Mengandung Benih Sang Mantan!

Mengandung Benih Sang Mantan!
Bab 35 - Perlahan menerima


__ADS_3

''Hem, jadi begitu,'' Trisya mendengus senyum, ''hah, aku memang bodoh bisa-bisanya aku tertipu dengan trik seperti itu.''


''Kamu tidak bodoh, jangan berkata begitu,'' ucap Bryant tak terima.


''Mommy,'' panggil Zalia dari arah dalam.


''Mommy, disini sayang, kemarilah!'' jawab Trisya setengah berteriak.


Zalia berjalan dengan langkah pelan menghampiri Ibunya yang tengah duduk di sopa, ia membenamkan diri dalam pelukan Trisya, sembari mengucek matanya.


''Zalia nyenyak tidurnya?'' gadis kecil itu mengangguk pelan menanggapi pertanyaan Bryant.


''Anak Mommy lapar gak? Mau makan Spaghetti?'' tawar Trisya.


''Mau!'' ucap Zalia penuh semangat.


''Kalau begitu ayo kita masak,'' Trisya bangkit dan berlalu sambil menuntun Zalia, lupa sudah kalau saat ini mereka berada di rumah Bryant.


"Apa disini ada bahan makanan?" tanya Trisya yang sudah berada di dapur, dia melongokkan kepalanya melihat pada Bryant.


"Entahlah, mungkin ada, aku tidak pernah memasak. Tapi, Marc pernah belanja dan memasak disini, mungkin ada." Bryant bangkit dan ikut bergabung.


"Baiklah." Trisya mulai menjelajah setiap lemari dan kulkas, dia menemukan apa yang dia butuhkan dan sisanya dia mengambil dari rumahnya.


Tak butuh waktu lama, masakannya pun jadi, tiga porsi Spaghetti tersaji di atas meja, "bagaimana rasanya sayang?" Trisya meminta pendapat.


"Enak Mommy!" Jawab Zalia, anak itu tersenyum manis.


Trisya menatao putrinya penuh kasih sayang, dia mengusap pelan rambut putrinya itu, "Zalia," panggilan itu refleks membuat Zalia menatap sang Ibu, manik mata hitam bulatnya menuntut pertanyaan, "apa Zalia tidak ingin tahu siapa Ayah Zalia?"


Bryant sontak mendongak, menyimak apa yang ingin Trisya katakan.

__ADS_1


Lagi-lagi Zalia tersenyum, "aku tidak ingin," Zalia menggeleng pelan.


"Kenapa sayang?"


"Mommy pasti punya alasan, jadi aku tidak akan bertanya, atau pun memaksa Mommy mengatakannya."


Trisya membawa Zalia dalam pelukannya, pandangannya bertemu dengan mata Bryant, mereka saling bersitatap.


"Sebetulnya sayang, Ayah Zalia masih ada, dia disini."


"Disini? Dimana?" Zalia mengedarkan pandangannya, matanya berakhir pada sosok Bryant yang kini duduk di hadapannya.


"Apa Om tetangga?" Zalia menuntut jawaban.


Trisya mengangguk, "ya, Om Bryant adalah Ayah Zalia."


Bryant menunduk sambil menghela napas pelan, jujur saja sebetulnya Bryant belum siap untuk hari seperti ini, tapi jika Trisya sudah memutuskan maka dia pun harus mengikuti langkahnya.


Zalia menatap Bryant dengan pandangan berbeda, "ada apa sayang, apa Zalia tidak senang?"


"Apa maksud Zalia, Mommy tidak mengerti?" Trisya menatap bingung gadis kecil itu, dia melirik Bryant meminta pendapat, namun Pria itu hanya bungkam.


"Kalau Mommy tidak senang, Zalia juga tidak." Zalia berlari keluar Rumah Bryant dan masuk ke rumahnya sendiri.


"Zalia sayang, tunggu!" Trisya hendak berlari mengejar Zalia, namun pergelangan tangannya di cekal Bryant.


"Kenapa kamu tiba-tiba mengatakan ini?"


Trisya menoleh, "aku tidak ingin merahasiakannya lagi, seperti apa pun dirimu kau adalah Ayah kandung Zalia, aku hanya ingin dia tahu akan hal itu. Lagi pula, aku tidak ingin anakku terus di ejek karena tidak punya Ayah. Aku harap dia bisa membanggakanmu sebagai Ayahnya, jadi mulailah dekati dia."


Bryant bangkit tanpa melepas genggamannya, "apa kau tidak dengar tadi, kesenangan Zalia adalah kesenangan Ibunya, menerimaku tergantung Ibunya, jadi untuk apa aku mendekatinya?"

__ADS_1


Bryant merapatkan diri ke tubuh Trisya, pandangannya berpusat pada bola mata wanita itu, "apa maksudnya?" Trisya masih belum mengerti arah maksud perkataan Bryant atau pun Zalia.


Bryant mendengus senyum, "maksudnya adalah, begini." Bryant membenamkan bibirnya di Bibir Trisya membuat wanita itu terkejut dan refleks mendorongnya menjauh.


"Kamu apa-apaan sih?!" Trisya melotot tajam, dia mengelap bibirnya yang basah akibat ulah Bryant.


"Aku hanya ingin menjelaskan apa yang di inginkan Zalia," Bryant terkekeh pelan, lantas kembali duduk menyilangkan kaki.


"Tapi bukan begitu caranya, kau sudah bertindak kurang ajar!" Decak Trisya, dia melipat tangannya di dada, menandakan kalai dia marah.


"Lalu kau ingin aku bagaimana? Trisya, untuk kesekian kalinya, aku ingin memintamu kembali kesisi-ku, apa kau bersedia?" Bryant mengulurkan tangannya yang sama sekali tidak du gubris Trisya.


"Ayo kita berikan Zalia keluarga yang lengkap, aku bersumpah tidak akan pernah mengecewakanmu." Bryant mengangkat telapak tangannya.


"Jangan terlalu berlebihan, atau kau akan merasakan akibat dari kata-kata mu sendiri. Aku perlu waktu untuk memikirkannya lagi, aku permisi dulu." Trisya pun berlalu kembali ke rumahnya.


Trisya menutup pintu perlahan, dia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Zalia, "sayang, kamu dimana?" Panggil Trisya.


"Zalia?!" Trisya masuk kedalam kamar Zalia, dia mendapati putrinya itu tengah belajar.


"Sayang, Mommy pikir kamu gak ada PR." Trisya membungkuk mencium kepala Zalia, namun sebuah gambar di dalam buku tertangkap penglihatannya. Zalia menggambar tiga orang, satu anak perempuan dan yang satu terlihat seperti Ibunya, kemudian yang Pria dia terlihat seperti Ayahnya, ternyata Zalia menggambar sebuah keluarga.


Melihat gambar itu membuat Trisya tertegun, "kapan Zalia menggambar ini?"


"Saat... Om tetangga datang ke-rumah ini untuk pertama kali, dan Mommy menyuruhku sembunyi di dalam kamar, saat itu aku mendengar kalian bertengkar dan menyebut-nyebut tentang seorang anak." Ucap Zalia dengan pandangan menunduk.


"Lalu kenapa Zalia diam saja? Kenapa Zalia tidak bertanya, mungkin saja Mommy akan menjawab semua yang ingin Zalia ketahui," Trisya menatap nanar gambar buatan Zalia.


"Aku takut, aku akan membuat Mommy kecewa, aku tidak ingin membuat Mommy bersedih, lagi pula mungkin Om tetangga orang yang jahat makanya Mommy meninggalkannya."


"Bukankah Zalia yang bilang kalau Om Bryant itu orang yang baik? Tapi kenapa sekarang malah di bilang jahat?" Zalia menunduk menatap lantai.

__ADS_1


"Sayang, seperti apa pun hubungan Mommy dan Om Bryant dulu, itu tidak ada hubungannya denganmu Nak, walau bagaimanapun dia tetap Ayahmu. Akuilah dia, mungkin saja, dia sama menderitanya seperti kita."


Trisya pun berlalu pergi.


__ADS_2