Mengandung Benih Sang Mantan!

Mengandung Benih Sang Mantan!
Bab 16- Si pengganggu


__ADS_3

Mata Zalia bertemu dengan mata Bryant, gadis kecil itu menatap mata Bryant dalam diam.


"Kenapa kamu keluar sayang? Seharusnya kamu mandi karena sebentar lagi kita akan pergi ke-sekolah." Ujar Trisya, dia tersenyum pada Zalia.


"Apa kau tidak akan pergi?" Trisya menghunuskan tatapan tajam pada Pria itu, "jika sudah tidak ada urusan lain, silahkan pergi, pekerjaan saya masih banyak!" Bruk...Trisya menutup pintu di depan wajah Bryant tanpa permisi.


"Dasar menyebalkan, kamu pikir dengan kamu so-perhatian begitu aku akan luluh, hmph... kamu terlalu naif." Trisya berlalu.


Langkah kaki Trisya dan Zalia menggema di tangga apartemen mereka, langkah mereka terhenti kala melihat sebuah mobil menunggu di hadapan mereka.


"Masuklah!" ucap sang pemilik dengan bibir tersenyum ramah.


"Mommy?!" Zalia melempar pandang penuh tanya pada Ibunya.


"Sudah abaikan saja, paman yang sudah tidak waras ini." Trisya menarik lengan Zalia tak membiarkan tangan mungil itu terlepas dari genggamannya.


"Trisya tunggu!" Bryant keluar dari mobil dan berlari mengejar Trisya yang berjalan tak jauh dari lokasinya tadi, "bukankah kamu bilang akan menganggap aku sebagai sopir taksi, ayo aku akan mengantarkan kamu."


"Tidak usah, taksi yang aku pesan sudah sampai, terima kasih atas tawarannya." Trisya dan Zalia memasuki taksi tersebut kemudian berlalu.


Bryant berdecak kesal, dia menghempaskan tangannya kemudian berlalu menyusul mobil Trisya yang sudah lebih dulu berlalu.


Seperti sebelumnya, dia selalu berada di kejauhan memonitori kegiatan Trisya, hanya itu yang dapat Ia lakukan untuk saat ini.


'Bryant bersabarlah, anggap saja ini sebuah tantangan dan kau harus menaklukannya. Hanya dengan kata seandainya, itu tidak akan cukup membawa Trisya kembali kesisimu.'


Lambaian tangan mengiringi kepergian Zalia, Trisya menatap lembut punggung sang putri yang menghilang di balik gerbang sekolah.


'Terkadang aku merasa takut, saat melihat punggung Zalia lenyap dari pandangan, aku takut dia akan meninggalkanku dan memilih hidup dengan Bryant saat dia tahu siapa Ayahnya.' Trisya mengepalkan tangan sembari memejamkan mata.


Dia kembali memasuki taksi yang tadi di tumpanginya.


"Morning!" sapa Trisya pada ketiga temannya yang nampak tengah bercengkrama sembari memegang cangkir kopi.


"Kopi-mu." Edwin menyerahkan cangkir kopi yang sengaja di bawanya tadi.


"Thanks!" Trisya menyambut itu disertai senyuman, yang membuat Edwin salah tingkah.


Dion membisikan sesuatu di telinga Edwin yang membuat pria itu mencubit lengan Dion, "aah, aku hanya memberimu saran, ya sudah kalau kau tidak mau," keluhnya sembari menggosok lengannya yang terasa panas.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Trisya tampak penasaran.


"Hah, tidak ada apa-apa," Edwin tersenyum canggung.


"Dia bilang dia menyukaimu," plak Edwin menggeplak kepala Liana karena berani mengatakan kata terlarang yang harusnya tak di ucapkan-nya.


"Tidak, tidak, jangan dengarkan kata-kata Liana, Trisya. Anak ini benar-benar suka bercanda," larat Edwin canggung, dia menepis kata yang terlontar dari bibir Liana.


Trisya tersenyum simpul, "sudahlah, mari lanjutkan pekerjaan kita." Trisya enggan menganggap perkataan teman-temannya itu. Dia tahu dari kata-kata itu ada yang benar dan ada yang salah, dia juga tidak memungkiri bahwasannya dia tahu Edwin memiliki perasaan terhadapnya.


Siang hari saat waktu istirahat tiba, Trisya berjalan dari toilet menuju ke-ruangannya, namun teguran Edwin menghentikan niatnya.


"Trisya!" panggilnya penuh semangat, dia berjalan dengan sebotol air mineral di tangan kirinya dan makanan dengan bungkus berwarna merah di tangan kanannya.


"Ada apa?" tanya Trisya.


"Kamu belum makan, kan? Ini," dia memberikan bungkusan tersebut pada Trisya.


Trisya menyematkan senyum sembari menyambut makanan tersebut, "terima kasih," ucapnya.


"Bagiamana kabar putrimu?"


"Ah, dia baik."


"Oh syukurlah kalau begitu, tolong makan ya, jangan di buang," Edwin berlalu sembari tesenyum.


"Haish, ada apa dengannya?" Trisya menggelng tak mengerti dengan sikap Edwin yang agak berbeda dari biasanya.


"Nonya, anda di panggil Tuan." Seketika Trisya menoleh dan menatap orang tersebut


"Sudah aku bilang jangan memanggilku begitu, orang akan salah faham nanti," tegur Trisya pada Marc yang berdiri di hadapannya.


Trisya mengedarkan pandang sembarang arah, takut jika ucapan Marc terdengar oleh orang lain, beruntung tak ada siapa pun di tempat ini.


"Apa lagi yang dia inginkan?" keluh Trisya dengan tangan terlipat di dada.


"Saya tidak tahu, silahkan anda bicara sendiri padanya," Trisya manyun, merasa sebal pada Marc.


"Hey Marc," Marc mendongak menatap Trisya, "apa kau selalu seperti ini?"

__ADS_1


"Hah, apa maksud Nona?" panggilannya kini berubah, membuat Trisya tersenyum pelan.


"Kau selalu bersikap formal dimana pun dan kapan pun, apa kau selalu seperti ini?"


Marc terdiam, dia hanya tersenyum kecil, "ya, saya selalu begini."


"Kau punya pacar?"


Hah? Marc menatap bingung.


"Kau ingin menjadi pacarku?" Trisya memainkan alisnya.


Marc mendengus senyum, dia tahu Trisya tidak serius dia hanya ingin mengecoh Marc agar lupa tujuannya semula, "ayo saya antar anda ke-ruangan Tuan," ujarnya sopan.


'Haish, kau memang Pria yang teguh pendirian Marc, tapi sayangnya kau sama bersalahnya seperti Bryant.'


Ceklek...


Trisya masuk ke-ruangan Bryant, tampak pria itu sudah duduk di sopa di hadapannya terdapat bermacam lauk, lengkap dengan nasi putih.


Bryant tersenyum simpul, "kemarilah, kau pasti belum makan, oh ya buang saja makanan seperti itu, itu tidak layak kau makan." Ucap Bryant dia mendelik tak suka pada bungkusan berisi Hamburger tersebut.


Trisya mendengus tak percaya, "Roti ini sudah cukup untukku, sepertinya justru makanan itu yang tak layak aku makan, jangan-jangan kau menaruh racun di dalamnya."


Bryant menghela napas, "kau pikir aku akan sanggup melakukan itu?"


"Kenapa tidak, bahkan sebelumya pun begitu."


"Hah, kapan aku melakukan itu?" Bahkan Marc pun ikut terkejut mendengarnya.


"Huh, hati orang siapa yang tahu," ucap Trisya namun dia tetap mendekat. Dia menilik makanan yang tersaji di meja.


"Maaf, makanan ini tidak cocok denganku. Aku lebih suka roti isi daging ini." Trisya menatap sebal pada Bryant, kemudian berlalu.


Brak...!!


Bryant menggebrak meja dengan tatapan kesal, "dia selalu ingin membuatku marah, dia lebih memilih roti dari pria sialan itu dari pada aku!"


"Marc, cari tahu nama pria itu dan bawa laporannya padaku, kita lihat... apa yang bisa aku lakukan terhadapnya, karena berani mendekati Istriku!" geramnya kesal.

__ADS_1


Marc mengangguk kemudian berlalu. Begitulah Ia, dia tak pernah bisa menolak apa-pun tugas yang Bryant perintahkan, entah itu hal baik atau buruk sekali-pun.


"Mood-ku sedang tidak baik saat ini, kerja pun tidak akan fokus, lebih baik aku menjernihkan kepalaku dulu." Bryant berlalu keluar meninggalkan makanan tersebut tanpa tersentuh sedikit-pun.


__ADS_2