Mengandung Benih Sang Mantan!

Mengandung Benih Sang Mantan!
Bab 21 - Tidak seperti dia


__ADS_3

"Aku tahu, aku yang salah, aku benar-benar minta maaf, tapi Trisya kali ini meskipun kamu mengusirku, aku tidak akan pergi, tidak akan pernah." Jawab Bryant.


"Dasar keras kepala! Terserah kau saja, aku tidak peduli."


"Terima kasih!" Jawab Bryant dengan senyum tersemat di bibirnya.


Trisya menatap tak percaya, dia meremas kaleng tersebut dan melemparnya ke-sudut balkon, tanda bahwa dia tidak bersikap ramah sama sekali, namun lagi-lagi Bryant hanya tersenyum, entah dari mana dia mendapat kesabaran sebanyak itu, dia jauh berbeda dari Bryant yang Trisya kenal dulu.


Trisya pergi mengabaikan Bryant yang masih berdiri di luar, menikmati langit malam tanpa bintang, di temani semilir angin dengan lampu-lampu bangunan sekitar yang menyala.


'Aku tidak mengerti mengapa dia berubah jadi begitu, apa cinta yang merubahnya? Hmh, rasanya itu tidak mungkin, Bryant yang dulu tidak mengerti apa itu cinta, dia hanya mengikuti apa yang dia inginkan dan apa yang dia senangi.' Batin Trisya.


flashback.


"Mengapa kau selalu minum? Itu merusak kesehatanmu." Ucap Trisya sembari membetulkan posisi kaki Bryant yang terjuntai ke lantai.


"Karena aku tidak ingin melihat kamu dalam keadaan sadar, hehe." Jawab Bryant begitu saja.


"Kenapa kau tidak pergi saja, padahal aku sudah sering mengusir-mu, wanita sepertimu tidak cocok menjadi istriku, kau bagai duri dalam kehidupanku, sangat mengganggu," Bryant terkekeh dengan mata terpejam, mabuk membuatnya seperti orang tidak waras.


"Entah apa yang keluargaku lihat dari wanita sepertimu, kau sedikit-pun tidak ada dalam daftar tipe wanita ideal Bryant Maverick, dada-mu rata, bokong-mu kecil, bahkan kakimu seperti kaki ba*bi." Bryant meracau tak karuan.


"Dasar sialan! Aku memeng tidak cantik, tapi jangan samakan aku dengan ba*bi!" teriak Trisya geram, dia menghempaskan kaki Bryant kembali dan berlalu pergi.


"Dasar sialan, dia pikir aku senang tinggal disini? Aku juga menderita setiap waktunya, aku lelah menghadapi sikap dia yang begini, seharusnya sejak awal aku tidak menerima perjodohan sialan ini, aku menyianyiakan hidupku demi pria kurang ajar ini, bahkan dia menghinaku tanpa ragu, apa seperti ini sebuah pernikahan?" Trisya memejamkan mata, menekan segala rasa yang timbul di hatinya.

__ADS_1


Siang harinya, seperti biasa Trisya datang ke-rumah keluarga Bryant tanpa sepengetahuannya, hubungan Trisya dan Ayah Bryant memang cukup baik, maka itulah keluarganya menjodohkan mereka.


"Trisya, kamu sudah datang, kemarilah Ayah sedang menikmati sinar matahari, rasanya membuat tubuh Ayah kembali bugar." Ucap Tuan Austin ayahnya Bryant.


"Ayah matahari di jam begini sudah tidak bagus untuk kesehatan, ayo Trisya antar ayah kedalam." Trisya mendorong kursi roda yang di duduki Tuan Austin memasuki rumah.


"Ayah ingin makan sesuatu? Biar aku buatkan."


"Tidak, Ayah tidak ingin apa-pun, lagi pula disini ada banyak pelayan, Ayah bisa meminta apa-pun yang Ayah inginkan," ucap Tuan Austin, senyuman yang terukir di bibirnya menghadirkan kerutan di sekitar mata, usia yang tak lagi muda terlihat jelas dari wajahnya.


"Bagaimana hubunganmu dengan Bryant?" Trisya menunduk, jemarinya saling meremas satu sama lain.


"Semuanya baik-baik saja, Ayah. Anda tidak perlu khawatir, sebaiknya anda pikirkan kesehatan anda." Jawab Trisya disertai senyuman.


"Syukurlah jika begitu, tapi Nak, jika ada masalah apa-pun ceritakan-lah pada Ayah, tidak usah ragu atau pun sungkan tangan Ayah terbuka lebar untukmu."


"Baik Ayah!"


Trisya pulang dengan langkah pelan, langkahnya kian memberat saat mendekati pintu apartemen, dia menghela napas berat lantas membukanya.


Suara tawa pelan terdengar dari arah kamar Bryant, "tumben dia pulang di jam begini?" gumam Trisya sembari mendekat.


Suara itu semakin jelas di rungu Trisya, suara laki-laki dan perempuan, deg...deg... Jantung Trisya berdetak kencang, apa mungkin Bryant sampai hati membawa wanita lain kedalam rumah mereka?


Trisya menelan saliva, dia mengulurkan tangan mendorong sedikit pintu yang tak tertutup rapat tersebut, Trisya memekik namun dengan segera dia menutup mulutnya dengan telapak tangan, matanya melebar sempurna saat melihat kenyataan menyakitkan terpampang nyata di depan mata.

__ADS_1


Bryant dan wanita itu tengah duduk bersandar di kepala ranjang dengan tubuh telanjang, hati Trisya amat sakit rasanya. Pertahanan yang semula Ia bangun runtuh seketika, awalnya dia tak percaya pada perkataan orang lain, ada orang yang bilang Bryant sering tidur bergonta-ganti pasangan, namun Trisya memilih untuk mengabaikan perkataan orang lain jika dia tidak menyaksikan sendiri kejadian itu, namun sekarang kenyataan itu begitu menyakitkan saat dia menyaksikannya dengan mata kepala sendiri.


Trisya menyeret tubuhnya dengan langkah gontai menuju kamarnya, dia mengunci pintu dan duduk di lantai mendekap lutut dengan tubuh bergetar.


Sakit rasanya, seakan hatimu di tusuk ribuan jarum. Meski sebisa mungkin Trisya berusaha untuk tidak jatuh cinta pada pesona Bryant Maverick, namun seiring berjalannya waktu perasaan itu pun timbul begitu saja tanpa di minta, sekuat apa pun Trisya berusaha menolak, seakan nama Bryant punya tempat sendiri disana.


Sampai esok hari posisi Trisya masih tetap sama, bahkan dia tertidur dalam posisi ini. Dia mendongak pelan, wajahnya sembab pun dengan matanya tampak membengkak. Dia menatap jam yang tergantung di dinding, waktu sudah menunjukan pukul 10:00 PM. Waktu ini Bryant pasti sudah berangkat bekerja, Trisya bangkit dan membasuh wajah di whastapel. Dia menatap pantulan wajahnya di cermin.


'Trisya, ini salahmu sendiri, kau yang telah memberikan hatimu pada Pria seperti Bryant, maka terimalah konsekuensinya.' Trisya menghela napas berat.


Setelah bisa menguasai diri Trisya keluar dari kamar karena perutnya lapar, diluar dugaan ternyata Bryant tengah duduk di meja pantry dengan segelas jus di hadapannya.


Trisya berlalu melewatinya berusaha mengabaikan keberadaan Bryant di ruangan itu, "kau melihatnya kan?"


Trisya menghentikan langkahnya sejenak, "aku tidak mengerti maksudmu," jawab Trisya sembari melanjutkan niatnya semula, dia mencari-cari bahan makanan yang bisa Ia buat tanpa berlama-lama, dan pilihannya jatuh pada satu cup mie instan.


"Kemarin saat aku bersama wanita itu di dalam kamar," Trisya memejamkan mata, hatinya kembali sakit mendengar perkataan seperti itu secara gamblang Bryant utarakan padanya, jujur Trisya berharap Bryant menutpinya, dan berkata, Trisya, apa yang kamu lihat itu tidak benar, itu hanya sebuah kesalahfahaman tolong percayalah padaku! Seandainya kata itu yang keluar dari mulut Bryant, mungkin, Trisya akan mengabaikan segala fakta yang ada dan memilih untuk percaya pada Bryant. Namun, lagi-lagi Trisya hanya berandai-andai saja.


"Aku tidak tahu, saat aku pulang aku langsung masuk ke-kamar, aku tidak melihat apa-pun." Dalih Trisya, dia menyalakan api kompor untuk memasak Mie di atas panci.


Bryant mendengus seraya tersenyum, "mari kita bercerai, rasanya hubungan ini tidak berguna aku tidak bisa menumbuhkan rasaku untukmu."


Tubuh Trisya limbung, tangannya bergetar sendok yang ia genggam hampir terjatuh karenanya, dia bertumpu pada meja dengan sebelah tangan.


"Kita hanya akan terus terluka jika mempertahankan pernikahan ini, sejak awal kita tidak cocok Trisya, kau dan aku seperti dua sisi yang berlawanan, tidak akan pernah searah. Jadi, aku sudah memutuskan untuk bercerai darimu, aku sudah melayangkan gugatan cerai ke-pengadilan, mari kita bercerai secara baik-baik!"

__ADS_1


__ADS_2