Mengandung Benih Sang Mantan!

Mengandung Benih Sang Mantan!
Bab 40 - Putri yang hilang


__ADS_3

Sesampainya di restoran tempat acara keluarga di adakan, Bryant pun turun di susul Trisya, restoran ini tampak sepi, mungkin memang Bryant sudah memesan seluruh restoran di tempat ini.


"Tuan Bryant dan Nyonya Trisya silahkan masuk, kehadiran anda berdua sudah di tunggu Tuan besar Maverick." Ucap sang penjaga resepsionis sembari membungkuk memberi hormat. Trisya dan Bryant pun masuk mengikuti langkah wanita tersebut.


Suara celotehan seorang anak perempuan membuat Trisya yakin bahwa Zalia sudah lebih dulu berada disana.


"Zalia suka hadiah dari Kakek buyut?" Tanya seorang pria yang Trisya kenali.


"Suka Kek, tabletnya bagus, Zalia bisa main game sampe puas." Seru Zalia penuh semangat.


Trisya dan Bryant memasuki ruangan tersebut, membuat pandangan Kakek mengarah pada mereka, pun dengan Zalia, serta seorang pria paruh baya yang selalu mengikuti Kakek kemana pun dia pergi, Trisya mengenali pria itu, dia bernama Tuan Yohan.


"Kakek apa kabar, bagaimana keadaan Kakek selama beberapa tahun ini?" Sapa Trisya, Kakek tak lantas menjawab, dia memalingkan wajahnya ke arah lain, kemudian membisikan sesuatu di telinga Zalia.


Zalia mengerutkan dahi, "kenapa gak Kakek aja yang bilang sendiri sama Mommy," keluhnya setengah menolak.


"Ayolah sayang, nanti Kakek belikan lagi Zalia mainan." Bujuknya.


"Mommy, Kakek bilang dia gak mau bicara sama Mommy, Kakek marah." Ucap Zalia, akhirnya dia menuruti keinginan Kakek, hingga membuat pria lanjut usia itu tersenyum senang, dia mendelik pada Trisya.


Trisya menundukkan kepalanya, Bryant yang menyadari itu lantas menggenggam jemari Trisya dengan erat, "kenapa Kakek tiba-tiba datang kemari?" tanya Bryant.


"Kenapa katamu? Tentu saja untuk bertemu cucu Kakek." Dia mengusap kepala Zalia pelan.


"Sekarang Kakek sudah bertemu dengannya kan, ayo Zalia kita pulang!" Seketika Zalia bangkit, dia menaruh tablet itu di meja kemudian menghampiri Bryant.


"Hey apa yang kamu lakukan, kenapa pulang sekarang?" Kakek merasa terkejut, pasalnya dia belum puas bermain bersama Zalia, Marc belum lama membawanya ke tempat ini.


"Karena Kakek tidak ingin bertemu Trisya, maka Kakek juga tidak bisa menemui Zalia, dia Ibunya, Zalia akan bersamanya dimana pun dia berada." tegas Bryant.

__ADS_1


Kakek bangkit, tangannya bertumpu pada tongkat kayu di lengan kirinya, dia berjalan mendekat, "siapa yang mengatakan aku tidak ingin bertemu Trisya? Aku hanya marah, karena selama enam tahun lebih dia tidak pernah ingat pada Kakek tua ini," ujarnya dengan pandangan berkaca-kaca.


"Kakek maaf," lirih Trisya, dia melepaskan genggaman tangan Bryant dan membawa diri memeluk sang Kakek. Trisya terisak pelan, jujur selama ini Trisya sudah lupa bahwa sebetulnya keluarga Bryant adalah orang baik, mereka menyayangi Trisya seperti putri mereka sendiri, padahal mereka juga tahu orang tua angkat Trisya hanya pasangan brengsek yang menjualnya pada keluarga mereka.


"Sudah-sudah jangan menangis," Kakek mengusap kepala Trisya dengan sebelah tangannya, "aku tidak marah padamu karena membencimu, aku hanya kesal karena kamu pergi begitu saja tanpa berpamitan pada Kakek tua ini." Trisya melepas rangkulannya, lagi-lagi hanya kata maaf yang mampu keluar dari bibirnya.


"Sudahlah, ayo bantu Kakek duduk, lutut Kakek sudah tidak bisa berdiri lama," ujarnya, kemudian Trisya membantu Kakek duduk.


Marc datang bersama para pelayan yang hendak menyajikan makanan di meja, dia mengisyaratkan agar mereka langsung saja menghidangkannya tanpa suara.


"Tuan makanlah dulu selagi hangat," ujarnya.


"Baiklah, ayo kita makan."


Marc dan Tuan Yohan mundur beberapa langkah, mereka hendak pergi keluar, "Om mau pergi kemana?" seruan Zalia membuat semua mata tertuju ke arah mereka berdua.


"Kenapa harus menunggu diluar? Kemarilah kita makan bersama," ucapnya polos.


Kakek tertawa pelan, "gadis kecil ini benar, kemarilah duduk bersama kami, kalian berdua sudah seperti keluarga kami."


"Ta-tapi Tuan," Yohan hendak menolak, namun tidak dengan Marc dia langsung saja menghampiri mereka dan duduk di salah satu kursi yang kosong, dan Tuan Yohan pun mengikutinya.


"Makanlah, jangan sungkan." dan mereka pun makan bersama dengan bahagia. Bryant bangkit, dia mengambil beberapa jepretan foto di ponselnya lalu mengirimkannya pada sang Ayah yang ada di negara asal mereka.


Seorang pelayan pria datang sembari mendorong troli makanan berisikan sebuah kue besar berwarna merah muda dengan motif kartun princess bernama Sofia.


Seketika semua orang menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Zalia, dan lilin angka pun menyala kali ini Zalia genap berusia enam tahun.


"Ayo sayang, tiup lilinnya!" ujar Bryant, Zalia pun menurut dia naik ke atas kursi kemudian meniup lilin angka enam berwarna merah itu, dengan perasaan suka cita.

__ADS_1


"Terimakasih Daddy, Mommy dan Kakek buyut, aku sangat senang hari ini. Terimakasih untuk Om Marc, dan Om itu," ucap Zalia karena dia tidak tahu nama Yohan.


Yohan terkekeh, "nona kecil jangan panggil saya Om, saya seusia Kakek anda," ucapnya seraya tersenyum, "jika bisa panggil saya Kakek juga."


"Baiklah Kakek, tapi bukankah masih ada Kakek yang lain?"


"Benar sayang, masih ada Kakek yang lain, Kakek Austin, dia Ayahnya Daddy-mu. Beliau sakit jadi tidak bisa datang ke sini, Zalia mau bicara dengan Kakek?" Zalia menganggukkan kepalanya.


Trisya mengambil ponselnya dan menghubungi Tuan Austin.


"Halo!" ujar seseorang dari sebrang telpon.


"Halo Pah, ini aku Trisya," seketika dari sebrang telpon terdengar sunyi, "Pah, ada seseorang yang ingin bicara dengan Papah, tolong jangan di matikan dulu telponnya, ayo Zalia bicara pada Kakek." Ucap Trisya, dia menyerahkan ponselnya tersebut pada Putrinya.


Zalia meraihnya lantas berucap, "halo Kakek, aku Zalia, aku cucu Kakek," ucap Zalia, namun tak ada suara balasan dari balik telpon tersebut, Mommy seperti telponnya mati," keluh Zalia, karena tak kunjung mendapat jawaban dari sebrang sana.


"Masa sih?" Trisya mengambil ponsel itu dan menilik layarnya, ponsel itu masih tersambung, namun anehnya tak ada yang bicara sama sekali.


"Pah, apa Papah baik-baik saja?" Trisya mulai panik.


"Bryant, hubungi para pelayan, kenapa Papah tidak bicara?" pekik Trisya, dia terlihat panik, pun dengan yang lain, mereka sibuk menghubunginya orang yang tinggal di rumah Austin.


Isakan lirih tiba-tiba terdengar, dari balik telpon, "Trisya, apa kabar nak?"


Sapaan itu membuat hati Trisya menjadi lega, "Astaga Papah, kenapa Papah diam saja, aku--," belum sempat Trisya menuntaskan kata-katanya Bryant terlebih dahulu merampasnya.


"Apa yang Papah pikirkan? Kenapa Papah diam saja saat Trisya bicara tadi, apa Papah tahu kami sangat panik tadi, kami pikir terjadi sesuatu pada Papah!" Ucap Bryant dengan nada kesal.


"Siapa kamu? Aku tidak ingin bicara denganmu, aku hanya ingin bicara dengan putriku yang hilang." Balasan dari sang Ayah membuat Bryant berdecak kesal.

__ADS_1


__ADS_2