
Pak Han terdiam, mencari ingatan yang lama terkubur dalam benaknya, "Tidak ada, Tuan. Dia tak pernah cerita apa-pun tentang putrinya, yang tahu dia punya anak pun hanya saya dan ketiga temannya. Liana, Dion dan Edwin."
Bryant mengangguk sembari menghela napas, "terima kasih Pak, Informasi ini sudah lebih dari cukup, sisanya biar saya yang mengurusnya."
"Iya, sama-sama Pak, senang bisa membantu anda. Jika ada Informasi lain saya akan memberitahu Anda, kalau begitu saya permisi dulu." Pak Han pun berpamitan seraya berlalu kembali ke-tempatnya semula.
Di perjalanan Ia berpapasan kembali dengan Trisya, dia tersenyum ramah pada Trisya.
'Mengapa aku merasa senyum pak Han itu agak aneh, apa yang di katakan orang itu padanya?'
Trisya mengetuk pintu dua kali sebelum memasuki ruangan Bryant, 'Masuklah' Setelah kata itu terdengar barulah Trisya masuk.
"Wah, kamu cepat sekali mengerjakannya, sini biar-ku lihat," Bryant meraih berkas itu dari tangan Trisya, "tunggu, kamu mau kemana?" tanya Bryant kala melihat Trisya hendak berlalu.
"Pekerjaan saya disini sudah selesai, Pak, jadi saya akan kembali ke-meja saya." Tegas Trisya seraya hendak berlalu.
"Duduklah dulu, kenapa kau buru-buru sekali," pinta Bryant dengan mata menelaah berkas tersebut.
"Tidak, terima kasih!" tolak Trisya tegas.
Bryant menaruh berkas tersebut lantas tersenyum, "apa tadi yang kau katakan? Kau ingin memberiku kompensasi kan, sekaranglah saatnya."
Trisya mendengus kasar, dia menyambar kursi lantas mendudukinya, "aku hanya perlu dudukkan, baiklah!" Ucapnya ketus.
Bryant tertawa pelan, dia bangkit dan berjalan mengitari meja kemudian duduk di atas meja di hadapan Trisya.
"Kenapa saat itu kamu pergi begitu saja? Aku terus mencari-mu di tiap sudut kota, aku sampai putus asa untuk menemukanmu, Trisya!" Trisya tetap diam enggan menjawab.
"Kau tahu aku sudah mencintaimu saat itu, kenapa kau tidak memberiku kesempatan ke-dua?" setiap pertanyaan yang keluar dari mulut Bryant tak ada satu-pun yang Trisya jawab.
Bryant hendak meraih tangan Trisya, namun dengan cepat Ia menjauhkannya, Bryant kembali mengurungkan niatnya.
"Aku menyesal sungguh, aku ingin memperbaiki hubungan kita lagi. Dulu aku yang terlalu bodoh, hingga mengabaikan-mu, kini aku bersumpah aku akan menjadi suami yang baik untukmu."
Trisya beranjak, "jika sudah selesai, saya pergi dulu, permisi!" Trisya berlalu dengan mata memerah menahan tangis juga amarah, dia memasuki toilet wanita dan sejenak berdiam diri disana.
'Apa aku harus melupakan setiap cacian dan hinaan yang kamu katakan padaku? Kau bilang wanita yang kau tiduri jauh lebih menarik dari pada aku yang hanya seorang Istri di atas kertas, mungkin kau sudah lupa dengan kata-kata itu, tapi aku tidak! Bryant Maverick, sejauh apa pun kau berjuang, sekuat apa pun keinginanmu untuk kembali padaku, rasa benciku jauh lebih besar dari itu.'
__ADS_1
Trisya menghapus sisa air mata yang tergenang di ujung mata dengan punggung tangannya, kemudian kembali ke-mejanya.
"Trisya, kenapa Pak Bryant selalu saja ingin kau yang menemuinya, apa jangan-jangan--?" Liana melempar pandang menyelidik.
"Jangan-jangan apa?" Trisya tertawa pelan.
"Dia suka sama kamu."
Trisya mendengus pelan, "kamu jangan mengada-ngada, mana mungkin dia suka padaku," Trisya menepis dugaan Liana.
"Tapi--,"
Pltak...! Aduh...Edwin melempar pulpen yang langsung mendarat tepat di kepala Liana.
"Edwin!" geramnya kesal dengan tatapan tak terima.
"Kenapa kamu selalu menginginkan sesuatu yang sulit tercapai, aku harap pulpen itu bisa menyadarkan-mu dari khayalan tingkat tinggi." Jawab Edwin merasa bijak dengan kata-katanya sendiri.
Semua tahu Edwin dan Liana adalah saudara sepupu, jadi terkadang mereka saling menjahili satu sama lain.
"Dasar, apa salahnya coba kalau aku berkhayal menjadi pacarnya Pak Bryant."
Seketika Liana menunduk, "maafkan aku Trisya, aku salah."
"Sudahlah, kenapa kalian malah bicara begitu. Ayo kita bekerja lagi," Trisya tak enak hati.
Malamnya, Trisya hendak pulang dia tengah menunggu Taksi, namun setelah sekian lama menunggu mobil itu tak kunjung datang.
"Masuklah!" perintah Bryant saat mobilnya berhenti di hadapan Trisya.
Wanita itu tetap diam saja, "kita searah, bahkan kita satu gedung apartemen, anggap saja mobilku sebagai taksi, lagi pula putrimu sendirian di rumah kan, kalau kau pulang terlalu larut kasihan dia." Kata-kata Bryant kali ini tak mampu Trisya bantah, pada akhirnya ego Trisya pun kalah, dia masuk kedalam mobil Bryant dan duduk di kursi belakang.
Bryant tersenyum pelan, "darimana kau tahu dia putriku? Kau menyelidiki kehidupanku?"
"Hey, hey, kenapa kamu selalu saja bersikap galak, sekilas juga orang akan tahu kalau dia putrimu, wajah kalian mirip dan terutama kasih sayang yang terlihat jelas dari sikapmu, itu menunjukan segalanya." Ucap Bryant tenang, dia tersenyum menatap pantulan wajah Trisya dari balik kaca spion.
Trisya menghela napas berat, dia melemaskan tubuhnya membiarkan punggungnya bersandar dengan tenang.
__ADS_1
"Berapa usia putrimu?" tanya Bryant mulai menyelidiki.
"Kenapa kau bertanya?" kewaspadaan Trisya belum lengah.
"Aku hanya bertanya, apa itu salah?" Bryant mengangkat bahu pelan.
"Empat tahun, usianya empat tahun." Jawab Trisya gugup.
"Oh empat tahun." Bryant mengiakan walau dia tahu yang sebenarnya, namun kebohongan Trisya memperkuat dugaannya.
'Apa dia putriku? Jika ya, aku akan sangat bahagia. Aku akan mendapatkan Istri juga anakku, tapi aku harus menyelidiki ini terlebih dahulu, aku juga harus berusaha mendapatkan sampel DNA-nya.'
"Berapa semuanya?" Bryant menoleh kebelakang dengan pandangan heran.
"Kau bilang anggap saja mobil-mu ini taksi jadi berapa yang harus aku bayar, seratus dua ratus?"
Bryant mendengus senyum, "terserah kau saja," Trisya menyerahkan beberapa lembar uang pada Bryant kemudian berlalu.
Bryant tersenyum menatap lembaran uang yang di berikan Trisya, "haish, apa aku harus bekerja sampingan sebagai supir taksi?" Bryant terkekeh pelan, dia memarkirkan mobilnya di parkiran khusus yang terletak di bawah apartemen mereka.
Bryant melangkahkan kakinya menaiki tangga apartemen sederhana ini, langkahnya terhenti saat mendengar tawa renyah dan celotehan anak perempuan dari dalam rumah Trisya, dia menyandarkan punggungnya di antara tembok pembatas ruangan tersebut.
"Mommy, tadi aku di sekolah belajar menggambar dan Ibu Guru bilang gambar-ku paling bagus, gambar-ku akan di gantung di dinding sekolah!" Ucap Zalia penuh semangat.
"Memangnya Zalia menggambar apa?" tanya Trisya.
"Menggambar Mommy dan aku sedang bergandengan tangan, seperti ini!" Zalia mempraktekannya.
Trisya tertawa pelan, "benarkah, Mommy ingin lihat gambarnya," ucap Trisya antusias.
"Boleh tunggu sebentar!" terdengar langkah Zalia berlari dan tak lama kemudian dia pun kembali.
"Ini Mommy, gambarnya hanya kita berdua, bagus-kan!"
"Iya sayang, sangat bagus."
Bryant memejamkan mata dengan kepala mendongak ke-atas, "Tuan!" teguran itu membuat Bryant seketika menoleh.
__ADS_1
"Saya ingin--," ucapan Marc seketika terhenti kala Bryant menaruh jari telunjuknya di bibir mengisyaratkan agar dia tetap diam.