Mengandung Benih Sang Mantan!

Mengandung Benih Sang Mantan!
Bab 46 - Menikahlah denganku!


__ADS_3

Hampir semalaman mereka duduk berdua di ruang tunggu rumah sakit, sedang Kakeknya di suruh kembali oleh Trisya karena dia harus menjaga kesehatannya di usianya yang tak lagi muda.


Tepat pukul 23:50 PM. Seorang suster membangunkan mereka yang tak sengaja tertidur dengan posisi saling bersandar.


"Tuan Bryant, maaf saya mengganggu anda, tapi Tuan Austin sudah sadar, beliau ingin bertemu anda berdua," ujarnya, membuat Bryant dan Trisya seketika bangkit, kantuknya lenyap seketika.


"Ayo Trisya!" tanpa sadar Bryant menggenggam lengan Trisya dan menuntunnya masuk kedalam ruang rawat Austin.


Di atas ranjang, tampak pria setengah baya itu terbaring lemah, dengan banyaknya alat medis yang menempel di tubuhnya, pandangan sayu-nya Ia arahkan pada Trisya juga Bryant yang baru masuk dan berjalan mendekat kearahnya.


"Kemarilah Nak," lirihnya, hampir tak terdengar. Ucapannya itu Ia tunjukkan pada Trisya, sedang Bryant dia masih merasa bersalah atas ucapan-ucapan yang keluar saat dia marah tadi.


Trisya lantas mendekat dan duduk di samping ranjang Austin, "Papah jangan terlalu banyak bicara, kondisi Papah masih lemah, istirahat dulu." Ujar Trisya, dia mengusap punggung tangan Austin yang berwarna putih pucat.


"Nak, mungkin umurku sudah tidak lama lagi, akhir-akhir ini aku sering melihat Amanda dimana-mana, dia selalu ingin mengajakku pergi, tapi aku bilang padanya aku ingin bertemu gadis yang aku hancurkan hidupnya, jadi tunggulah sebentar lagi," lirihnya, Austin mengatupkan kedua telapak tangannya di hadapan Trisya, "Nak, untuk semua yang pernah terjadi padamu, aku mohon maaf sebesar-besarnya, aku pikir aku sudah menyelamatkanmu dari manusia-manusia jahat seperti orang tua angkatmu itu, tapi ternyata segalanya diluar dugaanku." Isaknya pelan, sampai saat ini Austin masih saja merasa bersalah karena telah menjodohkan Bryant pada Trisya, hingga membuat Trisya hidup menderita sendirian.


"Pah, sudah aku bilang ini bukan salah Papah. Aku tidak pernah menyalahkan siapapun untuk semua kemalangan yang aku alami, mungkin ini sudah jalan hidupku, jadi jangan terus merasa bersalah begitu, ingat jika bukan karena Papah, tidak akan ada Zalia di dunia ini. Segeralah pulih, dia pasti menunggu Kakeknya kembali dan bermain bersamanya." Trisya menyemangati di ujung katanya.


Austin tersenyum lemah, dia menoleh pada Bryant yang sejak tadi diam dengan wajah tertunduk, "Bryant, terimakasih sudah mengatakan semua yang ada di kepalamu pada Papah, Nak, aku tidak pernah membencimu, aku hanya kesal pada tindakanmu yang akhirnya membawamu pada penyesalan. Aku memilih Trisya, karena aku tahu dia wanita yang tepat untukmu dan apa kau tahu dia juga mencintaimu."


"Apa?!" Bryant tampak terkejut mendengar ucapan Austin, "apa maksud Papah dengan Trisya mencintaiku?"


"Sebaiknya kau tanyakan saja padanya, dia ada di hadapanmu saat ini."

__ADS_1


Pandangan Bryant beralih pada Trisya. Trisya menimbang kata sejenak, lantas berucap, "aku dulu memang mencintaimu Bryant, saat pertama kali aku melihatmu saat di rumah sakit, saat itulah aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Makanya aku sering datang ke-rumahmu meski magangku sudah usai. Itu karena aku hanya ingin melihatmu, walau hanya dari kejauhan. Tapi, kau tahu seluruh kelanjutannya, aku hancur setiap harinya aku selalu menutup mata untuk semua yang aku dengar dan aku lihat, dan yang paling menyakitkan adalah kejadian yang terakhir." Trisya menundukkan kepalanya, menyembunyikan air mata yang luruh dari kedua matanya.


Seketika Bryant berlutut di hadapan Trisya, "aku minta maaf, aku sungguh-sungguh minta maaf Trisya, aku tidak tahu apa lagi yang bisa aku katakan padamu sebagai bentuk rasa penyesalanku," lirihnya, dia terisak pelan dengan pandangan menunduk menatap lantai keramik berwarna putih.


Trisya pun menangis pundaknya bergetar hebat, "Trisya, kini aku serahkan semua keputusan itu padamu, aku tidak akan lagi memaksamu untuk kembali bersamaku, aku akan ikhlas menerima segalanya jika pun kamu tidak ingin kembali padaku, hanya tolong izinkan Zalia tinggal beberapa waktu bersamaku, aku masih rindu padanya." Bryant masih dalam posisi semula, berlutut di hadapan Ibu dari anaknya itu.


"Apa benar kau sudah berubah Bryant?" tanya Trisya setelah dia bisa menguasai tangisnya.


"Tidak kah kau melihatnya sendiri, Trisya sejak kau pergi waktu itu sampai saat ini wanita yang ada dalam hatiku hanya kamu, aku berani bersumpah atas nya--," belum sempat Bryant menyelesaikan kata-katanya, Trisya langsung menutup mulut Bryant dengan jemarinya.


"Sudah cukup, aku sudah percaya. Jangan sia-siakan nyawamu hanya untuk bersumpah," Trisya menyematkan senyuman di bibirnya.


Austin ikut tersenyum melihat kedua orang yang disayanginya kini telah berbaikan kembali.


Trisya dan Bryant saling pandang satu sama lain.


"Tentu saja, kami akan kembali, Menikah!" ucap Bryant juga Trisya bersamaan, membuat Austin begitu bahagia.


"Baiklah, besok kita mulai persiapannya!" Diluar dugaan Austin bangkit dan mendudukkan dirinya di ranjang, dia juga mencopot semua benda yang menempel di badannya, membuat Bryant juga Trisya melongok menatapnya.


"Papah pura-pura sakit?!" geram Bryant, Austin hanya membalasnya dengan senyuman sambil mengangkat bahunya pelan.


"Astaga Papah, Papah membuat kami khawatir setengah mati, dan ternyata ini hanya sandiwara, wah, wah, sungguh hebat!" Trisya juga ikut kesal, karena telah dibodohi oleh Austin.

__ADS_1


"Hehe, ayolah Trisya Papah melakukan ini untuk kalina, oke mari kita pulang." Ujar Austin bersemangat.


"Pulang Papah bilang, lihat ini jam berapa?" geram Bryant kesal, dia menunjuk jam dinding yang menunjukkan waktu pukul 01:30 malam.


"Kalau begitu malam ini kita tidur disini." Austin kembali berbaring dan memejamkan mata tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Trisya mendengus tawa yang membuat Bryant seketika menoleh menatapnya, "ada apa?"


"Tidak ada, ayo keluar. Biarkan Papah Istirahat."


"Kenapa dia harus Istirahat, tidak sakit sama sekali." geram Bryant kesal.


"Sudahlah, ayo." Trisya menyeret lengan Bryant dan membawanya mengikuti langkah.


Malam seakan begitu berbeda, bintang-bintang berkedip menyapa, semilir angin membuai dua Insan yang kini tengah duduk di taman rumah sakit, seakan rasa dingin tak terasa di kulit mereka sama sekali.


Cinta yang perlahan kembali tumbuh, membuat senyuman tak henti-hentinya tersemat di bibir keduanya, jemari mereka saling bertautan, sambil menengadah menatap langit malam.


"Trisya, mari kita mulai semuanya dari awal," Bryant berlutut di hadapan Trisya, lantas berucap, "Trisya, will you marry me?"


"Yes, of course!" jawab Trisya sambil tersenyum, dan Bryant pun menyergap bibir Trisya menyesapnya penuh cinta, walau terasa kaku Trisya mulai membalasnya juga.


Panggutan itu menandakan bahwa cinta dari keduanya telah kembali, hari-hari bahagia untuk mereka berdua, akan segera di mulai.

__ADS_1


Tamat.


__ADS_2