
Trisya pulang bersama Jesi, namun di persimpangan jalan mereka berpisah, mengharuskan Trisya berjalan seorang diri. Hari ini Jo tidak datang menjemputnya dia bilang ada urusan di kantor.
Tak ada rasa kecewa, namun ketenangan yang Trisya rasakan. Apa aku salah telah menerima Jo? Pertanyaan itu kembali muncul dalam benak Trisya, sampai kini dia masih ragu pada keputusannya.
Tring...!
Suara notifikasi ponsel, mengharuskan Trisya membukanya.
'Trisya, kapan pulang aku sudah ada di depan apartemen-mu, aku punya kejutan untukmu.' Bunyi pesan tersebut yang ternyata dari Jonatan.
Trisya mendengus kasar sembari mempercepat langkahnya, benar saja Jo sudah ada di depan apartemennya dan dia tidak sendirian, dia membawa Ibunya ikut serta.
Glek...
Saliva Ia teguk, sungguh suasana seperti ini membuat dia canggung setengah mati.
Jo melambaikan tangan, Trisya melangkah pelan mendekati keduanya.
"Halo Tante, saya Trisya." Trisya menunduk sopan.
"Saya sudah tahu, Jo selalu membicarakan tentangmu di rumah," Trisya tersenyum canggung.
"Mari masuk!" Trisya memimpin jalan dan memasuki rumahnya.
Perbincangan mulai serius, ternyata Ibu Jo datang membawa lamaran pernikahan.
"Dari pada berkencan lebih baik kalian menikah, Ibu sudah tua dan ingin melihat cucu terlebih dulu sebelum meninggal." Ujarnya membuat bantahan seketika terlontar dari mulut Jo.
"Apa yang Ibu katakan, Ibu akan berusia panjang, tapi aku setuju dengan keputusan Ibu, aku juga ingin segera menikah. Trisya, bagaimana menurutmu?"
Trisya terdiam sejenak, dia menghela napas meyakinkan diri, "baiklah, mari menikah."
'Untuk pertama kalinya aku mengambil keputusan sendiri, aku harap aku tidak salah langkah.'
...----------------...
__ADS_1
Hari terus berjalan, Jo dan Trisya singgah untuk makan di cafe terlebih dahulu sebelum pulang, mereka baru saja memilih gaun pengantin dan Jo memilih Jas untuk Ia kenakan sendiri.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, pernikahan tinggal menghitung hari.
"Makanlah yang banyak, agar kamu kuat." Ucap Jo, seraya mengisi piring Trisya dari piringnya sendiri.
"Cukup Jo, ini terlalu banyak. Kau makanlah sendiri." Trisya mengembalikan makanan itu ke piring Jo.
Jonatan meraih tangan Trisya dan menggenggamnya.
"Trisya, terima kasih sudah memberiku kesempatan, kau tahu aku sudah putus asa untuk mendapatkan-mu, aku pikir hari ini tidak akan pernah ada." Jo menatap lembut wajah Trisya.
Trisya hanya membalasnya dengan senyuman lemah, "sudah lah Jo, ayo makan dulu." Trisya melepas genggaman tangan Jo, dan beralih mengambil sendok dan garpu, berusaha memutus kecanggungan.
Dia menyuapkan makanan ke-mulutnya, saat lidahnya merasakan rasa makanan itu, tiba-tiba sebuah dorongan muncul dari dalam perutnya, membuat Trisya berlari seketika menuju toilet.
Huek...huek...huek...
Trisya mengeluarkan seluruh isi perutnya di Whastaple berkali-kali, hingga ia merasa kelelahan, dia menatap dirinya di cermin.
Dia menyadari sesuatu, seingatnya sejak sampai di negara ini dia belum datang bulan sama sekali, dia lekas mengecek ponselnya dia selalu menandai kalender di ponsel sebagai pengingat waktu haid. Dan ternyata, dia sudah terlambat haid dua bulan.
Deg...!
Setelah mendapatkannya Ia pun lekas kembali, untuk menggunakannya.
Rasa tegang ia rasakan, saat menunggu hasilnya keluar, "tenangkan dirimu Trisya, itu pasti hanya dugaan-mu saja, mana mungkin melakukan itu dua kali kau hamil. Ini pasti hanya keterlambatan biasa." Trisya meyakinkan diri, walau jujur dalam hatinya dia sendiri ragu dan takut.
Trisya menatap tes kehamilan yang di pakainya barusan.
Deg...!
Matanya melebar sempurna, hatinya mencelos seketika, kala melihat dua garis merah terpampang nyata di depan mata.
"Tidak, ini tidak mungkin. Ini pasti salah, testpack ini pasti sudah kadaluarsa, aku harus beli yang baru dan mengeceknya lagi." Trisya melemparkan testpack tersebut ke tong sampah dan berlalu keluar. Dia berusaha menolak kebenaran, dia meyakinkan hati bahwa dirinya tidak hamil.
__ADS_1
Trisya kembali duduk di hadapan Jo, "Trisya kenapa lama sekali?" tanya Jo heran.
"Tadi banyak orang di toilet jadi aku mengantri dulu, jadi lumayan lama." Trisya berdalih.
"Kamu tidak papa kan? Aku terkejut saat kamu tiba-tiba berlari ke-toilet."
"Tidak papa Jo, aku tidak bisa menahan diri tadi." Jo hanya menganggukkan kepala sembari tersenyum, dia melirik ekspresi wajah Trisya dari sudut matanya.
"Tidakkah kau ingin mengatakan sesuatu padaku?" tanya Jo.
"Hah sesuatu? Sesuatu apa?" Trisya menyesap minumannya untuk menghilangkan rasa aneh di mulutnya bekas cairan muntahannya lewat.
"Tidak, aku hanya berpikir kau tidak banyak keinginan untuk pernikahan kita. Apa sebetulnya kau tidak ingin menikah denganku, aku merasa hanya aku yang bahagia untuk pernikahan kita," Jo berucap sembari menghembuskan napas pelan.
"Apa yang kau katakan, aku bahagia. Kau terlalu banyak berpikir." Trisya menggeleng pelan.
"Habiskan dulu makanan-mu setelah itu aku akan mengantarmu pulang." Ujar Jo, Trisya hanya mengangguk sebagai jawaban.
...----------------...
Trisya membaringkan diri di atas ranjang, dia menutup mata dengan punggung lengannya membiarkan pikirannya jauh berkelana.
'Bagaimana jika kau memang hamil? Apa yang harus aku katakan pada Jo? Bagaimana aku harus menjalani hidupku, tentu Jo tidak akan mau menerima anak yang bukan darah dagingnya. Tuhan, kenapa ini harus terjadi padaku?' Batin Trisya bergumam.
'Aku harus memastikannya sekali lagi, mungkin saja tadi hanya keliru.'
Trisya bangkit dan beralalu keluar, dia berjalan menuju sebuah apotek yang beroperasi 24 jam. Dia kembali membeli testpack untuk membuktikan kehamilannya, kali ini dia tidak hanya membeli satu buah, melainkan tiga buah testpack sekali-gus.
Selepas itu Trisya pun lekas pulang dan menggunakan benda tersebut segera.
"Aku mohon jangan hamil." Gumam Trisya, dia berdoa agar apa yang Ia khawatirkan tak benar-benar terjadi.
"Aku mohon aku mohon." Lirihnya.
Namun, apa yang sudah terjadi memang harus terjadi, kedua testpack itu sama seperti sebelumya dua garis merah di masing-masing benda tersebut muncul dalam waktu yang bersamaan.
__ADS_1
Trisya menangis frustasi, tubuhnya merosot jatuh ke-lantai. Dia mendekap lututnya membenamkan wajah disana, air mata tak mampu Ia bendung lagi.
"Aku harus bagaimana? Aku tidak ingin anak ini lahir ke-dunia, hiks!" Tubuh Trisya bergetar dia tak menyangka kemalangan akan terus menimpanya hingga saat ini.