
Sore harinya, Trisya sudah kembali usai bekerja, suasana rumah tampak sepi, dia mengedarkan pandangan ke-setiap penjuru.
"Zalia!" panggil Trisya, dia mulai berkeliling mencari keberadaan putrinya, "kemana Bryant membawa Zalia?"
Dengan wajah panik Trisya berjalan keluar dan mengetuk pintu rumah Bryant, namun tak ada jawaban dari sang pemilik.
"Bryant, apa kau di dalam?" panggil Trisya, karena tak kunjung mendapat jawaban, Trisya memutar gagang pintu berusaha membuka pintu itu sendiri. Diluar dugaan, pintu itu terbuka, nampaknya Bryant tak menguncinya.
"Zalia!" panggil Trisya, dia melangkah masuk dengan hati-hati, "Zalia sayang, apa kau disini?"
Trisya memicingkan telinganya, suara air membuat perhatiannya teralihkan, Trisya berjalan ke-asal suara tersebut.
Ceklek...
Trisya membuka pintu, ternyata ini kamar Bryant, "Zalia?!" panggilnya lagi, dia melongokkan kepalanya kedalam.
Klak... Pintu kamar mandi nampak terbuka, Bryant muncul dari arah sana, dia hanya mengenakan baju mandi sepaha berwarna putih dengan dada terbuka.
"Ah maaf, aku sudah lancang dan masuk ke kamarmu," Trisya menundukkan pandangannya, "aku sedang mencari Zalia, dimana dia?" Trisya lanjut bertanya, matanya tak mampu menatap Bryant.
"Dia tidur di kamar sebelah," jawab Bryant.
"Oke!" Trisya menutup kembali pintu kamar Bryant, dia menghela napas kasar.
__ADS_1
'Sial, apa yang aku pikirkan!' gerutu Trisya dalam hati, pasalnya di pikirannya muncul bayangan-bayangan aneh. Bayangan saat dia dan Bryant tidur bersama dulu, dan sialnya sekarang Trisya tak lagi membencinya.
"Sepertinya aku sudah gila!" Trisya menggelengkan kepalanya, berusaha membuang pikiran aneh yang semakin lama terus bermunculan.
Ckelek... Trisya membuka pintu kamar yang di maksud Bryant tadi, dan benar saja Zalia tengah tertidur lelap di atas ranjang tersebut.
"Sepertinya dia kelelahan, kami bermain banyak permainan sepanjang hari," ucap Bryant dari arah belakang, entah sejak kapan dia muncul. Dia telah berpakaian rapi, bahkan wangi tubuhnya dapat tercium oleh Trisya.
"Oh!" Trisya menjawab kaku, dia tampak gugup dan berusaha terus menghindari tatapan Bryant.
Pria itu tersenyum samar, "mau kopi?" tawarnya.
"Baiklah."
"Apa kamu tidak merindukan Kakek dan Ayah?" pertanyaan itu membuat Trisya sontak menoleh, "mereka marah besar saat aku menggugat cerai kamu, apa lagi saat mereka tahu kamu pergi dan menghilang entah kemana, mereka menyalakan aku dan tak ingin menemuiku." Bryant tersenyum miris.
"Sampai saat ini, Ayah belum mau bicara denganku, hanya Kakek yang menghubungiku, itu pun hanya untuk masalah pekerjaan." Bryant menghela nafas di akhir katanya.
Trisya terdiam sejenak, dia menyesap sedikit cairan hitam kecoklatan tersebut, lantas berucap, "aku pikir mereka sudah melupakan wanita biasa sepertiku, tapi ternyata tidak. Mereka terlalu baik, untuk ukuran orang besar, seharusnya mereka melupakanku kan, masih banyak wanita diluar sana yang bahkan jauh lebih layak menjadi menantu mereka di banding aku, yang hanya seorang gadis buangan," Trisya menertawakan dirinya sendiri, dia menoleh pada Bryant yang sama sekali tidak ikut tertawa.
"Apa itu tidak lucu?" tanya Trisya, karena melihat tatapan datar Bryant.
"Sama sekali tidak," Bryant menghela nafas pelan, kemudian bangkit menatap keluar jendela, "karena kini aku tahu pilihan mereka sangat benar, kamu wanita yang berbeda dari para wanita yang pernah aku kenal."
__ADS_1
"Memangnya berapa banyak wanita yang sudah kamu pacari?" tanya Trisya, terselip nada tak suka dalam suaranya.
Bryant melirik ekspresi wajah Trisya dari ujung matanya, "tidak banyak, hanya sekitar... Sepuluh wanita."
Trisya menggerutu tanpa suara, "dasar pembohong, kau pikir aku tidak tahu kalau kau suka berkencan dengan banyak wanita."
Bryant tersenyum samar, sepertinya dia harus meluruskan kesalahpahaman yang sengaja dia buat dulu.
"Aku ingin meluruskan sesuatu," Bryant duduk kembali.
"Apa?" tanya Trisya.
"Soal dulu, saat aku sering bermalam diluar rumah, jujur saja aku memang suka minum-minum, tapi aku tidak pernah tidur dengan sembarang wanita," ujarnya, dan tentu saja Trisya tak akan percaya dengan penuturannya itu.
Trisya mendengus pelan, "kau pikir aku akan percaya? Tapi ya, masalah itu sudah tidak penting lagi bagiku."
"Aku serius Trisya, kau yang pertama dan terakhir, aku memang bukan orang baik, tapi aku orang yang paling peduli tentang kesehatan. Aku sangat takut terkena penyakit menular dan berakhir di ruangan Isolasi." Kekehnya pelan.
"Lalu waktu itu apa?" kini Trisya menuntut jawaban, pertanyaannya merajuk pada kejadian saat dia memergoki Bryant membawa wanita ke kamarnya, mereka bercengkrama di atas ranjang dengan bertelanjang dada, lebih tepatnya Bryant yang melakukan itu, sedang wanitanya Trisya tak ingat betul dia berpakaian lengkap atau tidak.
"Seperti yang sebelumnya, Aku ingin membuatmu salah faham dan meninggalkan aku dengan sendirinya, aku membayar seorang wanita malam untuk melakukan sandiwara itu di hadapanmu. Aku sangat menyesal atas kejadian itu Trisya, aku memang pria bodoh dan kenak-kanakan."
Trisya terdiam sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain, ternyata kedewasaan tidak bisa di ukur dengan umur. Jadi, apa dia harus bahagia mendengar fakta itu dari Bryant atau bagaimana? Entahlah, Trisya sendiri bingung harus berekspresi seperti apa.
__ADS_1