Mengandung Benih Sang Mantan!

Mengandung Benih Sang Mantan!
Bab 33- Hak seorang Ayah


__ADS_3

Bryant terkekeh pelan, membuat Trisya sontak menoleh kearahnya, "kenapa tertawa?"


"Tidak papa, hanya merasa senang saja. Terimakasih, untuk makan malamnya, aku pulang dulu." Bryant bangkit dan berjalan menuju pintu, tangannya hendak memutar gagang pintu, namun seruan Trisya menghentikan niatnya barang sejenak.


"Besok datanglah lagi saat sarapan." Trisya melengos setelah mengatakan hal itu.


"Baiklah, selamat malam." Bryant pun berlalu.


Trisya menoleh kembali ke pintu, menatap bayangan Bryant yang telah menghilang di telan pintu. Trisya menghela napas pelan, dia menghempaskan diri di sopa dengan kepala menengadah menatap langit-langit ruangan, sambil memijat keningnya yang terasa pening.


'Sebetulnya ada apa denganku? Kenapa aku terus memperhatikannya? Apa aku masih punya perasaan untuknya?'


"Tidak, itu tidak mungkin. Ini pasti hanya karena dia sudah menyelamatkan Zalia, iya pasti hanya karena itu, pasti." gumam Trisya, dia menepis pikiran aneh yang timbul du kepalanya.


...----------------...


Keesokan paginya, saat Zalia terbangun, sarapan sudah tersedia di atas meja.


"Pagi sayang!" sapa Trisya, dia masih menyelesaikan sisa masakan yang di buatnya di atas wajan.


"Pagi juga Mom, Mommy masak banyak lagi?" Zalia menilik isi meja yang nampak penuh.

__ADS_1


"Iya, Om Bryant masih sakit, jadi Mommy harus bertanggung jawab, alasan dia sakit karena menyelamatkan putri kecil Mommy yang cantik ini." Trisya mengusap pipi Zalia sembari lewat, dia meletakan mangkuk makanan terakhir yang di buatnya, kemudian melepas celemek dan menggantungkannya di dinding dapur.


"Mommy akan panggil Om Bryant dulu." Trisya berlalu keluar menghampiri pintu rumah Bryant yang berada tepat di sebelah pintu rumahnya.


Tangan Trisya terhenti di udara saat hendak mengetuk pintu rumah Bryant, karena pria itu telah lebih dulu keluar, "pagi!" sapanya dengan full senyum di wajahnya.


"Pagi," balas Trisya datar, "aku memasak banyak, cukup untukmu juga," ucap Trisya, dia bingung harus dengan kata apa dia mengajak Bryant sarapan bersama.


"Apa boleh?" tanya Bryant ragu.


"Ya, bukankah aku kemarin bilang selama lukamu belum sembuh, aku akan mengurus makananmu." Ujarnya sembari masuk kembali ke dalam rumahnya, meninggalkan Bryant yang masih berdiri di ambang pintu.


"Pagi Om!" sapa Zalia disertai senyuman manis. Bryant mengusap lembut kepala Zalia, kemudian duduk di sampingnya.


"Apa Zalia tidur nyenyak?"


"Hem, aku mimpi indah semalam." Ujarnya ceria disertai anggukan kepala.


"Benarkah, coba ceritakan pada Om, Om penasaran," Bryant menanti dengan tatapan tak sabar.


Zalia berpikir sejenak, "gak bisa Om, ini rahasia."

__ADS_1


"Yah, sangat di sayangkan, padahal Om penasaran," keluhnya, Bryant mulai menyuapkan makanan ke mulutnya, sedang Trisya, dia memilih diam dan tak ikut bergabung dengan pembicaraan Bryant dan Zalia.


Selepas sarapan, Bryant duduk di sopa sembari menemani Zalia menonton kartun, "kamu mau kerja?" tanya Bryant saat melihat Trisya keluar dari kamar dengan pakaian rapi.


"Hem, aku harus bekerja. Aku bukan seorang Bos besar sepertimu yang bisa cuti selama yang kau mau," ujar Trisya, sembari membetulkan kancing lengan kemejanya yang terbuka.


"Seperti yang kamu bilang, aku Bos-nya, aku memberimu cuti selama aku cuti, jadi tidak masalahkan?"


Trisya melempar tatapan aneh, "tidak bisa, aku harus tetap bekerja, meskipun aku sudah setuju untuk mengurus makananmu selama kau sakit, aku sendiri juga butuh makan."


"Aku akan tetap memberimu gaji meski kau tidak bekerja, bagaimana?"


"Maaf, aku tidak bisa makan gaji buta, aku akan menerima hasil keringatku sendiri," Trisya bersikukuh, "oh ya, aku ingin titip Zalia, apa kau--?" belum sempat Trisya menyelesaikan ucapannya, Bryant langsung memotongnya.


"Aku bisa, pergilah bekerja dengan tenang, jangan cemaskan Zalia, aku akan menjaganya dengan baik."


"Terimakasih kalau begitu, maaf sudah merepotkanmu," Trisya mengalihkan pandangannya.


"Apa yang kau katakan, itu sama sekali tidak merepotkan, justru aku sangat senang. Hati-hati di jalan," Trisya mengangguk, dia mencium kepala Zalia sekilas, kemudian berlalu.


'Aku akan memberimu kesempatan bersama Zalia meski aku merasa cemas, walau bagaimanapun, kau adalah Ayah kandung putriku, aku tidak ingin merenggut hak itu darimu.'

__ADS_1


__ADS_2