Mengandung Benih Sang Mantan!

Mengandung Benih Sang Mantan!
Bab 20 - Luka yang tak nampak


__ADS_3

Bryant mengendarai mobilnya dengan Zalia duduk di sampingnya, dia tak bisa menghentikan senyuman yang terus saja hadir di bibirnya.


"Om, kenapa senyum-senyum terus dari tadi?" pertanyaan Zalia membuat Bryan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Gak papa, Om hanya sedang senang saja hari ini," jawab Bryant masih disertai senyuman.


"Apa Om sedang ulang tahun?"


"Emh... Tidak, tapi Om mendapat hadiah yang bagus jadi Om merasa senang." Jawab Bryant, dia memilih jawaban seperti itu agar dapat di fahami Zalia.


"Mendapat hadiah memang sangat menyenangkan, terakhir kali Mommy memberiku hadiah saat aku ulang tahun, Mommy memberiku boneka beruang besar, hampir sebesar Om!"


"Wah benarkah? Hebat sekali, apa kau ingin boneka lagi?" tanya Bryant, namun Zalia hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Kenapa?"


Mobil Bryant berhenti di basemen, dia melirik gadis kecil itu yang menatap Bryant dengan manik mata hitam jernihnya.


"Boneka ku sudah banyak," tolak Zalia.


"Lalu apa ada hal lain yang kamu inginkan? Coba katakan pada Om?" Lagi-lagi Zalia hanya menggelengkan kepalanya.


Bryant menghela napas pelan, "Ya sudah kalau begitu, ayo turun sebentar lagi Mommy mu akan pulang."


Bryant turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Zalia, kemudian membantunya turun.


"Ingat perjanjian kita tadi, kamu tidak boleh mengatakan tentang pertemuan kita hari ini." Ucap Bryant sembari jongkok menatap wajah gadis kecil itu.


"Iya Om, Zalia janji!" Ucap Zalia, dia menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking Bryant yang teracung padanya.


"Oke kalau begitu, ayo cepat!" Bryant melirik jam tangannya yang menunjukan waktu bubarnya pekerja secara normal.

__ADS_1


Bryant membawa Zalia ke-lantai atas, setelah itu mereka pun berpisah, masuk kedalam rumah masing-masing.


Bryant menghempaskan diri di sopa, dia membuka ponselnya dan menatap foto Zalia yang sengaja Ia ambil saat gadis kecil itu lengah.


Sebuah pesan masuk itu tampak di layar atas gawai- nya.


'*Tuan, bagaimana, apa semuanya berjalan lancar?' pesan itu dari Marc.


'Ya, aku berhasil mendapatkan rambutnya Zalia.' Balas Bryant.


'Oke Tuan, aku akan kesana dan mengambil sampelnya*.'


Bryant tak lagi membalas pesan dari Marc, dia melemparkan ponselnya sembarang arah, namun dia teringat akan sesuatu dan mengambilnya kembali.


'Bawakan aku makanan.' Bryant mengetik pesan tersebut dan mengirimnya.


"Haish, perutku lapar. Aku tidak makan siang tadi," keluh Bryant dia beranjak membuka kulkas, yang di dalamnya hanya berisi air mineral.


"Sepertinya aku harus belanja!"


Trisya turun dari taksi dia melihat Bryant yang membawa belanjaan sembari bermain ponsel berjalan kearahnya, agaknya dia tidak menyadari keberadaan Trisya.


Trisya mendengus, "dia kan tidak bisa masak, untuk apa belanja sayuran sebanyak itu? Tapi, biarin aja lah, untuk apa aku peduli."


Trisya berlalu lebih dulu.


"Mommy pulang sayang!" Ucap Trisya saat dia telah memasuki rumahnya, dia melepas sepatu dan melempar mantelnya ke-sopa.


"Mommy!" Zalia menghambur memeluk Trisya, yang langsung di sambut sang Ibu yang juga sangat merindukannya setelah seharian bekerja.


Trisya memangku Zalia dan mendudukkan gadis itu di pangkuannya.

__ADS_1


"Bagaimana jalan-jalannya, apa menyenangkan?"


"Sangat menyenangkan, seandainya Mommy bisa ikut," wajah Zalia mematut.


"Jangan cemberut begitu, hari Minggu ini Mommy akan menemani Zalia kemana pun Zalia mau." Bujuk Trisya.


Zalia melebarkan matanya, "Mommy janji ya!" dia mengacungkan jari kelingkingnya yang langsung di sambut oleh jari kelingking Trisya.


"Janji!"


"Mommy lapar sayang, ayo kita makan!"


Mereka pun berpindah tempat duduk ke meja makan, kebetulan Trisya membeli makanan dari luar, jadi dia tidak perlu memasak.


"Emh Mommy... Apa Mommy kenal sama Om tetangga?" tanya Zalia yang seketika membuat Trisya menoleh.


"Tidak, Mommy tidak kenal." Dalih Trisya.


"Tapi sepertinya dia kenal Mommy."


"Zalia, habiskan makananmu." Tukas Trisya seraya beranjak menaruh piringnya di atas bak cuci piring.


"Baik Mom." Zalia menunduk sedih.


Trisya menghela napas berat, entah mengapa mengingat Bryant membuat hatinya tak tenang, Bryant seperti wabah penyakit yang menghantuinya sepanjang waktu.


Trisya menenggak bir untuk mengusir kecemasannya di atas balkon, jam menunjukan pukul 21:00 PM. Zalia sudah tertidur pulas saat ini.


"Jangan terlalu banyak minum, kau harus bekerja besok." Suara itu membuat Trisya sontak menoleh.


Dia memutar bola mata malas saat mendapati siapa yang menegurnya, dia hendak berlalu namun perkataan Bryant membuat Trisya mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Trisya, kau tahu betapa gilanya aku saat aku tak bisa menemukanmu lima tahun lalu. Aku hampir menjelajah seluruh negri untuk mencari-mu, tapi ternyata kau tak ada disana."


Trisya berbalik menatap Bryant, "tidak bisakah kau pergi saja, sejak awal kita memang tidak ditakdirkan bersama, aku bukan untukmu begitu pun kau. Sebelumnya aku memang pernah punya mimpi yang ingin aku raih bersamamu, tapi kau yang menghancurkan mimpi itu. Kau yang mengusirku pergi dari hidupmu."


__ADS_2