Mengandung Benih Sang Mantan!

Mengandung Benih Sang Mantan!
Bab 27 - Salah faham


__ADS_3

"Dasar brengsek! Dia sudah punya anak, astaga!" Trisya berjalan mondar-mandir di kamarnya, sesekali dia berhenti sembari mendesah pelan.


"Dia sudah punya anak tapi masih minta aku kembali padanya, dasar keparat. Aku benar-benar ingin menghajarnya." Trisya mengepalkan tinjunya.


Trisya menghempaskan tubuhnya ke-ranjang, hatinya benar-benar merasa tak karuan, dia memejamkan mata mencoba untuk tidur, tapi tak berhasil. Dia berguling kesana kemari mencari posisi yang nyaman, namun hasilnya tetap sama.


"Ah sial, aku tidak bisa tidur." Keluhannya sembari bangkit.


Trisya keluar untuk mencari udara segar, dia melirik pintu rumah Bryant yang tertutup rapat, entah mengapa melihat pintunya saja membuat hatinya kesal.


Trisya berjalan-jalan di sekitar, namun itu tak membuat gelisah di hatinya mereda.


"Trisya sedang apa disana?" seruan itu membuat Trisya seketika mendongakkan kepalanya ke arah suara itu berasal. Ternyata itu Bryant, dia berdiri di balkon rumahnya menilik Trisya dari sana.


Trisya memalingkan wajah, dia tak ingin melihat sumber kekesalannya berasal.


"Masuklah, cuacanya dingin," tegurnya lagi, namun tak di hiraukan Trisya. Dia malah duduk di kursi besi sembari menikmati minuman kalengan yang ia bawa.


Bryant berdecak sembari masuk kembali kedalam, Trisya melirik gerakan Bryant dari ujung matanya. Entah apa yang dia rasakan saat ini, Trisya sendiri tak mengerti, mengapa hatinya tak suka saat mendengar Bryant punya anak dari wanita lain.


Trisya menghela napas berat, dia mencengkram dadanya yang terasa sesak, mungkinkah masih ada rasa yang tersisa untuk pria ini?


'Tidak Trisya, jangan lagi. Jangan kau berikan lagi hatimu untuknya, apakah tidak cukup luka yang dia berikan padamu?' Trisya memejamkan matanya sekilas.


"Kau harus memakai jaket, nanti kau masuk angin." Suara dan sentuhan yang Trisya kenali seketika membuat matanya terbuka. Dia kini mengenakan jaket, agaknya Bryant yang memakaikannya, pria itu hendak kembali berlalu.


"K-kau mau kemana?" tanya Trisya gugup. Bryant yang hendak kembali masuk seketika menghentikan niatnya, dia berbalik menatap Trisya dengan kedua tangan di masukan ke saku celananya.


"Aku akan masuk lagi, aku tahu kau tidak suka berdekatan denganku, jadi aku akan menjaga jarak denganmu. Maaf, jika kehadiranku sangat mengganggu, aku--," perkataan Bryant seketika di potong Trisya.


"Apa tidak ada yang ingin kau jelaskan padaku?"


Hah? Bryant menatap dengan pandangan bingung.


"Menjelaskan apa?"


Trisya mendengus kasar, "kau sudah punya Istri dan anak, tapi kau masih mengejarku sampai kemari, tidakkah kau malu pada perbuatanmu?"


"Anak dan Istri, kapan aku menikah lagi?" Bryant bermonolog.

__ADS_1


"Jangan pura-pura bodoh, Zalia mengatakan padaku bahwa kau sering datang ke taman bermain dekat sekolahannya, dia bilang kau orang baik dan kau mendekatinya karena teringat anak-mu sendiri. Hmh, pria bajingan memang tidak bisa berubah." Trisya bangkit dia meremas kaleng minuman yang sudah kosong itu dan melemparnya ke tong sampah.


"Trisya, itu tidak seperti yang kau pikirkan, aku hanya--,"


"Menjauhlah dari hidupku dan putriku, kau sama sekali tidak punya tempat dalam hidup kami!" Trisya berlalu dengan cepat, dengan segera Bryant berlari mengejarnya.


"Trisya tunggu, itu hanya salah faham. Biarkan aku menjelaskannya."


Brak...!!


Trisya menutup pintu dengan kasar, meninggalkan Bryant yang masih saja bergumam di depan pintu.


"Cukup sudah, aku tidak ingin merasakan sakit hati lagi. Aku membencimu Bryant, sangat membencimu.


...----------------...


Dering ponsel membangunkan Trisya dari lelapnya.


"Halo," ujarnya dengan suara serak khas bangun tidur.


"T-trisya, i-ini aku Jessy, B-ben, di-dia sudah keluar dari penjara, di-dia mengancamku. Di-dia bilang akan menghabisiku, a-aku sangat takut." Ucap Jessy dengan nada gugup dan ketakutan.


Seketika Trisya tersedar sepenuhnya lantas duduk, "tenanglah dulu, dia mengancammu lewat telpon?"


"Dengarkan aku, untuk sementara ini jangan keluar rumah, mungkin Ben sedang menunggumu di suatu tempat. Kunci pintu, jendela dan jangan biarkan siapa pun masuk dan selalu kabari aku setiap satu jam, oke!"


"Baiklah, terimakasih Trisya. Bicara denganmu membuatku sedikit lebih tenang."


"Sama-sama, aku tutup dulu telponnya."


"Kasihan Jessy, gara-gara orang itu hidupnya menjadi tidak tenang. Tapi, bagaimana dia bisa keluar secepat ini? Sungguh mengesalkan, seharusnya dia di jatuhi hukuman penjara seumur hidup." Rutuk Trisya kesal.


Dia bangkit dan membasuh muka, lanjut membereskan rumah dan membuat sarapan, kemudian membangunkan Zalia.


"Sayang, bangun nak, nanti kesiangan berangkat sekolahnya." Ucap Trisya sambil mengusap kepala Zalia penuh kasih sayang. Hari ini Trisya akan mengantarkan Zalia sendiri, karena anak Bibi Merry masuk rumah sakit jadi dia tidak datang bekerja.


"Aku masih ngantuk, Mommy," gumamnya pelan dengan tubuh menggeliat.


Trisya mendengus senyum, "mau sampai kapan tidurnya, ini udah siang lo, nanti kamu telat."

__ADS_1


"Lima menit lagi."


"No, kamu harus bangun sekarang." Trisya menarik lengan Zalia membuatnya duduk tegak.


"Ayo, anak Mommy harus semangat, jangan males kaya gini, buruan mandi."


Setelah menyiapkan Zalia, Trisya juga bersiap kemudian mereka sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat.


"Anak Mommy ko loyo gitu? Semangat dong, kan mau ketemu Arzan," ledeknya.


"Mommy apaan sih," keluh Zalia dengan wajah mematut lucu.


Trisya hanya tersenyum menanggapinya. Trisya menuntun Zalia turun bersama, seperti biasa dia akan menunggu Taksi jemputannya di depan apartemen.


Saat mereka tengah menunggu, tiba-tiba seseorang merampas Zalia dari genggaman Trisya.


"Zalia!" Pekik Trisya saking terkejutnya.


Trisya melebarkan matanya, saat mendapati siapa yang telah merenggut putrinya dari lengannya sendiri.


"B-ben! Le-lepaskan putriku," teriak Trisya histeris, dia tahu betul orang macam apa Ben itu. Dia tidak akan segan melukai siapa-pun yang membuatnya kesal.


"Halo Trisya, lama tidak berjumpa. Jadi ini putrimu?" Ben menilik wajah Zalia dengan seksama.


"Mommy," isak Zalia, dia mencoba melepaskan diri namun Ben mempererat cekalannya, dia mengeluarkan sebilah pisau dari saku celananya, dan menodongkan senjata tajam itu di leher Zalia, memposisikan gadis kecil itu membelakanginya, dengan tangan melingkari dadanya.


"Tidak, tidak Ben, jangan lakukan itu. K-kau, baru saja keluar penjara kan, kalau kau melakukan itu kau akan kembali masuk kesana." Wajah Trisya pucat pasi, dia takut sagat takut.


Ben mendengus kasar, "dasar wanita sialan, gara-gara kau Jessy-ku, membenciku dan menikah dengan pria lain, kau harus merasakan akibatnya!"


"Aah, Mommy tolong!" jerit Zalia semakin ketakutan.


"Tolong jangan sakiti putriku," Trisya memohon dengan sangat.


Tanpa terasa banyak orang mulai berkerumun, namun tak ada satupun yang berani mendekati dan menyelamatkan Zalia karena Ben memiliki senjata tajam.


"Lepaskan Zalia!" Suara seorang Pria menyeruak dari arah belakang, dia kini berdiri di samping Trisya yang jatuh terduduk di teras semen itu.


"Bryant, tolong selamatkan Zalia," lirih Trisya dengan derai air mata.

__ADS_1


"Percayalah padaku, aku tak akan memberikan Zalia terluka walau seujung kuku sekali pun." Bryant menepuk pundak Trisya menenangkan.


"Aku percaya padamu."


__ADS_2