
Bryant membawa Trisya dan Zalia turun menggunakan lift khusus Karyawan, entah apa maksudnya, mungkin dia sengaja agar semua orang tahu siapa Trisya sebenarnya.
"Kamu sengaja kan melakukan semua ini?" Ucap Trisya pelan, tangannya terlipat di dada.
"Sengaja, soal apa?" Tanya Bryant bingung.
Trisya mendengus kasar, dia menghentikan ucapannya sejenak saat seorang wanita masuk ke dalam lift, dia terlihat segan dan berdiri agak menjauh dari Trisya dan Bryant, lanjut beberapa orang pria dan wanita juga ikut masuk, membuat posisi mereka kini agak berdesakan.
"Soal ini, lihat mereka. Mereka terlihat takut padaku sekarang," keluh Trisya setengah berbisik.
"Bukannya itu bagus kan, mulai sekarang tidak akan ada lagi yang berkata buruk tentang kamu," ucap Bryant.
Wanita itu kembali diam tak membantah ucapan Bryant sama sekali, memang sih apa yang ia katakan ada benarnya juga, tapi rasanya terlalu aneh saat orang lain melayangkan tatapan segan ke arahnya. Trisya melawati kantin Karyawan tempat dia biasa makan bersama teman-temannya selama ini, pandangan Trisya teredar sembarang arah mencari tiga sosok yang selalu bersamanya selama ini. Matanya bertemu dengan mata Liana yang juga tengah melempar tatapan tajam ke arahnya. Trisya tersenyum tipis pada Liana yang tidak di balas sama sekali oleh wanita itu.
Trisya menundukkan pandangannya, Liana pasti merasa kecewa padanya saat ini, pasalnya dulu Trisya mengatakan kalau dia tidak mengenal Bryant sama sekali, tapi sekarang tiba-tiba fakta terkuak begitu saja, jujur Trisya tak pernah membayangkan hal ini terjadi.
''Trisya, ada apa?'' tegur Bryant, tatapannya mengarah sejurus, ''mereka marah padamu?''
''Tidak,'' dalih Trisya, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju tempat yang sudah di tentukan.
"Apa kau yakin? Mau aku yang bicara pada mereka?" Bryant menawarkan diri.
"Tidak perlu, aku akan menyelesaikannya sendiri."
Mereka pun duduk di meja yang sudah di pesan sebelumnya oleh Marc, ruangan ini terpisah dari ruangan sebelumnya, ini di khususkan untuk para petinggi perusahaan.
''Zalia mau makan apa?'' tanya Bryant pada putri semata wayangnya itu.
__ADS_1
''Apa aja Daddy, Zalia suka semuanya,'' ucap Zalia dengan riang.
''Wah anak Daddy hebat, bagus nak kamu gak pilih-pilih makanan, Daddy sangat bangga padamu,'' Bryant mengecup pucuk kepala Zalia dengan sayang.
Trisya menatap kebersamaan putri beserta mantan suaminya itu penuh haru, dia tidak menyangka Bryant akan sangat menyayangi Zalia, semua itu di luar dugaannya.
''Apa kau ingin mengatakan sesuatu?'' tanya Bryant, dia menyadari kalau Trisya tengah memperhatikannya.
''Tidak ada,'' dalihnya, Trisya kembali memakan makanan di hadapannya.
Selepas makan siang, Bryant menyuruh Marc mengantar Zalia pulang karena dia dan Trisya harus kembali bekerja. Trisya kembali ke mejanya, keheningan pun terjadi, tak ada satu pun dari temannya yang bersuara. Karena Trisya tak sanggup lagi jika harus diam terus akhirnya dia angkat bicara.
''Teman-teman aku ingin mengatakan sesuatu, apa kita bisa berkumpul di tempat biasa malam ini?'' tanya Trisya.
''Kenapa harus menunggu nanti, jika kamu punya sesuatu yang ingin di bicarakan dengan kami kenapa tidak sekarang saja,'' Liana berucap sarkas.
''Aku dan dia memang pernah menikah, tapi dia menceraikanku karena sebuah alasan, dan aku pergi tanpa aku tahu kalau akhirnya aku akan hamil anaknya, aku berusaha sebisa mungkin untuk menghilang dari hidupnya sesuai yang dia inginkan dulu, tapi entah mengapa setelah semua itu aku lakukan justru dia sendiri yang mencariku dan menemukan aku dan juga putriku.'' Liana menunduk, dia menitikkan air matanya, ''aku sungguh minta maaf teman-teman, aku--,'' tiba-tiba Liana menubrukkan dirinya pada Trisya, membenamkan diri dalam pelukan wanita berusia 27 tahun tersebut.
''Maaf, aku yang egois Trisya, aku terlalu memikirkan diriku sendiri tanpa memikirkan perasaanmu. Entah seburuk apa masa lalu mu hingga kamu ingin melupakannya." Trisya menepuk punggung Liana pelan.
"Terimakasih atas pengertiannya Liana, aku sangat senang punya teman seperti kalian." Liana melepaskan rangkulannya dan kembali memundurkan kursi putarnya ke belakang.
Edwin menunduk sambil menghela napas pelan, "kenapa kamu berpura-pura tidak mengenalnya, padahal kalian adalah mantan suami Istri?"
Trisya meremas jemarinya, "itu karena aku ingin dia menyerah dan kembali ke negaranya, aku tidak ingin dia tahu kalau aku melahirkan anaknya, tapi ternyata takdir mengatakan lain." Jawab Trisya apa adanya.
"Apa kamu akan kembali padanya?" Pertanyaan itu sukses membuat Trisya terdiam. Pandangan Liana dan Dion pun mengarah padanya juga, mereka ikut menanti jawaban yang akan Trisya katakan pada mereka.
__ADS_1
"Emh, soal itu, aku tidak tahu. Untuk saat ini, aku belum memikirkannya," dalih Trisya.
"Kamu harus memikirkannya Trisya, karena ini hidupmu, kamu harus mengambil keputusan. Tapi apa mungkin untukmu tidak kembali padanya? Jika ya, pertimbangkanlah aku juga," ujarnya, membuat semua orang termasuk Trisya menatap ke arahnya dengan pandangan terkejut.
Edwin seketika bangkit dan berlalu menuju toilet, itu dia lakukan untuk menghindari tatapan ingin tahu dari ke-tiga temannya.
"Apa yang dia katakan tadi?" Liana melebarkan matanya tak percaya.
"Apa sampai sekarang kamu belum menyadarinya, Edwin suka pada Trisya, honey!" Dion mencubit pipi Liana gemas.
"Apa?! Dia suka pada Trisya?!" Pekiknya keras, membuat semua orang yang ada di ruangan itu menoleh pada mereka.
"Hush, jangan keras-keras." Tegur Dion. Dion dan Liana memang sudah pacaran sejak satu bulan yang lalu, agaknya dia sudah menyerah untuk mendekati Bryant, yang jelas-jelas sangat jauh dari jangkauannya.
"Teman-teman ayolah, mungkin kalian hanya salah faham, mana mungkin Edwin menyukaiku, selera dia cukup tinggi, apa lagi kalian tahu kan aku seorang janda satu anak," Trisya terkekeh pelan.
"Memangnya kenapa dengan janda satu anak?" Edwin kembali dan duduk di kursinya, yang saling berhadapan satu sama lain, "aku menyukaimu apa adanya, aku juga bisa menerima Zalia seperti putriku sendiri."
Trisya, Liana dan Dion menatap tak percaya pada Edwin, mereka saling pandang satu sama lain, "kamu yakin Win, kamu gak lagi demam kan?" Tanya Liana memastikan, pasalnya baru kali ini saudara sepupunya itu bicara se-terusterang begitu di hadapan orang lain.
"I'am oke, aku lebih dari sehat untuk mengatakan perasaanku," ujarnya dengan tampang serius.
Liana dan Dion mengangguk canggung, "oke, oke, kamu bisa mengatakannya lagi nanti, ayo kita bekerja lagi." Pungkas Liana, dia dan Dion kembali melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing, pun dengan Trisya.
Edwin mendengus pelan, dia juga kembali bekerja meskipun hatinya merasa dongkol karena di anggap tidak serius oleh kedua temannya itu.
"Trisya, kamu percayakan padaku?" Dia menatap Trisya menuntut jawaban.
__ADS_1