
"Kenapa dia harus datang lagi dalam hidupku, kenapa? Kenapa dia tidak menjalani hidupnya sendiri saja." Tubuh Trisya bergetar karena tangisnya, Jessy merengkuhnya dan meminjamkan bahu untuk Trisya bersandar.
"Dia Ayahnya Zalia?" tanya Jessy pelan.
"Ya, tapi tolong rahasiakan ini dari Zalia, aku tidak ingin dia mengetahuinya, dan ingin pergi dariku," Isak Trisya lirih.
"Apa yang kau katakan, itu tidak mungkin terjadi. Zalia putrimu, dia hanya akan tinggal bersamamu, jangan berpikir sembarangan. Lagi pula, aku yakin meski-pun Zalia tahu Ayahnya masih ada, dia akan tetap memilih dirimu, Trisya, percayalah padaku." Jessy mengusap lembut punggung Trisya.
"Jessy benar, Trisya. Tidak akan ada yang akan merebut Zalia dari tanganmu, aku jamin!" Ben ikut menambahkan.
Sedang Zalia gadis itu diam sambil bersandar di daun pintu, mendengarkan percakapan orang dewasa sembari mendekap boneka beruang berwarna merah muda.
"Meski aku senang karena mengetahui bahwa aku masih punya Daddy. Tapi, mendengar Mommy menangis karena Daddy, rasanya lebih baik tidak punya Daddy saja." Gumam Zalia dalam hati.
...----------------...
Keesokan harinya, Trisya dan Zalia sudah siap hendak pergi mengantar Zalia ke-sekolah.
"Hay, butuh tumpangan!"
Diluar dugaan Bryant sudah menunggu Trisya di depan pintu dengan pakaian rapi. Zalia menatap lekat wajah Bryant dengan bibir bungkam, tak ada senyum atau pun sapaan yang muncul di bibir mungilnya.
"Tidak usah, aku akan naik taksi!" Tolak Trisya sembari menarik tangan Zalia agar mengikuti langkahnya.
"Tidak baik menolak itikad baik seseorang, lagi pula dengan menaiki mobilku kau bisa berhemat." Ucapnya mencoba mempengaruhi. Dia mengikuti langkah Trisya di belakangnya.
Trisya memutar badan menghadap Bryant, "berhenti mengikuti-ku dan urus kehidupanmu sendiri, Tuan Maverick. Aku tegaskan padamu, hubungan kita sudah berakhir saat kau menandatangani surat cerai itu."
Bryant tersenyum pelan, "aku tahu, maka dari itu aku ingin memulainya kembali. Selama aku masih bernyawa, aku akan tetap mengikuti-mu kemana-pun kamu pergi, bahkan setelah aku jadi hantu sekali-pun!"
Zalia memekik ketakutan sembari bersembunyi di belakang Trisya, "dasar gila!" hardik Trisya, dia mengusap kepala Zalia dengan lembut.
"Maaf aku telah menakuti-mu, siapa nama-mu gadis manis?" Bryant membungkuk menyapa Zalia.
"Jauhi dia!" Trisya mundur beberapa langkah kebelakang, membuat Zalia refleks terdorong tubuh Trisya hingga hampir terjatuh.
"Hey, hey, tenang saja aku tidak akan menyakiti putri temanmu, kenapa reaksi-mu begitu." Bryant kembali menegakan tubuhnya.
__ADS_1
"Ayo Nak, kita akan terlambat ke-sekolah!" Trisya berlalu menarik lengan Zalia mengikutinya.
Bryant menggelengkan kepalanya pelan dengan bibir tersenyum, "Trisya, Trisya, kamu pikir aku akan percaya kalau dia putri temanmu, dari reaksimu saja aku bisa melihat bahwa dia bukan orang lain, melainkan putrimu sendiri. Kenapa kau tidak jujur saja padaku, meski pun kau sudah punya anak dari orang lain aku tidak masalah, aku akan menganggap dia seperti putriku sendiri."
Bryant melenggang turun lantas membawa mobil mengikuti taksi yang Trisya tumpangi, dia meperhatikan setiap gerak-gerik Trisya dari kejauhan, hanya itu yang bisa dia lakukan untuk saat ini, memastikan Trisya pulang dan pergi dengan selamat.
"Pagi Trisya!"
"Pagi!"
Semua orang saling menyapa satu sama lain, Trisya kemudian duduk di mejanya dengan secangkir kopi untuk penyemangat di pagi hari.
"Nona Trisya, anda di panggil Bos ke-ruangannya!"
Trisya berdecak kesal, "apa lagi yang dia inginkan!" geramnya kesal, dia meremas kertas kosong yang di pegang-nya dan melemparnya ke tong sampah.
"Baiklah, aku akan segera kesana!" Trisya beranjak, berjalan dengan langkah cepat disertai rasa kesal.
Brak...!
"Sebenarnya, apa yang kau ingin...kan--," mata Trisya melebar sempurna kala melihat dua orang di ruangan itu termasuk kepala Divisi tempat dia bekerja.
"Apa yang kau lakukan Trisya, kenapa kau tidak sopan," keluh Pak Han.
"Ma-maafkan saya Pak, sa-saya hanya sedang banyak pikiran." Trisya menunduk malu, seraya meminta maaf.
"Minta maaflah pada Pak Bryant!" tegasnya dengan tatapan tajam.
"Ma-maafkan saya Pak." Ucapnya dengan enggan.
"Baiklah tidak masalah, tapi kau harus memberiku kompensasi." Ucapnya, tentu saja Bryant tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang baik ini.
"Kompensasi?!" Trisya dan Pak Han mengulangi kata yang Bryant ucapkan.
"Ya, kompensasi! Apa Nona Trisya tidak ingin memberikannya?"
"Haha, mana mungkin begitu Pak, tentu saja Trisya akan melakukannya, ya kan Trisya?" desak Pak Han dengan tatapan mengancam.
__ADS_1
"Ya, tentu saja. Aku akan melakukan apa pun yang Pak Bryant perintahkan." Trisya melempar pandang kearah lain.
"Oke bagus kalau begitu, aku akan pegang kata-kata Nona Trisya," Bryant tersenyum senang, "tapi untuk sekarang aku ingin kamu mengerjakan laporan ini untuk rapat nanti siang, Tuan Han bilang ada beberapa poin yang harus di tambahkan."
"Baiklah, akan segera saya kerjakan." Trisya menyambar berkas tersebut dari tangan Bryant lantas berlalu.
"Ck, wanita ini," geram Pak Han kesal, dia tak enak hati pada bos barunya itu.
"Maafkan atas sikap Trisya, Tuan. Biasanya dia tidak begitu, mungkin dia terlalu lelah akhir-akhir ini makanya sikapnya begitu."
"Tidak masalah, aku mengerti, justru sikap itulah yang aku suka dari dia." Ucap Bryant sembari mendudukkan diri di kursi kerjanya.
Hah? Pak Han tampak heran dengan ucapan Bryant barusan, "apa anda dan Trisya?" dia menebak sesuatu.
Bryant menaruh jari telunjuk di bibirnya, memberi Isyarat agar Pak Han tetap diam, "ah, baiklah aku mengerti, aku akan tetap diam."
"Terima kasih Pak!" Bryant tersenyum senang.
"Aku akan berusaha membantu Bapak sebisanya," Pak Han mengedipkan sebelah matanya.
"Tapi aku sungguh penasaran apa hubungan kalian sebelumnya? Maaf jika aku lancang."
"Tidak papa lagi pula kau terlanjur tahu," Bryant bangkit dan berdiri menghadap jendela, "dulu aku membuat kesalahan, membuat Trisya pergi dari hidupku, setelah semua terjadi aku menyadari apa yang aku lakukan itu adalah kesalahan besar, aku sadar bahwa aku mencintainya."
"Jadi kalian mantan kekasih?"
Bryant menggeleng pelan, "bukan, kami adalah mantan suami istri." Mata Pak Han melebar sempurna.
"Jadi andalah mantan suami sialan yang sering Trisya bicarakan, oops!" Pak Han keceplosan, membuat dia kembali bungkam seketika.
Bryant terkekeh pelan, "apa dia sering membicarakan tentang-ku?" dia tampak penasaran.
"Tidak, hanya pernah beberapa kali. Itu-pun karena dia ketahuan punya anak."
Bryant mengerutkan dahi, "dia punya anak?"
"Ya, dia punya seorang anak perempuan, berusia lima tahun." Jawab Pak Han memperjelas perkataannya.
__ADS_1
"Lima tahun? Dia juga pergi lima tahun lebih, hampir enam tahun, jika di hitung dari lamanya dia menghilang seharusnya dia pergi dalam keadaan hamil." Bryant melebarkan matanya.
"Apa dia pernah cerita tentang hal lain, seperti anak siapa putrinya itu?"