
"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku berpura-pura lari-lari saja? Tapi, ini bukan pagi hari, mana ada orang joging pukul satu siang." Bryant menghela napas berat, hanya ingin mendekati gadis kecil saja rasanya begitu sulit. Padahal dulu dia jagonya dalam perihal mendekati wanita.
Merry wanita itu tampak pergi meninggalkan Zalia seorang diri, "apa-apaan dia, kenapa ceroboh sekali meninggalkan anak kecil sendirian tanpa penjagaan, wah bener-bener gak bisa di biarin ini." Gerutu Bryant sembari turun dari mobilnya, tanpa ragu dia menghampiri Zalia yang tengah duduk sambil makan eskrim.
"Kenapa kamu duduk sendirian disini?" Zalia mendongak menatap orang yang menegurnya.
"Om tetangga, kenapa Om disini?" tanya Zalia dengan tatapan penuh tanya.
"Ehem, Om kebetulan lewat di sekitar sini, kamu sendiri ngapain duduk sendirian di tempat ini?"
"Aku gak sendiri Om, aku sama Bibi Merry. Dia pergi ke-toilet sebentar," Jawab Zalia, "sebaiknya Om pergi, kalau Mommy tahu aku bicara sama Om, Mommy pasti marah," tambah Zalia.
"Kalau begitu jangan bilang," balas Bryant ringan.
"Om menyuruhku berbohong?"
Eh, Bryant mengernyit, "tidak, bukan begitu. Tapi, jika aku meninggalkanmu sendirian di tempat ini, bagaimana jika ada orang jahat yang mendekatimu?"
Zalia terdiam, lantas menoleh, "Om benar, aku juga takut kalau harus menunggu Bibi Merry sendirian, Om temani saja. Aku janji, tidak akan bilang pada Mommy!"
"Oke, Deal!" Zalia dan Bryant bersalaman. Bryant lantas duduk di samping Zalia.
"Nak, di rambutmu ada daun kering, boleh om ambil?" Zalia menoleh, namun tak menolak.
Aduh...pekik Zalia saat dua helai rambutnya tercabut, "astaga maafkan Om, daunnya tadi tersangkut jadi rambutmu tidak sengaja tertarik." Zalia menunduk dia tampak sedih.
"Sungguh Om benar-benar minta maaf, Mau Om belikan eskrim?" tawar Bryant, dia ingin menebus dosanya.
"Tidak mau, aku sudah makan eskrim tadi. Mommy bilang jangan terlalu banyak, nanti perutku sakit," jawab Zalia, masih dengan wajah mematut.
"Kalau begitu Zalia ingin apa? Katakan pada Om, anggap saja ini sebagai permintaan maaf dari Om." Tanya Bryant lagi.
"Aku ingin cup cake," ucap Zalia, dengan mimik wajah mulai berubah.
"Boleh, mau ikut om?" Seketika Zalia terdiam dia menatap aneh pada Bryant, membuat Bryant menggaruk kepala tak gatal.
'Haish anak ini, tapi ini bagus Trisya mengajari putrinya dengan baik.'
__ADS_1
"Tenang saja ini tidak jauh, lihat toko di sebrang sana," mata Zalia mengikuti arah jari Bryant menunjuk, "lagi pula Mommy-mu kenal Om, dan Om ini bos-nya jadi tidak usah khawatir Om akan menculik kamu."
"Tapi--," Zalia masih tampak enggan.
Bryant menghela napas dalam, "kalau kamu gak mau ikut Om, Om mana bisa beliin kamu kue-nya, Om khawatir kalau ninggalin kamu sendirian di sini." Bryant memberi pengertian pada Zalia.
"Kalau begitu baiklah," Zalia bangkit dan tersenyum pada Bryant, "aku percaya pada Om, ayo kita pergi."
Bryant menatap lembut wajah polos itu, 'hatiku mengatakan kalau kamu memang putriku.'
"Om!" panggil Zalia lagi, karena mendapati Bryant malah termenung tak jelas.
"Eh, iya, ayo kita kesana!" Bryant bangkit, Zalia langsung menautkan jemari kecilnya pada Bryant, membuat desiran aneh merasuki hati pria berusia tiga puluh tahun lebih tersebut.
Dan mereka pun berjalan bersama dengan tangan yang saling bertautan.
"Kamu bebas memilih mau kue apa aja!" ucap Bryant setelah sampai di toko tersebut, saat ini mereka tengah menatap etalase memilih kue yang terpajang disana.
"Beneran Om?!" Zalia memekik kegirangan, Bryant mengangguk pasti.
"Nona, tolong berikan semua yang gadis kecil ini inginkan," ujar Bryant pada wanita pelayan toko.
"Aku ingin, yang ini, ini dan ini!" tunjuk Zalia, dia memilih cup cake tersebut dengan bermacam rasa.
Zalia menyusul Bryant dan duduk di hadapannya, "Om tetangga, siapa nama Om?" tanya Zalia.
Bryant yang semula membentangkan koran hingga menutupi wajahnya, kini menurunkan kertas tersebut hingga menampakan wajah Zalia yang menatap penasaran ke-arahnya.
"Nama Om Bryant, jadi jangan selalu panggil Om dengan sebutan Om tetangga." Ucap Bryant sambil terkekeh pelan.
"Oke, Om Bryant!" Zalia balas tersenyum.
Seorang pelayan datang membawa nampan berisi cup cake dengam bermacam-macam rasa sesuai pilihan Zalia.
"Wah gadis kecil tetangga ini rakus sekali ya, lihat berapa banyak kue yang kau pesan," Bryant menggeleng tak percaya.
"Ini bukan hanya untukku, ini untuk Om juga!" Bryant menggigit bibir bawahnya, pasalnya dia tidak terlalu suka makanan manis, terakhir kali dia memakan kue mungkin beberapa bulan yang lalu.
__ADS_1
"Oke, Om mau yang ada coko cips-nya ini." Bryant mengambil satu dan menggigitnya, dan Zalia pun begitu.
"Papahmu dimana?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Bryant di sela-sela kunyahannya.
"Aku tidak tahu," jawab Zalia masih menikmati kuenya.
"Hah? Apa Mommy mu tidak pernah membawamu menemuinya?" jawaban Zalia berikutnya membuat Bryant penasaran.
"Tidak," Zalia menggelengkan kepalnya, "aku juga tidak tahu siapa Papahku dan dimana dia."
"Kenapa kamu tidak bertanya pada Mommy-mu dimana Papah-mu berada."
"Aku tidak ingin membuat Mommy sedih dengan menanyakan soal Papah. Bagiku hanya bersama Mommy itu sudah cukup, lagi pula aku tidak ingin punya Papah. Temanku Janet dia punya Papah, tapi Papahnya sangat galak dia pernah di kurung di kamar mandi karena Janet menumpahkan kopi, aku takut jika aku punya Papah aku akan di kurung juga." Ucap Zalia.
"Hey itu tidak benar, tidak semua Papah galak seperti Papahnya Janet itu." Larat Bryant, merasa tak setuju dengan ucapan Zalia barusan, jika sampai Zalia tak ingin memiliki Papah yang kemungkinan adalah dia sendiri bisa gawat kan jadinya.
"Apa Om punya anak?" tanya Zalia tampak penasaran.
"Untuk sekarang belum, tapi nanti akan punya." Bryant mengangkat bahu ringan.
Bryant menatap jam di pergelangan tangannya, jam menunjukan pukul 15:00 PM.
"Kenapa pengasuhmu lama sekali? Jika di hitung ini sudah dua jam," Bryant terdiam, berpikir sejenak.
Ting...
Bunyi pesan masuk.
'Tuan Bryant ini aku Merry, bisakah Zalia pulang bersama anda? Sekarang aku sudah berada di rumah, aku tidak mungkin kembali kesana.'
'Haish, ini pasti rencana Marc. Kenapa aku tidak bisa menebaknya sejak awal.' Bryant tersenyum simpul, 'tapi ini bagus, dalam tahap pertama pendektan ini sudah lebih dari cukup, kedepannya aku akan sering menemui Zalia, walau pun nantinya hasil tes DNA kami negatif aku akan tetap menyanginya seperti putriku sendiri.'
"Benar, kenapa Bibi Merry lama sekali?" keluh Zalia, dia menaruh kepalanya di meja merasa bosan dengan keadaan.
"Bibi Merry menghubungi Om, katanya tadi dia ada urusan dia menitipkan mu pada Om. Dan sayangnya Om baru membaca pesannya sekarang, tolong jangan bertahu Ibumu ya, atau Bibi Merry akan di pecat dan Om juga akan di marahi Ibumu."
"Baik Om, Zalia janji tidak akan beri tahu Mommy!"
__ADS_1
"Anak baik, ayo di habiskan kuenya, setelah itu kita pulang." Bryant mengelus lembut rambut hitam se-pinggang Zalia.