Mengandung Benih Sang Mantan!

Mengandung Benih Sang Mantan!
Bab 32 - Naluri


__ADS_3

"Trisya, ugh...," Bryant mencengkeram perutnya yang kembali merasakan sakit. Karena dia berjalan cukup cepat mengejar Trisya yang menaiki tangga.


Seketika Trisya menoleh, pun dengan Zalia, langkah mereka terhenti di depan pintu masuk.


"Aku minta maaf, aku memang terlalu berlebihan, aku tidak akan memaksa melakukan sesuatu tanpa seizin-mu, tapi apa aku masih boleh bertemu Zalia?" tatapan Bryant penuh harap.


"Dimana Marc?" Trisya tak menjawab dia malah menanyakan keberadaan Marc sang asisten pribadi Bryant, sekaligus tangan kanannya yang serbaguna.


"Dia ada urusan, jadi dia sudah pergi."


"Dia meninggalkanmu sendiri dalam keadaan begini?" Trisya menatap tak percaya.


Bryant tersenyum lemah, "aku baik-baik saja, aku bisa mengurus diriku sendiri," dalih Bryant.


Trisya mendengus kasar, "ya sudah kalau begitu," Trisya membuka pintu dan membawa tubuhnya separuh memasuki rumah lantas kembali berkata, "kamu masih boleh bertemu Zalia." ujarnya, Brak...! dia menutup pintu dengan kasar, Bryant hanya mengedipkan matanya beberapa kali dengan tubuh mematung, pikirannya mencerna perkataan Trisya dengan lambat.


Bryant melangkah gontai memasuki rumahnya, tangannya bertumpu pada dinding yang di lewatinya, dia membaringkan diri di atas sofa, rumahnya terasa sepi sungguh nelangsa rasanya. Mungkin seharusnya Bryant terima saja tawaran Marc untuk menempatkan pelayan di rumah ini.


Tanpa terasa Bryant pun terlelap, hingga pukul 19:00 suara ketukan pintu membuat tidurnya terusik.


Tok...Tok...


"Sebentar," ucapnya dengan suara serak khas bangun tidur. Bryant bangkit, dan berjalan dengan langkah pelan menghampiri pintu.


Ceklek... Pintu pun terbuka, menampakkan Zalia yang berdiri di depan pintu, "ada apa?" tanya Bryant lembut.


"Mommy kelebihan memasak, dia menyuruhku memanggil Om untuk makan malam." Ucapnya dengan wajah polos, bulu mata lentiknya bergerak pelan, serta bola mata hitam pekatnya menatap Bryant dengan pandangan lucu.

__ADS_1


"Benarkah, terimakasih kalau begitu. Kebetulan perut Om sangat lapar," ucapnya senang. Bryant menutup pintu dan berjalan mengekori Zalia.


Tampak, Trisya tengah menata makanan di atas meja sambil memakai celemek berwarna merah muda, matanya melirik Bryant sekilas kemudian kembali pada aktivitasnya lagi.


"Mommy, Om bilang dia sangat lapar!" ucap Zalia penuh semangat, dia duduk di atas kursi tempat biasa dia berada, pun dengan Bryant dia sudah tampak duduk manis di salah satu kursi kosong yang tersedia.


"Terimakasih sudah mengundangku makan malam, aku sangat bahagia."


"Jangan terlalu banyak berpikir, aku melakukan ini hanya karena rasa terimakasihku padamu karena sudah menyelamatkan putriku," pungkas Trisya, sembari mendudukkan diri di kursi.


Bryant tersenyum pelan, "tidak papa, walau begitu aku tetap merasa senang, lagi pula aku sudah menganggap Zalia seperti putriku sendiri," Bryant mengusap kepala Zalia lembut, membuat gadis kecil itu tersenyum kearahnya.


"Walau begitu tetap saja kau orang lain bagi kami, aku akan bertanggung jawab untuk makananmu selama kau sakit." Bryant hanya tersenyum sebagai jawaban.


Trisya mengunyah makanannya perlahan, dia memperhatikan keakraban yang terjadi antara Bryant dan Zalia.


'Seandainya Zalia tahu kalau Bryant itu Ayah kandungnya, apa yang akan dia lakukan? Apa dia akan menerima Bryant? Selama ini aku tak pernah sekalipun menceritakan tentang siapa Ayah kandungnya, dan dia pun tidak pernah bertanya, putriku sungguh anak yang sangat baik.'


"Apa? Mommy tidak suka sayur? Tapi kenapa Mommy selalu memaksaku memakannya, aku juga tidak suka," keluh Zalia dengan wajah mematut.


"Siapa bilang Mommy tidak suka, Mommy suka, lihat Mommy akan memakannya," Trisya menyumpit sayur itu dan menyuapkan ke mulutnya, "lihat, Mommy suka sayuran, jadi Zalia juga harus memakannya."


Dengan terpaksa Zalia pun makanannya walau tampak enggan, Trisya mendelik pada Bryant yang menjadi biang keroknya. Yang di tatap hanya bisa nyengir karena tidak tahu kalau Zalia juga tidak suka sayuran seperti Ibunya.


Setelah makan malam Zalia meminta Bryant menemaninya menonton kartun di televisi, tanpa sadar gadis kecil itu terlelap dalam pangkuan Bryant.


"Zalia ayo ti--," belum sempat Trisya menuntaskan kata-katanya isyarat dari Bryant menghentikan niatnya, Trisya kembali terdiam.

__ADS_1


"Jangan berisik, dia baru saja tidur," bisik Bryant dengan telapak tangan berada di dahi Zalia, mengusap lembut rambut Zalia ke arah belakang.


"Biar aku yang menggendongnya," Trisya sudah mengulurkan tangan hendak meraih tubuh mungil Zalia dan memindahkannya ke kamar, namun Bryant melarangnya.


"Jangan, biar aku saja. Zalia sangat berat, mungkin kau tidak akan mampu mengangkatnya."


"Jangan sembarangan, aku bisa melakukannya, aku merawat Zalia seorang diri mana mungkin aku tidak bisa menggendongnya hanya untuk memindahkan dia ke kamar." Ucap Trisya tak terima Bryant meremehkannya.


"Baiklah, terserah kau saja," Bryant memilih mengalah dari pada membuat masalah kembali pelik.


Trisya mengangkat tubuh Zalia perlahan, tubuh gadis kecil ini memang semakin lama semakin berat, siring bertambah usianya, Trisya menghembuskan nafas kasar dan membawa Zalia ke kamar. Setelah meletakkannya di ranjang dia pun kembali keluar, tampak Bryant tengah menunduk dan memperhatikan kemeja putih yang di kenakannya terkena noda merah di bagian perut sebelah kirinya.


"Astaga, kamu berdarah!" pekik Trisya, dia menyeruak menghampiri Bryant dan berjongkok menatap pakaian pria itu dengan pandangan cemas.


"Tidak papa, nanti juga darahnya berhenti sendiri."


"Tidak papa apanya?! Jika lukanya terbuka lagi bagaimana? Buka pakaianmu, aku akan mengganti perbannya," perintah Trisya dia bangkit dan mencari-cari sesuatu dari laci dia berlari kesana-kemari dengan wajah panik.


Bryant tersenyum samar melihat kecemasan di wajah Trisya, dia senang karena ternyata Trisya masih peduli padanya.


"Apa yang kau lihat, cepat buka bajunya!" perintahnya lagi, dengan segera Bryant melakukan apa yang Trisya perintahkan.


"Tahan sedikit, mungkin ini akan terasa sakit." Ucap Trisya sambil membuka perban yang membalut luka Bryant. Sedang Pria itu, membiarkan Trisya melakukan apa yang dia inginkan dengan pasrah, tak ada sedikitpun penolakan darinya.


"Sepertinya pendarahannya tidak banyak, mungkin tadi tertekan kepala Zalia," ucap Trisya sambil membubuhkan obat merah di luka Bryant dan kembali membalutnya setelah Ia memastikan tak ada luka serius yang terjadi.


"Kau lihat, lukamu kembali terbuka, jika saja kau menggendong Zalia tadi, mungkin darahmu akan mengalir seperti air dari lubang di perutmu," ucap Trisya dengan raut kesal, dia kembali membereskan kotak P3K yang di bawanya tadi.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, jangan terlalu cemas." Ucap Bryant menenangkan.


"Cemas, siapa, aku?" Trisya mendengus kasar, "jangan terlalu percaya diri, aku sama sekali tidak mencemaskanmu, itu hanya naluri seorang manusia kepada manusia lainnya."


__ADS_2