
Trisya tersenyum pelan, "aku percaya, ayo lanjutkan pekerjaanmu." Trisya menjawab begitu agar Edwin tak lagi bicara yang tidak-tidak, dan mengakhiri percakapan yang menurutnya sangat memalukan.
Sore hari, saat jam pulang kantor tiba, Trisya tengah bersiap untuk pulang, pun dengan yang lain.
"Trisya, ayo kita pulang bersama," seruan itu membuat Trisya sontak menoleh, yang lain hanya memalingkan wajahnya, pun dengan Edwin, walau dia tak suka pada Bryant namun dia tak dapat berbuat apa-apa, karena selain mantan suaminya Trisya, Bryant juga adalah Bos-nya.
"Tidak papa Pak, saya bisa pulang sendiri," jawab Trisya, sekaligus sebuah penolakan secara halus.
"Kenapa harus pulang sendiri, kita tinggal di gedung apartemen yang sama. Trisya, apa kau ingin menolakku di depan orang banyak, kau tahu ini sangat memalukan," ucap Bryant setengah berbisik.
Trisya mendengus pelan, "kalau kau tahu ini memalukan, kenapa kau selalu melalukan itu, padahal jelas-jelas kau tahu aku pasti akan menolak ajakan-mu." Trisya mengeluh kesal.
"Baiklah, tapi apa kau tidak ingat kalau hari ini Zalia ulang tahun?" Seketika Trisya tertegun, dia mencari dalam ingatannya tentang hari ini. Dan benar saja, hari ini hari ulang tahun Zalia, bagaimana bisa dia melupakannya.
"Bagaimana kau tahu kalau hari ini hari ulang tahun Zalia?"
"Sebaiknya kita bicara di jalan, ayo!" ajaknya, Bryant menarik tangan Trisya agar mengikutinya, dia mengabaikan tatapan semua orang yang mengarah padanya, seolah dia lupa kalau di tempat itu masih banyak orang lain yang masih tinggal.
"Apa kau lihat itu?" Ucap Liana, dia, Dion dan Edwin menatap kepergian Trisya dan juga Bryant dengan pandangan datar, "apa kau pikir kau masih punya harapan bisa bersama Trisya? Bahkan di bandingkan Pria itu kau masih kalah jauh, bagaimana mungkin Trisya akan memilihmu di saat ada seseorang yang sempurna yang sangat mencintainya sebesar itu, lebih baik kau cepatlah sadar sebelum semuanya terlambat." Ucap Liana, meski Dion terus menyikut lengannya memberinya isyarat agar bicara tidak terlalu keras pada Edwin, wanita itu tak menghiraukannya sama sekali, dia tetap menuntaskan kata-katanya.
__ADS_1
"Aku tahu, aku cukup sadar siapa aku. Tapi, setidaknya dia tahu kalau aku menyukainya, walau mungkin harapanku hanya sebesar satu persen saja," ungkapnya, Edwin menghela napas pelan, kemudian bangkit.
"Jika dia yang Trisya inginkan, aku akan mendoakan kebahagiaan untuknya dengan segenap hatiku. Huah... Tubuhku sangat lelah, aku ingin mengambil cuti beberapa hari dan pergi berlibur," ujarnya seraya berlalu.
Dion bangkit, "aku tidak menyangka kau punya hati se-lapang itu sobat, aku bangga padamu!" ucap Dion sembari menepuk pundak Edwin.
Edwin menghempaskan tangan Dion dengan tampang kesal, "jangan mengatakan hal menggelikan begitu, brengsek!" ucapnya sembari berlalu.
"Woy sialan! Aku bersimpati padamu, dasar menyebalkan." Dion merutuki punggung Edwin yang perlahan menjauh.
"Sudahlah Honey, kau tahu dia itu begitu, jadi abaikan saja. Lagi pula dia masih marah soal kita yang jadian tanpa sepengetahuannya," ujar Liana menenangkan kemarahan Dion.
***
"Apa susahnya mencari tahu tanggal lahir putriku, ayolah Trisya dari pada memikirkan hal yang tidak perlu, lebih baik kita pikirkan hadiah apa yang di inginkan Zalia."
Trisya terdiam, menimbang usulan Bryant, "baiklah kau benar, apa ya yang Zalia inginkan, aku sudah memberikan semuanya selama ini," gumam Trisya, otaknya berpikir keras.
"Benarkah, apa kau yakin sudah memberikan semuanya pada Zalia?" Perkataan Bryant membuat Trisya ragu, namun juga penasaran menurut hatinya dia sudah memenuhi setiap keinginan Putrinya tanpa terkecuali.
__ADS_1
"Aku cukup yakin, aku sudah mengabulkan setiap permintaan yang dia katakan padaku," Trisya meyakinkan diri.
"Apa kasih sayang keluarga juga sudah kau berikan?" Trisya menoleh seketika dengan mulut terkatup rapat.
"Itu sesuatu yang berbeda, kau tidak bisa mengkategorikan hal itu dengan permintaan," ujar Trisya membuang muka.
"Baiklah, tapi hari ini aku ingin membawa kalian menemui Kakek, apa kau mau?" Trisya menoleh kembali dengan pandangan melebar.
"Kakek ada disini?"
"Ya dia disini, aku juga terkejut karena Kakek tiba-tiba datang tanpa memberitahuku lebih dulu."
"Apa dia tahu soal Zalia?"
"Ya, dia tahu, mungkin karena itu juga dia datang." Ujar Bryant, pandangannya masih terfokus ke jalanan.
"Lalu, apa Papah juga datang?"
Bryant menggeleng pelan, "kau tahu kondisinya, lagi pula setelah kau pergi dia tak ingin lagi bertemu denganku, setiap kali aku datang ke-rumah dia selalu menyuruh pelayan untuk mengusirku."
__ADS_1
"Begitu ya, kau sangat beruntung karena punya keluarga sebaik mereka," Trisya tersenyum miris jika mengingat nasibnya yang tragis.
"Mereka juga keluargamu, dulu mau pun sekarang, Trisya, jadi jangan menganggap dirimu sendirian. Kami selalu bersamamu." Bryant menggenggam tangan Trisya, diluar dugaan wanita itu sama sekali tak menolak, membuat Bryant cukup senang dan membiarkan tangan mereka saling bertautan.