
"Nak, kau tak perlu mengurusku lagi, aku sudah baik-baik saja," tolak Austin saat Trisya datang dan menjenguknya di rumahnya.
Trisya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "err aku hanya ingin memastikan bahwa anda sudah benar-benar pulih Tuan," ujar Trisya, pandangannya menjelajah sekitar seakan tengah mencari sesuatu.
"Apa kau butuh sesuatu?" tegur Austin saat dia menyadari sikap Trisya.
"Oh, sama sekali tidak Tuan, a-aku hanya sedang mengagumi rumah ini, disini tampak bagus dan mewah," ujar Trisya tersenyum canggung, membuat Austin tertawa kecil di buatnya.
"Laki-laki yang kemarin adalah putraku, namanya Bryant," ujar Austin tiba-tiba, membuat mata Trisya melebar di buatnya.
"Sa-saya tidak tanya soal dia, Tuan," dalih Trisya.
"Saya tahu, saya hanya ingin memberitahumu saja." Ujar Austin, mengangkat sebelas alisnya sembari tersenyum tipis.
"Baiklah Tuan, untuk sementara sebaiknya anda jangan makan-makanan berat dulu, anda perlu mengatur makanan anda, karena selain luka di kaki anda, dokter juga bilang anda punya riwayat penyakit jantung, jadi anda harus mengatur pola makan anda," tuturnya.
"Hem, baiklah. Apa masih ada lagi?"
"Tidak ada, hanya itu saja." Ujar Trisya.
"Siapa nama orang tuamu?" tanya Austin tiba-tiba.
"Hah, kenapa anda bertanya soal mereka Tuan, apa saya membuat kesalahan?" tanya Trisya dengan pandangan bingung sekaligus khawatir.
Austin terkekeh pelan, "bukan begitu, aku hanya penasaran saja, tapi jika kamu takut aku berbuat macam-macam, maka tidak perlu kau katakan." Ujarnya tak keberatan.
Trisya tersenyum simpul, "sebetulnya mereka orang tua angkatku, aku di adopsi oleh mereka saat aku berusia lima tahun, nama mereka Diego Dawson dan Margaret Dawson, mereka punya bar kecil di tengah kota."
"Oh itu bagus, tapi kenapa kamu berbeda dan malah jadi perawat?"
__ADS_1
"Sebetulnya aku sedang magang, aku hanya ingin mencoba pekerjaan ini, tapi setelah lulus aku ingin mencari pekerjaan yang lain." Ujar Trisya.
"Kau aneh, magang di mana kerja dimana," kekeh Austin, "kalau begitu kau bisa bekerja di perusahaan keluargaku saat kau sudah lulus, ini undangan secara khusus, kau tidak boleh menolaknya," Austin memberikan kartu namanya pada Trisya.
"Baik Tuan, akan aku pikirkan. Kalau begitu saya permisi dulu, semoga anda lekas sembuh," Trisya menunduk sopan lantas berlalu.
Waktu pun berlalu, Trisya lulus kuliah dan mendapatkan hasil yang cukup memuaskan, dia mencoba melamar pekerjaan di bidangnya, namun tak ada satu pun yang menerimanya karena tak ada lowongan. Hingga pada suatu waktu, saat jam makan malam tiba, sebuah mobil mewah terparkir di halaman rumah orang tua angkat Trisya.
"Sepertinya ada tamu?" Trisya melangkah perlahan memasuki rumah tersebut.
"Benar Tuan, anda punya mata yang tajam putri saya memang sangat cantik," ujar Margaret, perkataannya itu membuat Trisya merasa cemas, dia tetap melanjutkan langkahnya hingga berakhir di ruang tamu.
"Nah itu dia Trisya, Nak kemarilah," Trisya menoleh sambil tersenyum sopan, dia menghampiri Ibunya dan duduk di sampingnya.
"Ada apa Mah?" tanya Trisya bingung, entah apa hubungan dia dengan tamu orang tuanya itu.
Seketika Trisya bangkit, dia menatap tak percaya pada kedua orangtuanya, "Mah, aku baru saja lulus kuliah, aku gak mau nikah sekarang, aku ingin bekerja dulu. Lagi pula pria ini lebih pantas jadi Ayahku di banding suamiku!"
Plak... Satu tamparan keras mendarat di pipi Trisya, hingga membuat tubuhnya sedikit limbung dan hampir terjatuh, "kau benar-benar tidak sopan, kau tahu siapa dia. Dia Tuan George, pemilik perusahaan ternama di kota kita, seharusnya kau merasa beruntung karena dia melirikmu!" bentak sang Margaret.
"Aku tidak peduli siapa dia, aku bilang aku tidak ingin menikah!" Trisya berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
"Anak sialan!" Decak Margaret pelan, dia kembali bersikap ramah pada George, "Tuan maafkan dia, dia belum dewasa jadi saya harap anda bisa memberi saya waktu, saya yakin saya bisa membujuknya, tolong jangan berhenti di berinvestasi di Bar kami," ucap Margaret setengah memohon.
George bangkit dan membetulkan jas nya, "baiklah, aku beri kau waktu dua hari, jika dia tidak cantik aku tidak sudi di hina di depan mataku sendiri, tapi karena aku suka gadis ini aku akan memberimu kesempatan. Selesaikan secepatnya dan bawa dia padaku." George pun berlalu.
"Anak sialan, lihat saja apa yang akan aku lakukan, aku yakin aku bisa menghancurkan keras kepalamu!" geram Margaret bertekad.
Dua hari berlalu, dalam masa itu pula Trisya di kurung di kamarnya dan tidak di beri makan oleh Margaret.
__ADS_1
"Bagiamana apa pikiranmu sudah berubah?" teriak Margaret dari balik pintu. Tak ada jawaban dari Trisya, dia masih dengan pendirian yang sama.
"Anak ini benar-benar membuat ku kesal, Diego!" Ujarnya seraya berlalu.
Trisya duduk sembari mendekap lutut menatap keluar jendela, perutnya terasa perih dan sakit, karena sejak kemarin dia tak di beri makanan atau pun minuman oleh Margaret.
Ceklek...
Pintu pun terbuka, Trisya mengangkat kepalanya perlahan, "makanlah dan pakai ini!" Margaret menaruh nampan berisi makanan dan sehelai gaun berwarna mocca.
"Kalau aku harus menukar kebebasanku dengan makanan ini, lebih baik aku mati kelaparan." Trisya tak beranjak sama sekali dari posisinya saat ini, dia tak menghiraukan rasa lapar di perutnya dan rasa sakit yang terus menggerogotinya.
"Ada pria yang memakai kursi roda di bawah sana, dia bilang dia mengenalmu, namanya Austin Maverick."
"Tuan Austin disini?" Trisya bangkit dari duduknya, dia hendak berlalu namun Margaret mencekal lengannya.
"Apa kau akan keluar dalam keadaan begini? Kau ingin menunjukkan pada orang-orang kalau kau aku siksa di tempat ini." Trisya berdecak kesal, dia menyambar gaun itu dan membawanya ke kamar mandi. Tak lama kemudian dia pun keluar dengan pakaian yang di bawanya tadi.
"Makanlah dulu," perintahnya. Trisya pun menurut dan makan makanan itu dengan lahap.
Dengan segera Trisya turun dan melihat tamu itu, ternyata benar dia Tuan Austin, dia tampak tengah duduk di kursi rodanya, sudah cukup lama terakhir kali mereka bertemu.
"Tuan, apa yang membawa anda kemari?" Trisya menghampiri Austin dan menyapanya.
"Hay Nak, lama tidak berjumpa, bagaimana kabarmu?" dia balas menyapa.
"Aku baik Tuan, Tuan sendiri?"
"Seperti yang kau lihat, aku begini-begini saja. Tapi kenapa wajahmu tampak pucat, apa kau sedang sakit?" Trisya melirik Margaret yang tampak gelisah, agaknya dia takut kalau Trisya mengadu pada orang di hadapannya itu, yang Margaret yakni dia bukan orang biasa, melihat cara pria ini berpakaian, meski dia memakai kursi roda tak membuat wibawanya hilang dari wajahnya.
__ADS_1