
Bryant membantu Trisya kembali berdiri dan maju dua langkah ke-depan.
"Mundur, atau aku akan menggorok leher anak ini!" Teriak Ben, dengan bibir menyeringai menampakan deretan giginya yang tak rata.
"Tidak, tolong jangan lakukan itu, aku mohon." Jerit Trisya histeris. Hatinya semakin di dera rasa cemas yang teramat sangat saat melihat putrinya di ambang kematian.
"Berapa uang yang kau inginkan, katakan padaku?" Ujar Bryant dengan mata yang tak lepas mengawasi gerak-gerik nya.
Ben mendengus tawa, "jika aku minta satu miliar, apa kau akan memberikannya?"
"Oke, tapi lepaskan dulu anak itu, kita bicarakan ini baik-baik."
Ben kembali tertawa, "kau pikir aku bodoh, jika aku melepaskan anak ini sudah pasti kalian akan menangkap-ku, bukan uang yang aku dapat, tapi jeruji besi."
"Kalau kau tidak melepaskannya, aku juga tidak akan memberikan uangnya." Balas Bryant.
"Kalau begitu kau simpan saja uangmu, lagi pula bukan itu yang aku inginkan, tapi balas dendam." Kekehnya pelan.
"B-ben, putriku tidak salah apa-apa, aku mohon lepaskan dia. Tolong tangkap aku saja dan lepaskan putriku." Lirih Trisya, dia benar-benar merasa putus asa melihat keadaan Zalia yang begitu menghawatirkan.
"Bryant, tolong selamatkan Zalia, aku mohon."
"Tenanglah, percayakan semuanya padaku. Aku tidak akan membiarkan Zalia terluka."
"Angkat tangan dan menyerah-lah!" Suara itu sontak membuat Trisya menoleh.
Sekelompok orang berseragam polisi tiba-tiba hadir di tempat itu dan mengepung Ben dari segala sisi.
"Sial!" Decak Ben, dia semakin mengeratkan cengkeramannya, "mundur kalian semua, atau anak ini, akan mati." Ancamnya.
Saat perhatian Ben teralihkan pada para polisi yang mengepungnya tersebut, Bryant secara perlahan mendekat dari arah belakang dan di hitungan ketiga Bryant berhasil menyergap Ben dari arah belakang. Dia berusaha melepaskan Zalia dari cengkeraman Ben.
"Uuuh, dasar keparat!" Geramnya. Dengan tangan terus berusaha mempertahankan cengkramannya di dada Zalia.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti putriku, sialan!" Balas Bryant sengit, tanpa sadar dia mengucapkan kata-kata yang selama ini berusaha Ia sembunyikan.
Josh...
Akhirnya Zalia terlepas dari cengkeraman Ben, dengan segera gadis kecil itu berlari ke-arah Trisya dan membenamkan diri di pelukan Ibunya.
"Mo-mommy, a-aku takut," isaknya lirih dengan tubuh gemetar.
__ADS_1
"Tidak papa sayang, semuanya sudah baik-baik saja," Trisya balas memeluk Zalia dengan erat, berusaha menenangkan gadis kecil itu
Sedang Bryant dia masih berkutat dan berusaha melawan Ben, hingga akhirnya, bles... Tanpa sengaja perutnya tertusuk benda tajam tersebut.
Dor...! Seorang polisi menembak kaki Ben membuat pria itu jatuh tersungkur ke tanah dengan kaki bersimbah darah.
Ouch, hah hah, Bryant tersungkur dengan lutut terlebih dahulu menyentuh tanah, dia mencengkram perutnya setelah dia mencabut pisau yang tertancap disana dan melemparnya sembarang arah.
"Bryant! Astaga, kau baik-baik saja?" Trisya datang dengan wajah panik, dia berusaha membantu Bryant untuk berdiri, namun kakinya terlalu lemah untuk menapaki tanah.
"Pak tolong teman saya!" Teriak Trisya histeris, sebagian dari polisi itu membawa Ben dan yang sebagian lagi membantu Bryant, mereka di antar ke rumah sakit menggunakan mobil polisi.
***
'Kamu harus baik-baik saja, aku tidak ingin punya hutang terhadapmu.'
"Nona, sebaiknya anda pulang saja, biar saya menjaga tuan di sini." Ujar Marc yang berdiri du hadapan Trisya saat ini.
"Tidak Marc, sebelum aku mendengar kalau dia baik-baik saja aku tidak akan pergi." Trisya bersikukuh.
"Nona--,"
"Baiklah, terserah saja." Marc berlalu hendak mengurus administrasi rumah sakit.
"Mommy, apa Om tetangga akan baik-baik saja?" Tanya Zalia sambil mendongakkan kepala.
"Iya sayang, dia akan baik-baik saja. Tidak akan terjadi apapun padanya, Mommy yakin." Ucap Trisya, sembari mengusap kepala Zalia pelan, dia mendekap tubuh mungil itu, bagaikan memeluk sesuatu yang paling berharga.
Pintu ruang operasi pun terbuka, dan seorang dokter pria paruh baya pun keluar dari dalam sana.
"Dokter, bagaimana keadaan Bryant, apa semua baik-baik saja?" Tanya Trisya tak sabar.
Dokter menghela napas pelan, "beruntung pisau itu tidak melukai organ dalam korban, benda tajam itu tidak terlalu dalam menusuknya, jadi dia hanya mendapatkan jahitan luar saja."
Trisya menghela napas lega, "syukurlah, terimakasih Dokter."
"Sama-sama, sekarang kami akan memindahkannya ke-ruang perawatan, kita hanya tinggal menunggu Tuan Bryant sadar."
"Baiklah Dokter, sekali lagi terimakasih banyak."
"Mommy, apa Om Bryant baik-baik saja?"
__ADS_1
"Ya, dia sudah baik-baik saja."
"Apa aku boleh menengoknya?" Tanya Zalia penuh harap.
"Belum bisa sayang, Om Bryant masih belum bangun, jadi kita harus menunggunya bangun dulu barulah bisa melihatnya.
"Oh begitu," Zalia tampak kecewa, namun gadis itu kembali duduk di tempatnya semula.
"Mommy, saat Om tetangga menolongku tadi, dia mengatakan, aku tidak akan membiarkanmu menyakiti putriku. Mengapa dia bilang begitu? Padahal, aku bukan putrinya." Gumam Zalia dia menundukkan kepalanya.
Trisya terdiam, dia menilik ekspresi wajah Zalia, "itu karena Om tetangga menganggap Zalia seperti putrinya sendiri, mungkin itu sebabnya Om tetangga bilang begitu." Ralat Trisya.
'Jadi Bryant sudah tahu kalau Zalia itu putrinya, jadi itu sebabnya dia selalu mendekati Zalia, tapi bagaimana dia bisa tahu?' Trisya mengepalkan tangannya, lantas bangkit.
"Marc, aku ingin bicara sebentar denganmu," Trisya berucap pada Marc yang berdiri tak jauh dari tempatnya saat ini, pria itu hanya membalasnya dengan anggukan.
"Zalia, Mommy akan bicara sebentar dengan Om Marc, Zalia tunggu sebentar disini dan jangan kemana-mana, oke."
"Iya Mommy," jawab Zalia disertai anggukan.
Trisya berjalan lebih dulu di ikuti Marc di belakangnya, namun mereka tak pergi terlalu jauh agar tetap bisa mengawasi Zalia.
"Apa Bryant tahu sesuatu?" Trisya langsung bertanya pada intinya.
"Sesuatu apa?" Tanya Marc pura-pura tidak mengerti apa yang di maksud Trisya.
Trisya mengehela napas berat, "sesuatu tentang Zalia, tentang siapa Ayahnya."
Marc tersenyum pelan, "menurutmu, apa kamu bisa selamnya menyembunyikan hal itu? Nona, Tuan tidak pernah sekalipun berniat buruk terhadapmu, semua yang dia lakukan karena kepolosannya."
Trisya mendengus kasar, "polos, kau pikir dia anak kecil. Apa yang dia lakukan terhadapku dulu, aku masih belum bisa memaafkannya. Namun sekarang bukan itu yang ingin aku bahas, tapi tentang Zalia, putriku."
"Apa Bryant sudah tahu kalau Zalia itu--," Trisya tak sanggup menuntaskan kata-katanya.
"Ya, Tuan tahu kalau Zalia itu putri kandungnya, itulah sebabnya dia tak segan mempertaruhkan nyawanya sendiri demi menyelamatkannya." Terang Marc.
Trisya memejamkan mata sekilas, sembari menarik napas dalam, "baiklah kalau begitu, tapi Marc, aku ingin kau merahasiakan perbincangan kita hari ini. Biarakan semua tetap seperti sebelumnya."
"Mengapa? Tuan berharap kau sendiri yang mengatakan tentang Zalia padanya, itulah sebabnya dia tetap diam sampai saat ini."
"Aku hanya belum siap, pada waktunya nanti aku akan mengatakannya sendiri."
__ADS_1