersenyum samar.
'Dasar pembohong, tapi entah mengapa kali ini aku cukup senang dengan kebohongannya. Anak yang dia bicarakan itu Zalia kan, aku tahu kau tak pernah menikahi wanita lain selama ini, tapi pertanyaannya mengapa? Apa benar kau sudah berubah? Apa Bryant yang dulu sudah benar-benar menghilang?'
"Nona sudah tidak khawatir lagi meninggalkan Nona kecil bersama Tuan?" Tanya Marc pada Trisya yang kini duduk di sampingnya, refleks dia bergeser memberi jarak beberapa centi agar tidak terlalu dekat dengan Trisya.
"Aku masih sedikit khawatir, tapi aku mencoba menekannya. Aku akan membiarkan Zalia bersama Bryant, tapi kau harus menjaga kepercayaanku, jangan pernah mencoba untuk merebut putriku dariku." Tegas Trisya.
"Aku berani menjamin, Tuan tidak akan melakukan itu, dia hanya ingin lebih dekat dengan Zalia, dan suatu hari dia ingin Zalia tahu bahwa Tuan adalah Ayah kandungnya. Bukan kepemilikan yang dia inginkan, tapi pengakuan."
__ADS_1
"Oke, aku akan ingat kata-kata mu hari ini!"