
''Kau tahu apa yang paling berharga dalam hidupku? Jawabannya adalah, Kalian,'' ucap Bryant saat Trisya mengajaknya sarapan bersama.
Trisya hanya diam, dia melirik wajah putrinya yang tertunduk, ''sayang, apa makanannya tidak enak?'' tanya Trisya saat melihat Zalia tidak makan dengan benar.
''Kenapa kamu datang kemari?'' pertanyaan itu tiba-tiba terlontar begitu saja dari bibir gadis kecil itu, masih dengan pandangan yang sama.
''Zalia, kenapa kamu bicara begitu, ingat siapa dia,'' tegur Trisya.
''Tidak masalah Trisya, aku akan menjawab apa pun yang putriku tanyakan padaku,'' ujar Bryant tak lupa menyematkan senyum di bibirnya.
''Aku datang kesini untuk membawamu dan Ibumu kembali, aku ingin menebus kesalahan yang telah aku perbuat, jadi Zalia, apa kamu mau memaafkan Daddy, sayang?''
Ekspresi wajah Zalia masih tetap datar, bola matanya menatap tajam mata Bryant, ''apa kamu menyesal?''
''Sangat, Daddy sangat menyesal. Seandainya, waktu dapat di putar kembali Daddy tak akan pernah melepaskan Mommy-mu dan membuat kalian menderita begini, sungguh Daddy sangat menyesal sayang, tolong maafkan Daddy, Zalia,'' lirihnya pelan.
Zalia tak lantas menjawab, gadis itu hanya diam saja, dia menatap sang Ibu, Trisya membalas tatapan putrinya itu dengan senyuman.
"Zalia mau kan memaafkan Daddy?" Trisya bertanya dengan tutur kata lembut. Gadis itu menilik dengan manik mata hitam pekatnya, seolah dia takut mengekspresikan keinginannya.
"Sayang, apa Zalia tidak ingin punya Ayah seperti orang lain? Nak, lupakan apa yang terjadi di masa lalu, Daddy bukannya sengaja menelantarkan kita, sebenarnya Mommy yang meninggalkannya. Jadi, Zalia mau kan maafin Daddy?"
Dengan langkah ragu, Zalia pun turun dari kursinya, kakinya melangkah pelan menghampiri Bryant, "apa kamu benar Ayahku?" Tanya Zalia dengan manik mata polosnya.
"Tentu sayang, aku adalah Ayah kandungmu!" Zalia memeluk tubuh Bryant menenggelamkan diri dalam dekapan sang Ayah.
"Aku sangat ingin punya Ayah," lirihnya pelan, "aku sering di ejek teman sekelasku karena aku tidak punya Ayah seperti mereka."
"Mulai sekarang Zalia punya Ayah, ayo kita tunjukkan pada teman-teman Zalia besok, siapa Ayah Zalia yang sebenarnya!" Ujar Bryant membesarkan hati putrinya.
Zalia melepas pelukannya, kemudian mendongak menatap Bryant, "apa Daddy mau datang ke sekolah?" Tanyanya dengan pandangan mata melebar.
"Bukannya dari kemarin juga Daddy sering datang kan? Jadi sekarang kenapa tidak, mulai besok Daddy yang akan mengantar jemput Zalia ke sekolah, Zalia senang?"
"Mommy?" Zalia meminta pendapat sekaligus meminta izin Trisya.
__ADS_1
"Tentu, lakukan sesuka kalian." Zalia tersenyum senang mendengar pertanyaan Trisya.
"Oke, mulai besok mari kita tunjukkan pada semua orang kalau Zalia punya Ayah juga, bahkan Ayah Zalia lebih hebat dari Ayah mereka." Bryant bangkit seraya melipat tangan di dada, berdiri dengan percaya diri yang tinggi.
Trisya mendengus pelan, menertawakan aksi Bryant yang menurutnya terlalu kepedean, "lihat Mommy mu menertawakan Daddy. Daddy tidak terima di tertawakan begitu," keluh Bryant dengan wajah memberengut lucu.
"Ayo kita berikan Mommy hukuman," bisik Bryant, di telinga Zalia, membuat gadis kecil itu membulatkan matanya sambil melirik Trisya.
"Kalian bisik-bisik apa?" Trisya menatap curiga.
"Kata Daddy dia ingin memberi Mommy hukuman," tunjuk Zalia.
"Apa kamu bilang, kamu sudah mulai berani ya!" Trisya mengambil bantal dan memukuli Bryant dengan benda yang terbuat dari kapas tersebut.
"Ampun sayang, aku hanya bercanda!" Pekik Bryant, posisinya tersudut di ujung sopa dengan tubuh setengah berbaring.
Aw... Pekiknya sambil meringis, seketika Trisya menghentikan aksinya dan memeriksa keadaan Bryant.
"Apa kau baik-baik saja, apa lukanya kembali terbuka? Coba ku lihat," Trisya tampak panik, dia berusaha menyibak baju yang Bryant kenakan.
Plak...
Trisya menggeplak lengan bagian atas Bryant sembari bangkit dengan wajah kesal, "dasar modus!" Pekiknya kesal.
Zalia melempar tatapan polos pada Ayah dan Ibunya silih berganti, 'ada apa dengan mereka, baru saja mereka baikan, dan sekarang sudah berantem lagi,' keluhnya dalam hati.
***
Keesokan paginya, sesuai janjinya Bryant mengantarkan Zalia ke sekolah bahkan sampai di depan pintu kelas, banyak pasang mata yang menyorot keberadaan Bryant, mereka menilik penasaran. Hati mereka bertanya-tanya pria kaya dari mana yang mengantarkan keponakannya ke sekolah.
"Zalia siapa dia?" Tanya anak perempuan yang seusianya.
"Dia Daddy-ku, namanya Bryant." Ucap Zalia memperkenalkan sang Ayah dengan wajah bangga.
"Hah, dia Daddy-mu? Kamu gak lagi ngarang kan, kamu jangan bohong Zalia, kamu kan gak punya Ayah," ejeknya, membuat Bryant geram.
__ADS_1
"Hey nak, kamu tidak sopan, kau bersekolah di tempat ini agar di didik dengan baik, tapi lihat ini, apa otakmu tak mampu mencerna apa pun yang di ajarkan guru, sungguh sia-sia orang tuamu menyekolahkan-mu," ucap Bryant kesal.
"Maaf Pak, anda tidak boleh bicara seperti itu pada anak kecil, tolong maafkanlah dia," tegur sang guru, lantas menggiring anak perempuan itu masuk kedalam kelas.
"Anak itu sungguh menyebalkan, rasanya aku ingin mencubit mulutnya itu, masih kecil sudah pandai bergosip," Bryant mengatur napasnya, berusaha menetralkan emosi yang mulai meluap di kepalanya.
"Sudahlah tidak papa Daddy, biar aku yang urus dia, sebaiknya Daddy pergi saja." Ujar Zalia.
"Kamu yakin bisa menangani anak nakal itu?" Bryant menatap sebal pada gadis kecil tadi.
"Aku yakin Daddy, pergilah!" Bryant pun menurut dan berlalu menuju kantor, tak lupa dia membawa sebuah buket bunga berwarna merah muda untuk Trisya.
Bryant memasuki kantor dengan wajah sumringah, buket bunga tergenggam rapi di tangannya dia berjalan keluar dari lift, langkahnya mengarah ke ruangan yang penuh dengan para karyawan yang tengah bekerja di bawah naungannya.
Trisya terkejut karena tiba-tiba sebuah karangan Bunga mendarat di mejanya, dia mendongak menatap siapa orang yang menaruhnya tanpa permisi.
"P-pak Bryant!" Pekik Liana terkejut, begitu pun dengan yang lainnya.
"Abaikan saja aku, silahkan kalian bekerja dengan tenang, anggap saja aku tidak ada," ujarnya, namun apa bisa begitu? Tentu saja tidak, apa lagi bagi Trisya.
"Apa yang kau lakukan?" Geram Trisya pelan, dia melirik teman-temannya dari ujung matanya, mereka menatap Trisya dengan pandangan aneh.
"Aku memberikanmu bunga, apa lagi?" Ucapnya polos.
"Bukan itu maksudku," decak Trisya kesal.
"Mulai sekarang aku secara resmi mengumumkan, kalau aku mengejar-mu Trisya," kata-kata Bryant itu mendapat sorakan seketika dari para karyawan Bryant disertai tepukan tangan.
"Woah, Trisya sangat beruntung ya, Pak Bryant menyukainya, apa dia tahu kalau Trisya itu punya anak?" Bisik salah satu Karyawan wanita yang bangkunya tidak jauh dari meja Trisya.
"Hush, ngomong apa kamu, kalau di dengar Pak Bryant gimana, lagi pula itu belum tentu benar," tegur temannya itu.
Bryant menoleh pada dua orang itu, yang seketika menunduk takut, "kalian telat, aku sudah mendengarnya, aku suka gaya kalian. Kalian tidak segan membicarakan orang lain tepat di depan wajahnya."
Ucapan Bryant itu sukses membuat suasana yang sebelumnya riuh menjadi sunyi senyap, ruangan ini tiba-tiba menjadi menyeramkan jauh dari suasana sebelumnya.
__ADS_1