Mengandung Benih Sang Mantan!

Mengandung Benih Sang Mantan!
Bab 8 - Perpisahan


__ADS_3

'Aku benci hidupku, haruskah aku mengakhirinya?'


Trisya terbaring di atas ranjang dengan posisi meringkuk, tangis tak kunjung reda, bibirnya bergetar pelan.


'Apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku menghabisinya? Mencegahnya lahir ke-dunia.' Pikiran Trisya meracau kemana-mana.


Hingga keesokan harinya Trisya terjaga, pupil matanya membengkak karena air mata yang terus saja tak ingin berhenti.


"Benar, hanya itu jalan satu-satunya. Aku tidak ingin anak ini lahir ke-dunia ini." Trisya bangkit dan mengenakan jaket, dia berlalu meninggalkan kediamannya menuju toko obat terdekat.


"Nona, hati-hati obat ini cukup keras. Jika anda mengkonsumsinya secara berlebihan itu akan membahayakan anda, apa lagi jika anda tengah hamil." Ujar sang apoteker.


"Baiklah terima kasih. Saya akan berhati-hati." Ucap Trisya seraya berlalu.


Trisya berjalan kembali pulang, kali ini dalam tempo pelan, kakinya seolah memberat, dia berjalan di belakang sepasang Ibu dan anak yang tengah berceloteh sembari berjalan.


"Mom, ujian-ku dapat nilai sempurna!" ucap anak itu pada Ibunya.


"Wah benarkah?! Ibu sudah bilang kau pasti bisa, anakku yang terbaik! Tapi nak, jangan terlalu memaksakan diri, hidup itu tidak selalu harus sempurna." Ujar sang Mama.


"Iya Mom, tapi aku ingin Mom bangga padaku." Ujar sang anak.


"Seperti apa-pun kamu, kamu adalah kebanggaan Mommy sayang, selalu ingatlah itu!"


Deg...Deg...


Trisya menatap botol obat di genggaman tangannya, lantas mengusap perutnya.


'Tidak, apa yang aku lakukan? Walau bagaimana pun, dia adalah anakku. Ada dan tidaknya seorang pria dalam hidupku, aku akan melahirkan dan membesarkan-mu, Nak!" Trisya bertekad dalam hati.


Trisya mengetik sebuah pesan di gawai-nya. "Jo, mari kita bertemu. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."


Siang harinya, Trisya bertemu dengan Jo di sebuah kafe tak jauh dari kediaman Trisya.


"Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba ingin bertemu denganku?" tanya Jo sembari menyesap cangkir kopi miliknya.


Trisya menghela napas berat sembari menunduk, "Jo, maafkan aku... Sepertinya, aku tidak bisa melanjutkan pernikahan kita."


Senyuman di wajah Jo perlahan pudar, "apa yang kau katakan? Apa aku salah dengar?"


"Tidak Jo, kau tidak salah dengar. Mari kita batalkan pernikahan ini." Trisya mempertegas perkataannya.

__ADS_1


Jo bangkit dengan kasar, "tidak, aku tidak mau! Katakan dulu padaku alasannya!" ucap Jo setengah berteriak, membuat pengunjung lain menoleh kearah mereka.


"Jo tenanglah, baiklah aku akan menceritakan semuanya padamu." Jo duduk kembali dengan wajah gusar.


Trisya mengatur napasnya, mempersiapkan diri untuk berkata jujur, "aku hamil Jo, aku hamil anak mantan suami-ku."


Mata Jo melebar sempurna, dia melotot tak percaya, "bagaimana bisa?" dia tampak kecewa.


"Ini terjadi saat hari aku memintamu menjemput-ku, aku di culik dan di perkosa olehnya. Maafkan aku Jo, aku tidak jujur padamu sebelumnya, aku benar-benar minta maaf."


Jonatan mendengus kasar, kekecewaan nampak jelas di wajahnya, dia mengusap wajahnya gusar, hatinya sakit mendengar Trisya mengatakan itu.


"Jo--," Trisya hendak berucap kembali, namun Jo menghentikan Trisya dengan gerak tangannya, dia bangkit lantas berlalu.


"Maafkan aku, Jo. Seperti ini mungkin lebih baik!"


Trisya melangkah menyusuri jalan, dia di kejutkan dengan suara pertengkaran, tak jauh dari tempat dia saat ini berada.


"Aku bilang, aku ingin putus! Aku sudah muak padamu, Ben!"


"Ben?! Apa itu Jessy?" Trisya mempercepat langkahnya.


Benar saja itu Jessy, dia tengah bertengkar dengan kekasihnya yang bernama Ben.


"Kau gila, kau sudah punya anak dan Istri. Aku tidak ingin menjalin hubungan dengan pria beristri!" Jessy menghempaskan tangan Ben yang menggenggam tangannya.


"Aku akan segera menceraikan Istriku!"


Jessy mendengus kasar, "kau gila hah? Pria macam apa kau ini? Hari ini hubungan kita berakhir!" tegas Jessy, dia hendak berlalu. Namun, Jo kembali menarik lengan Jessy dan mencengkeramnya.


"Aku tidak mau kita putus! Aku mencintai kamu Jes! Aku akan melakukan apa-pun yang kau minta!"


"Lepaskan aku brengsek! Aku tidak sudi berhubungan dengan bajingan sepertimu!"


"Kau menguji kesabaran ku, Jes!" Ben mencengkram lengan Jessy, dan memelintirnya kebelakang.


"Ben, lepaskan Jessy!" teriak Trisya, keadaannya sudah mulai diluar kendali.


"Pergilah, jangan so-ikut campur!" Ben melotot tajam.


"Jessy adalah sahabatku, masalahnya adalah masalahku juga." Trisya balas menatap mata Ben.

__ADS_1


Ben mendengus tawa, "jika aku tidak bisa memilikimu, Jes. Maka orang lain pun tidak bisa."


Trisya melebarkan matanya, saat melihat Ben mengeluarkan sebilah pisau dari saku belakang celananya. Dia meletakan benda tajam itu tepat di leher Jessy, membuat tubuh gadis 22 tahun itu gemetar ketakutan.


"A-apa yang akan kau lakukan? B-ben, i-itu sangat berbahaya." Tubuh Jessy gemetar.


Dia tersenyum smirk, "Jessy ku tersayang jangan takut, aku akan melakukannya dengan cepat, kau tidak akan merasakan sakit terlalu lama."


"To-tolong lepaskan aku, Ben." Ucap Jessy dengan bibir bergetar.


Trisya melangkah pelan hendak mendekat kearah Ben dan Jessy, "diam di situ, atau aku akan menghabisinya sekarang juga!" Bentak Ben dengan pandangan tajam.


Seketika langkah Trisya terhenti di tengah jalan, Jessy menangis dia menatap Trisya dengan pandangan putus asa.


"Teruslah berusaha mengulur waktu, Nona. Tim kami akan segera datang kesana!" Suara di telinga Trisya membuat dia sedikit memiliki keberanian.


"Ben! Kau bilang kau mencintai Jessy, tapi kenapa kau tega melukainya?" Ben kembali menatap kearah Trisya.


Leher Jessy nampak berdarah, dia menangis ketakutan, "B-ben lepaskan aku, ku mohon," lirihnya pelan.


"Maafkan aku Jes, tapi aku tidak bisa jika melihatmu bersama Pria lain. Bahkan dalam bayanganku pun aku benci, lebih baik kau pergi selamanya!" dia mencium pipi kanan Jessy.


"Hey kau, nama-mu Trisya kan? Kau pasti yang sering mempengaruhinya kan? Hingga dia ingin putus denganku!"


"Ya benar, itu aku! Kau bedebah gila, kau tak pantas menjadi kekasih Jessy!" Ujar Trisya dengan mata menyalang tajam.


"Dasar wanita sialan!" teriaknya dengan tatapan berkobar penuh kemarahan.


"Jes, sekarang!" Teriak Trisya.


Jessy menginjak kaki Ben dan menyikut pinggangnya, hingga dia terlepas dari Kungkungan pria itu. Ben mundur beberapa langkah kebelakang, membuat Jessy punya kesempatan untuk lepas dari cengkraman Ben.


Jessy menyeret tubuhnya menghampiri Trisya, dia menghambur memeluk Trisya, dengan tubuh bergetar.


"Tidak papa, kau tenanglah semua akan baik-baik saja." Trisya mengusap punggung Jessy memberinya ketenangan.


"Cih, dasar wanita sialan!" Ben berlari dengan bilah pisau di tangannya, namun suara tembakan menghentikan langkahnya, dia jatuh tersungkur dengan kaki berdarah.


Trisya mengembuskan napas lega, akhirnya polisi datang tepat waktu dan Ben pun di tangkap dan di bawa ke-kantor polisi.


Jessy masih nampak terguncang, air mata terus saja mengalir dari kedua sudut matanya.

__ADS_1


"Tenanglah, semua sudah baik-baik saja, kau terbebas sepenuhnya dari Ben. Aku harap dia di penjara seumur hidup!"


__ADS_2