Mengandung Benih Sang Mantan!

Mengandung Benih Sang Mantan!
Bab 24- Rindu Papah


__ADS_3

"Pak Bryant ini, udah ganteng, ramah, baik hati, gak sombong lagi," puji Liana tiada henti saat mereka tengah berjalan kembali ke meja mereka.


Trisya memutar bola mata malas, dia yang tahu betul seperti apa tabiat Bryant sesungguhnya hanya bisa mengejek dalam hati.


"Iya bener banget, bos mana coba yang mau duduk dan makan bareng di kantin sama karyawan biasa macam kita ini, tapi Pak Bryant, haish...," Dion menambahkan, tampak kekaguman muncul di wajahnya.


"Kenapa kalian tidak katakan ini di hadapannya tadi, siapa tahu gaji kalian naik." Ucap Edwin.


"Itu namanya menjilat," keluh Liana tak setuju.


"Ya setidaknya kalian dapat balasan untuk pujian yang kalian berikan," ujarnya tanpa dosa, dia berjalan mendahului, tampaknya Edwin tidak terlalu menyukai Bryant.


Trisya mendengus senyum, dia mengejar Edwin dan berjalan sejajar meninggalkan Liana dan Dion yang merutuki Edwin dari belakang.


"Kamu gak suka sama bos baru itu?" tanya Trisya.


"Kenapa aku harus suka padanya, lagi pula aku bekerja untuk uangnya. Asalkan aku tidak di pecat, itu sudah cukup." Ucapnya, sambil menenggak air dari botol plastik yang Ia bawa.


"Menurutmu, bos baru itu bagaimana?" Edwin balik bertanya, dia melirik wajah Trisya sekilas.


"Aku tidak terlalu mengenalnya, jadi aku tidak ingin berkomentar," dalih Trisya.


"Oh begitu," Edwin tersenyum, dia mendudukan diri di kursi dan kembali bekerja, begitu-pun Trisya, di susul Dion dan Liana.


Selepas makan siang, seperti biasa Bryant pergi untuk menemui Zalia di taman bermain, itu menjadi rutinitasnya sekarang, dan Zalia pun tampaknya sudah terbiasa.


"Om tetangga!" teriak Zalia dari atas perosotan, dia melambaikan tangannya menyapa Bryant.


Bryant tertawa pelan, dia pun membalas lambaian tangan Zalia, walau dia sudah mengatakan siapa namanya, namun tetap saja Zalia memanggilnya begitu.


"Kemarilah, Om bawakan Zalia coklat!"


Dengan segera Zalia meluncur dengan semangat, dia berlari kegirangan menyeruak pada Bryant.


"Coklat, wah terima kasih Om!" Zalia tampak kegirangan.


"Sama-sama!" Bryant mengangkat Zalia dan mendudukannya di sampingnya.


"Pertemuan kita masih rahasia kan?" tanya Bryant sembari memakan coklat yang Ia beli tadi.


"Hmh, Mommy masih belum tahu, aku gak bilang Mommy. Tapi Om, kenapa Om takut sama Mommy, Om gak niat nyulik aku kan?"

__ADS_1


Bryant terkekeh pelan, dia mengacak rambut Zalia gemas, "kalau Om mau nyulik kamu, dari dulu sudah Om lakukan, lagi pula banyak anak kecil cantik yang Om temui, kenapa Om harus nyulik kamu."


"Jadi menurut Om, Zalia gak cantik?" Zalia berdiri sambil berkacak pinggang, mata bulatnya menyorot pada Bryant, dan bibir kecil tipis merah mudanya mematut lucu.


Lagi-lagi Bryant tertawa, dia sangat gemas dan ingin sekali memeluk Zalia, buah hatinya yang tidak tahu bahwa dirinya adalah Ayah kandungnya.


"Emang kamu cantik gitu?" Bryant terus mengejeknya.


"Kata Mommy aku cantik, ko!"


Bryant membungkuk mensejajarkan tingginya dengan sang putri, "kamu tuh paket komplit, cantik, lucu, imut dan menggemaskan, makanya Om suka sama kamu," Bryant mencubit kedua pipi Zalia gemas.


"Aw... Sakit tahu Om!" Keluh Zalia dengan wajah mematut dia menggosok pipinya pelan, "jadi Om suka sama aku, bukan sama Mommy?" mata Zalia tampak menyelidik.


Bryant membetulkan kembali posisinya, dia menghindari tatapan Zalia yang nampak mencari kebenaran dari matanya.


"Kalau Om bilang, Om lebih suka kamu dari pada Mommy, gimana?"


"Aku masih kecil Om, saat aku umur 18 tahun nanti, pasti rambut Om sudah beruban," Zalia tergelak menertawakan Bryant.


"Astaga anak ini," Bryant ikut tertawa pula.


"Benarkah, Om punya anak?" Zalia kembali duduk.


"Hem, Om punya anak perempuan."


"Woah, apa dia cantik?"


"Tentu saja, dia sangat cantik."


"Aku ingin lihat, apa Om punya fotonya?" tiba-tiba saja Zalia tampak bersemangat.


"Om tidak punya fotonya." Zalia tampak kecewa.


"Dimana dia sekarang?"


"Dia tinggal di suatu tempat yang jauh."


"Oh begitu, Om pasti sangat merindukannya, kan?"


"Sangat!" Bryant menghela napas berat.

__ADS_1


"Kalau begitu ayo telpon dia," usul Zalia.


"Om tidak punya nomor telponnya."


"Is, Om ini Ayah macam apa, kenapa nomor telponya saja tidak punya." Keluh Zalia, sambil kembali makan coklat tadi.


"Tidak papa Om tidak mendengar suaranya, asal Om tahu dia baik-baik saja dan tumbuh jadi gadis yang cantik."


Zalia menunduk menatap coklat yang tinggal separuh dalam genggamannya, "Zalia kenapa?" tanya Bryant yang memerhatikan perubahan sikap Zalia.


"Apa Zalia rindu Papah?" tanya Bryant. Zalia menggeleng pelan.


"Kenapa?"


"Karena Zalia tidak punya Papah, bagaimana Zalia bisa rindu," Zalia tersenyum pelan.


Perkataan itu menyayat hati Bryant, dia mengepalkan tangannya, "apa Zalia benci Papah?"


"Tidak," Zalia menggeleng pelan.


"Kenapa?" Bryant menatap heran.


"Karena berkat Papah, Zalia ada di dunia Mommy, itu yang Mommy bilang. Walau aku tidak tahu apa maksud Mommy, tapi aku Ia-kan saja," Zalia kembali memakan coklatnya yang sempat tertunda.


"Apa Zalia pernah bertanya pada Mommy, siapa Papahnya Zalia?"


"Tidak pernah, aku tahu Mommy punya alasan untuk tidak mengatakannya, lagi pula aku tidak peduli, ada Mommy saja sudah cukup."


Bryant menunduk mengehela napas dalam, "Ini sudah sore sudah waktunya Zalia pulang, Ayo Om antar."


Bryant bangkit dan berjalan menuntun Zalia, saat itulah Bibi Merry mendekat.


"Sudah mau pulang? Apa Zalia senang bermainnya?"


"Iya Bibi, Zalia sangat senang. Baiklah mari kita pulang."


"Biar saya antar Bi."


"Terima kasih, Tuan."


Dan mereka pun berlalu menaiki mobil Bryant.

__ADS_1


__ADS_2