Mengandung Benih Sang Mantan!

Mengandung Benih Sang Mantan!
Bab 45 - Papah sakit


__ADS_3

"Nona, Nona!" panggilan dari seseorang membuat Trisya terbangun, entah sejak kapan dia tertidur. Trisya menggeliat pelan, pandangannya menelaah sekitar.


"Huah Astaga, sejak kapan aku tertidur," keluh Trisya, sambil menguap.


"Dimana Zalia?" tanya Trisya pandangannya teredar ke semua arah.


"Nona kecil sedang berkeliling di temani para pelayan. Tapi Nona, Tuan besar masuk rumah sakit."


"Apa? Kenapa kamu tidak bilang dari tadi?" geram Trisya kesal. Dia bangkit dan berjalan setengah berlari, kemudian pelayan itu pun mengikuti.


"Tadi Nona tertidur, saya tidak berani membangunkan," ujarnya sembari menunduk.


"Kenapa Papah bisa masuk rumah sakit?"


"Saya kurang tahu Nona, tapi itu terjadi setelah perdebatan yang terjadi antara Tuan dan Tuan Bryant." jelas sang pelayan.


"Baiklah, aku akan pergi ke rumah sakit, tolong jaga Zalia, aku titipkan putriku pada kalian disini," ujar Trisya.

__ADS_1


"Nona tenang saja, kami akan menjaga Nona kecil dengan hidup kami, Nona pergilah dengan tenang."


"Syukurlah kalau begitu, aku pergi dulu." Trisya pun berpamitan dan menaiki salah satu mobil yang sudah di lengkapi dengan sopir di dalamnya.


"Pak, ke rumah sakit ya." Ucap Trisya setelah dia berada dalam mobil tersebut.


"Baik, Nona." Serunya, seraya mengangguk.


Setelah sampai Trisya langsung masuk, ini rumah sakit keluarga Bryant jadi Trisya cukup familiar dengan tempat ini, tanpa bertanya pun dia sudah tahu letak ruangan Austin Maverick.


"Kakek, bagaimana keadaan Papah?" tanya Trisya sembari mengatur napas.


"Kami belum tahu, kondisinya tiba-tiba drop, tapi para pelayan bilang kondisi dia akhir-akhir ini memang cukup serius, bahkan dia tak mau makan dan minum obat." Trisya menghela napas berat.


"Aku harap Papah akan baik-baik saja," gumam Trisya pelan, raut kecemasan tak bisa Ia sembunyikan dari wajahnya, dia melirik Bryant yang sedari tadi hanya diam, bahkan dia tak melirik sedikit pun saat Trisya datang.


"Apa yang Papah dan Bryant bicarakan tadi? Apa karena itu Papah jadi seperti ini?"

__ADS_1


"Tidak ada hal yang serius, hanya perbedaan pendapat antara Ayah dan Anak, tapi semua sudah baik-baik saja, namun entah mengapa kondisi Austin malah jadi begini, seakan aku yang jadi putranya, bukan dia. Seharusnya aku yang berada disana dan dia yang disini," Kakek menundukkan kepalanya, dia mengusap air mata dari kulit wajahnya yang mulai mengerut.


"Apa yang Kakek katakan, Kakek harus tetap sehat, tetap kuat, Kakek adalah pondasi keluarga ini." Ujar Trisya.


Bryant berbalik, dia menatap Trisya dengan pandangan sayu, di matanya tersirat kesedihan mendalam.


Trisya bangkit dan menghampiri Bryant, diluar dugaan, pria itu justru membenamkan diri di bahu Trisya, posisinya sedikit membungkuk membuat tinggi mereka tampak sejajar.


"Yakinlah, Papah akan baik-baik saja, kuatkan dirimu Bryant, kamu adalah putra Papah satu-satunya."


"Aku sangat menyesal karena sudah memarahinya tadi, aku menyesal karena sudah menyalahkan soal kematian Ibuku padanya, aku sungguh menyesal," lirih Bryant, agaknya dia menangis, karena bahu Trisya sedikit basah.


"Tidak papa, semua akan baik-baik saja." Trisya menepuk punggung Bryant memberinya penenangan.


"Trisya, jangan tinggalkan aku," lirihnya lagi.


"Baiklah, ayo duduk dulu." Trisya melepaskan Bryant dan membantunya duduk di kursi.

__ADS_1


__ADS_2