
"Pah," geram Bryant kesal. Papahnya masih saja begitu sampai sekarang.
"Berikan lagi pada Trisya, aku ingin bicara dengannya," ucapnya tak peduli.
Bryant kembali memberikan benda pipih itu pada Trisya dengan wajah mematut kesal.
"Halo Pah." gumam Trisya.
"Kapan kamu akan kembali Nak? Apa kamu sudah lupa pada pria tua ini?"
"Tidak Pah aku tidak lupa, tapi--," Trisya menjeda ucapannya.
"Tapi apa? Trisya, apa bisa kamu kembali, Papah ingin bertemu denganmu sebelum pergi." ujarnya, membuat pandangan mata Trisya melebar sempurna.
"Apa maksud Papah?" Trisya bangkit dengan wajah cemas, membuat Bryant beserta yang lainnya menatap ke arahnya penuh tanya.
"*Tuan, sudah saatnya anda minum obat," suara seorang wanita tertangkap indra pendengaran Trisya.
"Baiklah, taruh saja disitu, nanti aku akan memakannya sendiri." Jawabnya.
"Apa Papah sakit?" Trisya masih dalam mode yang sama.
'Apa kamu pikir Papah akan baik-baik saja setelah kamu pergi?' pertanyaan itu yang keluar dari mulut Tuan Austin.
__ADS_1
"Pah," Trisya mengiba.
"Kembalilah sebentar, Papah ingin melihat kamu dan cucu Papah," ujarnya bersikukuh.
"Baiklah Pah, Trisya akan segera kembali. Tetaplah baik-baik saja, minum obatnya dan jaga kesehatan Papah."
"Ya, kembalilah secepatnya Papah menunggumu." dan sambungan telepon pun terputus.
Trisya menghempaskan diri kembali duduk di kursi, telpon genggamnya ia taruh kembali di meja, "Kakek apa Papah sakit?"
Kakek tak lantas menjawab dia menunduk menghela napas pelan, "kau tahu setelah kepergian menantuku Amanda, tak pernah sekalipun dia terlihat begitu sehat selain pada hari pernikahan kalian," ujar sang Kakek.
"Aku bukan menanyakan dulu Kek, tapi--," perkataan Trisya seketika di potong oleh Kakek Bryant.
"Austin, dia tipe laki-laki yang sulit jatuh cinta, kau tahu dia bertemu Amanda dengan cara apa?" perkataan Kakek membuat Bryant ikut tertarik dan menyimak, "mereka hanya berpesan di jalan, saat itu Amanda adalah seorang kurir pengantar susu keliling, sedang Austin baru kembali dari luar negeri setelah menyelesaikan kuliah S2 nya." Lanjutnya.
"Pada awalnya tak ada ketertarikan sama sekali di antara mereka, mereka hanya dua orang asing yang tidak saling menyapa dan hanya bersikap acuh tak acuh pada satu sama lain, hingga suatu hari susu yang di antar Amanda itu ternyata sudah basi dan Austin yang meminumnya duluan, dia protes pada Amanda, namun Amanda terus berdalih, dia yakin produknya sudah terjamin kualitasnya. Mereka bertengkar dan hampir membawa maslah itu ke polisi, namun Amanda ingin menyelesaikan masalah ini dengan Bosnya, di luar dugaan ternyata Bosnya itulah yang berlaku curang, dia malah membalikan masalah itu pada Amanda, dia menuding Amanda lah yang telah menukar barang dagangannya. Amanda merasa kecewa dan akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja disana, dia juga minta maaf pada Austin dan berjanji akan mengganti kerugian yang telah Bosnya itu timbulkan." Jelas sang Kakek.
"Lalu bagaimana akhirnya mereka bisa menikah Kek?" tanya Bryant mulai penasaran.
"Ya tentu saja mereka pacaran, apa lagi? Entah bagaimana mereka mulai dekat, Amanda yang baik hati membuat seorang Austin jatuh cinta, saat itu Kakek tidak menyetujui hubungan mereka karena Amanda tak punya status apa pun, tapi kebaikan yang dia miliki yang membuat Kakek luluh dan memilih untuk merestui hubungan mereka. Apa kau mengerti maksud Kakek Trisya, dirimu mengingatkan dia pada Amanda, sikapmu yang sopan dan juga baik hati hampir sama seperti Amanda. Kamu pikir kenapa dia sampai membelimu dan menikahkanmu dengan putra satu-satunya yang dia miliki, itu karena dia yakin kamu bisa membuat Bryant jatuh cinta padamu. Tapi semua tak seperti dalam bayangannya, menikahkanmu dengan Bryant justru membuatmu masuk dalam penderitaan lain, dan sampai sekarang nampaknya Austin masih menyesali hal itu."
"Tapi, apa yang terjadi padaku bukan salah Papah, mungkin itu juga sudah takdirku, aku tidak pernah menyalahkan siapapun, atas apa yang aku alami." Jelas Trisya.
__ADS_1
Kakek Tersenyum pelan, "Ya seperti itu juga Amanda, apa kau ingat saat kecelakaan itu terjadi?"
Trisya mengangguk, tentu saja dia masih ingat dengan kejadian itu, saat itu dia masih bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit, saat datang sepasang pasien yang mengalami kecelakaan parah yang mengakibatkan satu di antaranya meninggalkan dunia setelah satu minggu di rawat.
"Suster, tolong selamatkan istri saya, saya mohon," ujarnya dengan tubuh di penuhi dengan darah, dia di letakan di pembaringan karena kakinya patah.
"Tenanglah Tuan, Istri anda pasti baik-baik saja, yakinlah dan serahkan segalanya pada dia," tunjuk Trisya ke atas.
Mereka pun di rawat di ruangan terpisah, selama dalam masa perawatan tak ada perkembangan apa pun yang terjadi pada Istri pria itu, satu persatu organ dalam tubuhnya mulai tidak berfungsi lagi, membuat pihak keluarganya merasa terpukul, namun mereka juga tak dapat berbuat apa-apa, bahkan dokter spesialis yang telah mereka datangkan dari luar negri pun tak mampu membuat wanita itu kembali bangun.
"Ini hanya tinggal apa katamu Austin, kau ingin membebaskan Amanda dari rasa sakitnya atau kau akan tetap mempertahankan dia yang hidup tapi bahkan tidak seperti orang hidup, kalau kau mencintainya tolong pikirkan ini baik-baik."
Austin pun masuk ke dalam ruangan Amanda di bantu Trisya yang mendorong kursi roda yang di dudukinya.
"Nyonya Amanda sangat beruntung karena memiliki suami seperti Anda Tuan," puji Trisya, dia ikut menatap wajah Amanda yang nampak pucat dengan banyaknya alat medis yang menempel di tubuhnya.
"Benarkah, tapi secara tidak sengaja akulah yang membuat dia jadi begini," ucap Austin kepalanya menunduk pelan.
"Itu tidak benar Tuan, kecelakaan tidak pernah terjadi atas keinginan kita, Tuan tidak boleh menyalahkan diri Tuan atas apa yang terjadi. Saya yakin Nyonya Amanda juga berpikir hal yang sama, benarkan Nyonya." diluar dugaan Amanda merespon dengan menitikkan air mata dari kedua ujung matanya.
"Ya Tuhan, Nyonya Amanda menangis berarti dia mendengar ucapan kita Tuan, bicaralah padanya, mungkin saja dia akan kembali pulih," Trisya memberikan saran, dan Austin pun melakukan itu. Selama beberapa hari dia melakukan itu, dia bicara berbagai hal pada Amanda yang lagi-lagi hanya di respon dengan air mata oleh wanita yang terbaring tak berdaya itu.
Hingga hari ke delapan tiba, Amanda menghembuskan napas terakhirnya, dia menyisakan kesedihan mendalam di hati Austin, dan disinilah peranan Trisya berlaku, dia membuat Austin kembali bersemangat menjalani hidupnya, di terus merawat Austin hingga dia bisa kembali ke rumah, namun dia tak ingin kakinya kembali sembuh, dia ingin menjadikan itu sebagai pengingat untuknya tentang Amanda Istrinya tercinta.
__ADS_1