
"Tuan, aku sudah menyiapkan barang-barangmu," ucap Marc sembari menaruh tas jinjing di atas ranjang Bryant.
Hem, jawab Bryant tak bersemangat. Pasalnya, sejak tiga hari lalu Trisya sama sekali tidak datang lagi ke-rumah sakit untuk menengoknya.
"Apa Trisya tidak menengokku lagi?" tanya Bryant.
"Tidak Tuan."
Bryant mendengus kasar, dia meraih kemeja yang di sediakan Marc untuk berganti pakaian, pasalnya hari ini Bryant sudah di perbolehkan pulang. Dia pikir, mungkin dengan kejadian ini sikap Trisya akan sedikit berubah, namun ternyata ini tak terlalu berdampak bagi wanita itu.
"Tuan, ingin aku siapkan pelayan di rumahmu?" tawar Marc.
"Tidak perlu, aku bisa merawat diriku sendiri," tolak Bryant.
"Atau perlu aku yang menginap?"
"Tidak, ini kesempatan bagus untukku, jadi jangan merusaknya." Ucap Bryant, sembari mengancingkan kemejanya.
"Baik Tuan."
Setelah itu mereka pun berjalan keluar, diluar dugaan Zalia dan Trisya sudah menunggu mereka di area parkir.
"Marc, apa aku berhalusinasi? Aku melihat Trisya di sana," bisik Bryant.
"Sepertinya anda memang berhalusinasi Tuan," ucap Marc datar.
"Kau tidak melihatnya?"
"Tidak," jawab Marc menggelengkan kepalanya.
Bryant terdiam, dia menatap Trisya dengan pandangan kosong, kemudian mengabaikannya, membuat Trisya berdecak kesal.
"Mommy, kenapa Om Tetangga mengabaikan kita?" tanya Zalia sembari mendongak menatap sang Ibu.
__ADS_1
"Mommy juga tidak tahu." Jawab Trisya dengan mata tak henti-hentinya menatap Bryant dengan tatapan kesal.
"Marc, Trisya terus menatapku, aku pikir dia nyata," ucap Bryant lagi, dia mengurungkan niatnya yang hendak masuk ke mobil.
Marc tertawa pelan, "kenapa kau tertawa?" tanya Bryant kesal.
"Itu memang nyata, Nyonya datang untuk menjemput anda atas permintaan Zalia."
"Oh sial, kau mengerjaiku!" decaknya kemudian berbalik lagi, dan menghampiri Trisya.
"Hay!" sapanya pada Trisya, namun di abaikan wanita itu "halo Zalia." berlanjut menyapa Zalia.
"Halo Om, kenapa mengabaikan kami tadi?" tanya Zalia heran, dia mendongak menatap Bryant.
"Sudahlah Nak, lebih baik kita pulang. Mungkin dia tidak ingin kita disini," ucap Trisya ketus, dia menarik lengan Zalia hendak berlalu.
"Tidak tunggu! Bukan begitu Trisya, aku pikir aku berhalusinasi tadi, Marc mengerjaiku, dia bilang dia tidak melihatmu." Bryant menoleh pada Marc, orang yang di maksud ternyata sudah tidak ada, dia mengambil mobilnya di area parkir lain.
"Dasar sialan si Marc!" decak Bryant.
Suara klakson mobil mengalihkan perhatian mereka, Mobil itu berhenti tepat di hadapan mereka. Marc turun dari dalam sana.
"Tuan, Nona, masuklah, tidak baik bertengkar di tempat umum."
"Hah, apa maksudnya dengan bertengkar di tempat umum?"
"Sudahlah Mommy, ayo masuk." Zalia mendorong tubuh Trisya dan menjejalkannya ke jok belakang Mobil yang pintunya sudah terbuka oleh Marc. Trisya diam dan menuruti putrinya itu.
"Om, aku Ingin duduk di depan."
"Baiklah, ayo masuk!" Marc membukakan pintu untuk Zalia, "Tuan, anda duduk di belakang," bisik Bryant, dia mengedipkan sebelah matanya.
Bryant berdehem sembari membetulkan pakaiannya, lantas masuk tanpa protes sedikitpun. Dia duduk dengan rapi di samping Trisya.
__ADS_1
"Woah Om, Mobil Om Bagus! Mommy, kalau Mommy nanti punya Mobil aku ingin yang seperti ini," celoteh Zalia riang, dia memainkan benda-benda yang berada di atas dasboard.
"Iya, jangan nakal Nak, duduk dengan baik." tegur Trisya.
"Tidak papa Trisya, biarkan saja," Bryant yang menjawab, "apa Zalia mau mobil ini?"
"Tidak," Trisya yang menjawab, dia menggelengkan kepalanya memberi isyarat pada gadis kecil itu.
"Iya Om, Zalia hanya suka saja, Zalia tidak menginginkannya."
"Tidak papa, kalau Zalia mau Om bisa memberikannya sebagai hadiah." lagi-lagi Bryant yang menjawab.
Trisya melempar tatapan mengancam pada Marc, pria di depan sana hanya tersenyum dan kembali mengalihkan pandangannya ke jalanan.
"Tidak perlu, hadiah ini terlalu besar untuk orang kalangan bawah seperti kami, kami tak sanggup menerima kebesaran hatimu." Ucap Trisya ketus.
"Apa yang kau katakan? Perbedaan kasta macam apa ini? Aku tidak pernah membeda-bedakan orang dari kelas mereka," Bryant tak terima dengan perkataan Trisya.
"Kalau kau tidak mau mobil ini baiklah, lagi pula aku tidak memberikannya padamu, aku memberikannya pada Zalia. Biar Zalia yang memutuskan mau menerimanya atau tidak!"
Trisya mendengus kasar, "meskipun kau memberikannya, dia tidak bisa mengemudikannya sendiri, jadi aku sebagai orang tuanya menolak keras atas pemberianmu ini. Lagi pula, orang lain tidak akan memberikan hadiah semacam ini pada orang asing."
"Tepat sekali, orang lain tidak akan pernah memberikan benda semacam ini pada orang asing, yang artinya kau bukan orang asing untukku." Trisya membuang muka kearah lain.
"Baiklah, kita sudah sampai." Ucap Marc, membuat Trisya seketika turun dari mobil itu dia membuka pintu mobil dan membawa Zalia ikut serta.
Sedang Bryant dia masih tetap diam di tempat, "kenapa Tuan malah berdebat dengan Nyonya? Hubungan kalian baru saja membaik." Ucap Marc sembari menatap punggung Trisya yang perlahan mengecil di kejauhan.
"Aku tidak bisa menahan untuk tidak mendebat kata-katanya, dia pikir aku ini orang macam apa," keluhnya dengan wajah kesal, "lagi pula dia mantan istriku dan Zalia itu putriku, jadi wajar saja kalau aku memberikan mobil ini sebagai hadiah."
"Aku tahu menurutmu itu wajar. Tapi, Nyonya belum tahu kalau anda sudah tahu bahwa Zalia itu putrinya, baginya dan Zalia anda itu orang asing Tuan, jadi tarik kembali ucapan anda untuk memberikan mobil ini sebagai hadiah, ini bukan waktu yang tepat untuk itu. Saat nanti kalian sudah saling menerima anda bisa memberikan apa pun pada Nyonya, dengan senang hati dia akan menerimanya."
"Kau benar Marc, jika aku terus berkeras hati dan tak mau mengalah, hubunganku dan Trisya akan kembali memburuk."
__ADS_1
"Benar sekali, ayo turun dan minta maaf pada Nyonya."
Bryant pun menuruti perkataan Marc, lantas turun.