Mengandung Benih Sang Mantan!

Mengandung Benih Sang Mantan!
Bab 11 - Kesengajaan


__ADS_3

Trisya menghembuskan napas kasar sembari menyambar berkas laporan yang Pak Han taruh di atas meja, dia berlalu tak ingin memandang wajah Liana yang sudah pasti kecewa karena bukan dia yang terpilih menyampaikan laporan tersebut.


Trisya memposisikan diri berdiri di belakang karyawan dari Divisi lain yang juga ikut di panggil ke-ruangan bos baru mereka.


Setelah di persilahkan, mereka pun masuk. Tampak Bryant dia tengah duduk di kursi kerjanya sembari meninjau berkas-berkas yang bertumpuk di mejanya.


"Selamat datang untuk kalian semua, jangan terlalu tegang santai saja," ujarnya, dia mencari sosok Trisya di antara orang yang berjajar tersebut, dia menangkap orang yang di carinya dengan ujung mata, "kamu kenapa berdiri di belakang!" tegurnya so-tegas.


Semua orang otomatis menatap ke-arah Trisya, dan sedikit bergeser memberinya ruang untuk terlihat.


Trisya menghela napas dalam, dia melirik Bryant dari ujung matanya, tampak pria itu tersenyum samar.


'Kini aku tahu dia sengaja, dasar bedebah! Mau apa lagi dia, aku dan dia sudah selesai sejak lama.' Batin Trisya.


"Kalau begitu kamu saja dulu yang memberikan laporan!" perintahnya, dengan segera Trisya pun menjelaskan dengan rinci progres dan penurunan selama beberapa bulan terakhir perusahaan ini.


Bukannya menyimak Bryant malah menatap wajah Trisya sembari tersenyum, "kau bersembunyi dengan baik, aku sampai harus mencari-mu ke-berbagai negara selama bertahun-tahun," bisiknya yang hanya mampu di dengar Trisya.


"Pak, coba anda lihat grafik yang saya buat ini, ini adalah bukti bahwa perusahaan dalam tahun ini sama sekali tidak mengalami penurunan yang signifikan." Trisya mengabaikan ucapan Bryant barusan, dia menganggap tak mendengar apa pun, dia tetap fokus pada apa yang ingin di sampaikan nya.


"Dimana kamu tinggal?" lagi-lagi Bryant berucap keluar tema, membuat Trisya merasa geram.


"Baiklah Pak, hanya itu yang dapat sampaikan, jika bapak masih punya pertanyaan silahkan bertanya pada ketua Divisi kami, saya permisi dulu!" Trisya menunduk memberi hormat, lantas berlalu.


"Dasar sialan, kenapa dia harus mencari-ku? Apa lagi yang dia inginkan, hidupku sudah tenang selama ini," seketika Trisya terdiam, di mengingat tentang Zalia, "tidak apa yang harus aku lakukan, kalau sampai Bryant tahu tentang Zalia?"


Trisya melangkah dengan cepat menuju mejanya, lantas duduk. Kedatangannya dia sambut dengan tatapan malas Liana, "hey, ini bukan salahku ya! Aku sudah berusaha menolak tadi, Pak Han lah yang seharusnya di salahkan." Keluh Trisya seraya menjelaskan.


"Aku tahu, aku hanya iri saja padamu," gumam Liana yang seolah kehilangan sinar harapan.


Trisya mengusap punggung Liana, "tenanglah, masih banyak waktu, kau bisa mendapat kesempatan lain kali."

__ADS_1


Liana menggeliat, senyumnya kembali terbit, "haish, kau benar. Aku harus semangat bekerja, aku akan menjadi karyawan teladan tahun ini." Ucapnya dengan tangan mengepal di udara. Dion dan Edwin hanya menggeleng menanggapi teman se-profesinya itu.


"Malam ini ayo kita pergi minum, terakhir kali kau tidak datang Trisya," ujar Liana di sela-sela kerjanya.


"Kau tahu aku sudah punya--," ucapan Trisya terhenti di tengah jalan kala mengingat Zalia dan juga Bryant.


"Teman-teman, aku punya satu permintaan pada kalian!" Ucapan itu membuat semua orang seketika menoleh kearahnya.


"Permintaan apa?" Dion, Edwin dan juga Liana bertanya secara bersamaan.


"Aku ingin kalian merahasiakan tentang putriku, siapa-pun yang bertanya tentang-nya tolong rahasiakan." Mereka bertiga saling bertukar pandangan.


"Aku kira apa, baiklah, kau tenang saja. Rahasia-mu aman bersama kami, benarkan?" Liana meminta pendapat dari kedua teman laki-lakinya.


"Benar sekali," sahut Edwin.


"Terima kasih teman-teman, setidaknya aku merasa tenang sekarang. Baiklah, malam ini aku akan pergi minum bersama kalian!" Ketiga orang itu tersenyum senang.


Meski persahabatan mereka terjadi belum lama, namun rasa solidaritas tumbuh dengan baik.


"Baiklah, aku akan menyusul sebentar lagi." Jawab Trisya seraya membereskan berkas-berkas kedalam lemari yang ada di bawah meja.


"Kau mau pergi kemana?" Suara itu terdengar tak asing, Trisya mendongak menatap orang yang menegurnya.


Dia bangkit seraya melempar tatapan sinis pada Bryant, "jam kerja saya sudah habis Pak, di luar jam kerja kehidupan pribadi saya adalah privasi kenapa saya harus mengatakannya pada bapak?"


"Aku bertanya padamu bukan sebagai bos, tapi sebagai--," ucapan Bryant terhenti di tengah jalan.


Trisya mendengus kasar, "semua sudah berakhir sejak lama, jadi saya harap Bapak tidak perlu mengingatnya lagi. Kalau begitu saya permisi dulu."


Trisya menyambar tas selempang-nya dari atas meja lantas berlalu, mengabaikan Bryant yang masih bergeming di tempat. Bryant menghela napas berat degan tatapan mata mengawasi punggung Trisya yang perlahan menghilang di balik pintu.

__ADS_1


flashback on.


Bryant menggeliat pelan, tubuhnya terasa rileks, dia tersenyum pelan. Dia tidak menyangka bahwa dia orang pertama yang mendapatkan tubuh Trisya, kenapa dia dulu begitu bodoh dan mengabaikan Istri yang sempurna seperti Trisya.


'Kali ini aku akan menebus semua kesalahanku dulu Trisya, aku akan menjadikanmu wanita yang paling bahagia, aku janji.'


Bryant berbalik dan melingkarkan lengan ke samping, namun dia sedikit terkejut karena tak mendapati Trisya tidur di sampingnya, refleks dia terbangun. Pandangannya menelaah sekitar mencari sosok Trisya di segala arah.


Dia bangkit dengan tubuh telanjangnya, "Trisya! Apa kau di dalam?" Bryant mengetuk pintu kamar mandi dua kali, namun tetap tak ada sahutan dari dalam. Kemudian dia membukanya, dan kamar mandi itu pun ternyata kosong.


"Sial, kemana dia pergi?!"


Bryant mengenakan handuk kimono lantas keluar, setiap wanita yang berpapasan dengannya seolah tersisir, bagaiman tidak, wajahnya yang tampan dan tubuh tinggi dengan otot yang menonjol membuat pria berusia 28 tahun ini tampak begitu menggoda.


"Permisi, apa nona melihat wanita ini keluar tadi?" tanya Bryant pada wanita yang bertugas di meja resepsionis. Dia menunjukan foto Trisya di ponselnya.


"Oh Nona ini keluar sejak semalam tuan, setelah itu saya tidak melihat dia kembali." Jawab sang wanita.


Bryant mengepalkan tangannya, "terima kasih, Nona." Ucapnya lantas berlalu kembali ke-kamarnya.


"Trisya, kemana pun kamu pergi aku akan mendapatkan-mu, lihat saja nanti."


Setelah itu Bryant pun terus mencari keberadaan Trisya di berbagai kota, namun dia tidak ditemukannya di mana-pun, bahkan pasangan Diego dan Margaret pun seolah ikut menghilang entah kemana, hanya menyisakan putri dan pengasuhnya di rumah itu.


"Kemana sebenarnya kamu pergi Trisya, kau membuatku gila!"


Trisya....


Tahun berganti tahun, namun keberadaan Trisya tak kunjung menemukan titik terang, membuat Bryant merasa frustasi.


"Tuan, aku menemukan sesuatu tentang Nyonya!" Ujar Marco sang asisten.

__ADS_1


"Bagus Marc, ayo kita lakukan segala cara untuk mencapai keberadaannya."


flashback of


__ADS_2