
'Entah langkah yang aku ambil ini benar atau tidak aku pun tidak tahu. Memberi harapan pada Jo, apa ini sudah benar?'
Trisya melirik wajah Jonatan yang nampak sumringah, dia terlihat sangat bahagia, saat ini mereka tengah berjalan bersama menuju apartemen Trisya. Setiap malam dia datang untuk mengantarkan Trisya pulang. Jo tersenyum lantas mengaitkan jemarinya di jemari Trisya, hangat memang, namun tak ada debaran sedikit-pun di hati Trisya untuk Jo.
"Ada apa?" tanya Jo, saat dia menangkap lirikan Trisya dari ujung matanya.
"Tidak," Trisya menggeleng seraya mengalihkan pandangan, "oh, sudah sampai." Pekiknya.
Jo dan Trisya menghentikan langkahnya, "sampai sini saja Jo, kamu pulang lah, ini sudah malam."
"Aku akan pergi setelah kamu masuk."
"Baiklah!" Trisya melambaikan tangan lantas masuk ke-dalam apartemennya.
Dia melepas sepatu yang di kenakan-nya lantas berlalu menuju kamarnya untuk membersikan diri.
Trisya merebahkan diri di atas ranjang, dia memeriksa ponselnya dan mengecek media sosialnya, tak ada yang menarik, dia menghela napas berat dan melempar ponselnya sembarang arah, kini dia hidup sebatang kara, kembali sendirian seperti di masa lalu.
'Tidak papa Trisya, ini jauh lebih baik dari pada hidup dengan para psikopat.'
Hari berlalu, Minggu berganti bulan, Jo kembali melamar Trisya.
Dibawah langit terbuka, dengan latar pemandangan malam yang Indah, "Trisya, maukah kau menua bersamaku, menjadi Ibu dari anak-anakku, menjadi pendamping hidupku dari saat ini dan seterusnya?" Jo berjongkok di hadapan Trisya sembari membawa sebuah buket bunga dan kotak kecil berwarna merah terang.
'Apa ini, kenapa Jo tiba-tiba melamar-ku?
Trisya terdiam, dia masih memilah jawaban yang tepat.
'Haruskah aku terima?'
"Trisya, tolong jangan buat aku malu." Ucap Jo pelan, banyak pasang mata yang juga kebetulan hadir di sana. Karena ini tempat umum, banyak pasangan datang kemari untuk berkencan.
__ADS_1
Trisya tersenyum canggung, dia mengangguk ragu, sudahlah terima saja, pikirnya. Saat dia bersama Jo, hatinya cukup tenang dia merasa aman dan terutama Jo mencintainya.
"Jadi apa aku di terima?" tanya Jo memastikan.
"Ya, aku terima!" Jo bangkit dan memeluk Trisya.
"Terima kasih, aku janji akan berusaha membuat kamu bahagia," gumam Jo pelan, dia melepas rangkulannya dan menyerahkan bunga tersebut pada Trisya dia membuka kotak kecil yang ada di genggaman tangannya dan meraih isi di dalamnya, yang ternyata sebuah cincin berwarna putih. Dia tersenyum dan menyematkan cincin tersebut di jemari Trisya.
"Aku mencintaimu, Trisya!" Ucapnya, dia mendekatkan wajah hendak mencium Trisya, namun wanita itu menghindar dan malah mundur dua langkah ke-belakang.
"Ma-maafkan aku Jo, disini terlalu banyak orang, a-aku malu," dalihnya seraya beralih ke pagar pembatas tebing.
Jo mendengus senyum, napasnya berasap karena suhu yang cukup rendah, "baiklah tidak papa," Jo tersenyum canggung.
Jo kembali mengantar Trisya pulang.
"Apa kamu tidak akan pulang?" tanya Trisya bingung karena Jo tak kunjung pergi.
"Kita sudah akan menikah, apa kamu tidak akan mengundangku masuk dulu, waktu belum cukup malam," ucap Jo sembari memperhatikan Jam yang melingkar di tangannya.
"Baiklah, selamat malam." Jo terpaksa mengurungkan kembali niatnya dan berlalu.
Keesokan harinya, Trisya berangkat kerja seperti biasa rumahnya dan tempat kerja tidak terlalu jauh dia cukup menempuhnya dengan berjalan kaki.
"Selamat pagi!" Sapa Trisya pada temannya yang memang sudah datang lebih dulu.
"Pagi, bagaimana kencan-mu semalam?" tanya Jesi.
Jesi adalah seorang gadis berusia 22 tahun, dia teman kerja Trisya di toserba ini.
Trisya tersenyum paksa, dia memperlihatkan cincin yang tersemat di jari manisnya, membuat Jesi seketika memekik keras.
__ADS_1
"Woah, astaga! Selamat, kau akan segera menikah, jangan lupa undang aku ya." Ucapnya penuh semangat.
Trisya tersenyum, Jesi terlihat lebih bahagia dari dirinya. Sedang dirinya sendiri, Trisya merasa bingung dengan perasaannya terhadap Jo. Trisya menghela napas berat dan mulai bekerja, dia merapikan barang-barang jualan di toko itu, mulai dari makanan dan minuman dan lain sebagainya.
Seseorang yang Trisya kenali memasuki toko tersebut, "Jo?!" pekiknya, "apa kau tidak bekerja?" Trisya melebarkan matanya, dia heran mengapa di jam begini Jo berkeliaran.
"Aku sedang meninjau pekerjaan di lapangan bersama bos-ku, dia menyuruhku membeli minuman," ucap Jo sembari mengambil dua botol minuman dari dalam lemari pendingin dan menaruhnya di hadapan Trisya saat ini berdiri.
"Oh, begitu," Trisya tersenyum canggung, jujur tadi dia pikir Jo sengaja datang mengunjunginya.
"Kenapa, apa kau kecewa karena aku bukan datang kemari untukmu?" Jo terkekeh pelan.
"Apa yang kau katakan, aku sudah bukan remaja lagi, yang akan peduli pada hal kecil seperti itu." Ucap Trisya sembari mengecek harga minuman dan menyebutkan harga yang harus di bayar Jo.
"Haish, sayang sekali, padahal aku sangat ingin kau marah padaku karena itu." Trisya mendengus tawa, begitu pun Jo.
"Oh, Hay Tuan Jonatan, aku Jesi temannya Trisya," ucapnya sembari menyodorkan tangan mengajak Jonatan berkenalan.
"Hay Jesi, sepertinya aku sudah tidak perlu memperkenalkan diri karena kau sudah mengenalku." Ucap Jo, sembari menyambut uluran tangan Jesi.
Jesi teresenyum canggung.
"Kalau begitu aku pergi dulu, sampai nanti!" Jo berlalu setelah membayar barang belanjaannya.
"Wah, tuan Jonatan itu sangat tampan ya. Trisya, kau sangat beruntung karena dia mencintaimu." Ujaranya, matanya mengikuti Jo hingga dia berlalu bersama mobil hitam yang Ia tumpangi.
"Hey, pacarmu juga tampan, jika dia tahu kamu memuji pria lain tampan, kalian pasti akan bertengkar lagi." Jesi memberengut kesal.
Benar Ben pacaranya, memiliki temprament yang cukup buruk jika dia sedang marah, apa lagi saat cemburu dia cenderung mengamuk dan menghancurkan barang di sekitarnya seperti orang gila.
"Haish, sudahlah jangan bahas dia lagi. Sebetulnya, aku sudah malas berhubungan dengan dia, tapi aku takut mengatakan kata putus padanya, kau tahu sikap dia seperti apa." Jesi menghela napas berat.
__ADS_1
"Tapi Jesi, akan lebih baik kau segera berpisah darinya sebelum terlambat. Dia pria yang mengerikan, aku takut dia hilang kendali dan berani menyakitimu." Ucap Trisya dengan pandangan khawatir.
"Itulah yang sedang aku rencanakan Trisya, aku sedang mencari kelemahannya, aku berusaha menangkap dia ketika membuat kesalahan agar aku bisa mengakhiri hubungan kami. Tapi, Ben itu pria yang datar dan lurus dia jarang membuat masalah, hanya satu kekurangannya, tempramentnya." Keluh Jesi, seraya membenahi barang dagangan yang tidak berada pada tempatnya, atau miring dan sejenisnya, akibat para pembeli yang mengambilnya tidak sesusai urutan.