Mengandung Benih Sang Mantan!

Mengandung Benih Sang Mantan!
Bab 23- Pendekatan


__ADS_3

Trisya tengah sibuk dengan komputernya, bahkan hingga jam istirahat tiba.


"Trisya, ayo kita makan siang dulu," ajak Liana.


"Kalian duluan aja, nanti aku nyusul." Tolak Trisya tanpa mengalihkan pandangan.


"Kalau gitu kita pergi duluan ya!" Trisya hanya menjawab dengan Ibu jari yang terangkat.


Trisya kembali terfokus pada apa yang tengah Ia kerjakan, sambil sesekali menyesap kopi dari cangkir keramik di sampingnya hingga tanpa terasa cairan hitam kecoklatan itu telah habis.


"Haish, ternyata sudah habis," keluh Trisya sembari menaruh kembali cangkir tersebut.


Seseorang tiba-tiba datang dan mencengkram lengan Trisya, "sudah cukup, minum kopi tanpa makan siang akan membuat asam lambung mu naik. Ayo makan siang dulu!" Bryant menarik lengan Trisya agar mengikutinya, namun wanita itu tak beranjak sedikit-pun.


"Lepaskan tangan saya, Pak! Ini di kantor, tolong jaga sikap anda." Trisya menghempaskan tangan Bryant dengan kasar.


"Oke, maafkan saya, tapi ini jam istirahat sebaiknya gunakan waktu ini sebaik mungkin." Ucap Bryant mengalah.

__ADS_1


"Anda tidak perlu mengkhawatirkan pegawai kecil seperti saya, saya akan mengurus diri saya sendiri. Terima kasih atas perhatiannya," Trisya menunduk hormat.


Bryant menghela napas berat, "oke, emh, siapa yang menyuruhmu melakukan pekerjaan sebanyak ini?" tanya Bryant.


"Apa Pak Han?" tebak Bryant.


Trisya hanya diam, dia mematikan laptop dan berlalu meninggalkan Bryant di ruangan itu sendirian.


Trisya berjalan dengan langkah cepat menuju kantin, takut jika terlalu lama bersama Bryant akan menimbulkan kecurigaan dari teman-teman kerjanya, bukan apa-apa Trisya hanya tidak ingin orang lain tahu masa lalunya, karena dia sudah tak ingin mengingatnya lagi.


"Hey Trisya!" teriak Liana dari meja yang berada tak jauh dari lokasi saat ini dia berdiri.


"Kenapa muka kamu di tekuk gitu?" tanya Liana, yang membuat pandangan yang lain ikut terarah padanya.


"Hah, ah, aku tidak papa, hanya sedikit kesal pada Pak Han, yang memberiku pekerjaan yang sangat banyak," dalih Trisya sembari menyesap sedotan minuman di hadapannya.


"Haish, Pak Han emang begitu, aku juga di suruh ini si suruh itu, padahal masih banyak pekerja yang lain," keluh Dion.

__ADS_1


"Sudah jangan mengeluh, itu tandanya Bos percaya pada kita, syukuri saja, dari pada di abaikan." Sanggah Edwin.


"Betul yang Edwin bilang, aku cukup bersyukur karena Pak Han yang jadi Bos kita, jika orang lain, aku tak yakin nasib kita akan seperti apa." Ucap Trisya.


"Boleh aku duduk bergabung?" suara seseorang yang mereka kenali seketika membuat pandangan mereka terarah ke tempat yang sama.


Tatapan mata semua orang melebar sempurna, kala melihat sang pemilik perusahaan berdiri tepat di hadapan mereka dengan nampan berisi makanan.


"Eh, P-pak Bryant, si-silahkan duduk Pak," Liana sontak berdiri dan memberikan kursinya pada Bryant begitu pun dengan yang lain, mereka sangat terkejut dengan kedatangan Bryant.


"Eh, apa Bapak tidak salah ingin duduk bersama kami?" tanya Dion memastikan, dia melirik ketiga temannya.


"Memangnya kenapa? Apa ada yang salah?" tanyanya so-polos.


"Eh, tidak, silahkan duduk kalau begitu," Dion dan yang lain pun ikut duduk bergabung, mereka menambahkan satu kursi lagi untuk Liana yang kursinya di pakai Bryant.


"Ayo makan, tidak usah sungkan." Ucap Bryant ramah, dia tersenyum pada Trisya, yang melayangkan tatapan aneh padanya.

__ADS_1


'Dasar menyebalkan, kenapa di antara ratusan pegawainya, dia malah memilih duduk bersama kami,' keluh Trisya dalam hati.


__ADS_2