
Trisya tersenyum lemah, "aku baik-baik saja Tuan, tapi apa yang membawanya anda hingga datang kemari?" tanya Trisya penasaran.
"Aku mendengar seseorang membuka lamaran untuk putrinya, dan aku datang kesini untuk mencoba peruntungan itu," ujarnya, sembari menyesap cangkir teh di hadapannya.
Trisya duduk di hadapan Austin, "maksud Tuan apa?" dia masih belum bisa mencerna maksud perkataan Austin.
"Bukankah semua sudah jelas, aku datang kesini untuk melamarmu Trisya."
Hah? Trisya melebarkan matanya, menatap tak percaya pada Austin, "tu-tunggu Tuan, apa anda tidak salah? Mana mungkin sa-saya menikahi anda," ujar Trisya, walau tak enak hati dia tetap mengatakannya karena tak ingin menyesali apa pun.
Austin terkekeh pelan, "apa karena aku terlalu tua?"
"Ti-tidak bukan begitu, a-aku, aku hanya--," Trisya berucap dengan suara gugup.
"Tenanglah, aku datang kemari bukan untukku tapi untuk putraku, Bryant." Trisya tertegun mendengar penuturan Austin, kemudian angkat bicara.
"Apa Tuan Bryant tahu soal ini? Tuan Austin, pernikahan bukan sesuatu yang bisa di putuskan begitu saja, aku--," perkataannya seketika di potong Margaret.
"Tuan saya menerima lamaran Tuan, serahkan semuanya pada saya, Tuan hanya perlu meyakinkan Tuan Bryant, sisanya biar saya yang urus!" pungkas Margaret menimpali.
"Mah!" pekik Trisya, dia hendak membantah namun tampaknya Austin sudah memutuskannya lebih dulu.
__ADS_1
"Bagus kalau begitu, kita hanya perlu memilih tanggal yang baik untuk pernikahan ini." Mereka tak menghiraukan tampang Trisya yang ingin menolak.
***
"Segalanya sudah di putuskan sejak saat itu, Trisya Austin menyayangimu seperti menyayangimu anaknya sendiri, dia memilihmu karena kamu punya kualitas yang tidak di miliki orang lain. Nak, kami tidak akan memaksamu untuk kembali bersama Bryant, hanya saja jangan pisahkan kami dari Zalia."
"Kakek, kenapa Kakek bilang begitu, seharusnya Kakek mendukungku." Keluh Bryant.
"Aku di posisi yang sama seperti Austin, aku menyayangi kalian berdua, jadi aku tidak akan memihak siapa pun." Kakek mengangkat bahunya ringan.
Trisya tersenyum simpul, dia sangat bahagia karena mengenal keluarga Bryant, mereka sangat baik dan perhatian. Bagaimana bisa dia melepaskan keluarga yang sangat langka ini.
"Apa yang kau katakan Nak, bagaimana bisa kami melupakanmu, dasar kau ini." ucap Kakek sembari menggelengkan kepalanya pelan.
"Zalia, kita akan menemui Kakek, apa kau senang?" Bryant mengusap kepala Zalia dengan penuh kasih sayang.
"Tentu saja Daddy, aku sudah tak sabar," jawabnya antusias.
"Baiklah, hari ini juga kita berangkat."
***
__ADS_1
Pesawat yang di tumpangi Bryant beserta keluarganya mendarat dengan aman, mereka kini tengah dalam perjalanan kembali ke kediaman Austin Maverick.
Setelah hampir satu jam perjalanan, mereka pun sampai, kedatangan mereka di sambut oleh beberapa pengurus rumah yang memang bertugas di rumah itu.
"Selamat datang Tuan Besar, Tuan Muda dan--," perkataannya terhenti saat pelayan itu melihat Trisya, "apa anda... Nona Trisya?" tanya sang pelayan memastikan.
"Iya ini saya Trisya, ternyata Nyonya Wayne masih mengingat saya," ujar Trisya sembari tak lupa menyematkan senyuman.
"Tentu saja, bagaimana saya bisa melupakan anda Nona, rasanya itu tidak mungkin. Lalu ini?" pertanyaan itu merajuk pada Zalia, yang berdiri di samping Trisya dengan lengan yang saling bertautan.
"Coba tebak, siapa dia." Tantang Trisya, dia melipat tangan di dada.
"Wayne, kenapa kau tidak mempersilahkan mereka masuk," ujar Austin yang tiba-tiba keluar dari kamarnya.
"Maafkan saya Tuan, tadi saya terkejut karena Nona Trisya kembali." Ujar Wayne membela diri.
Austin tak menghiraukan perkataan Wayne, dia melajukan kursi rodanya menghampiri Trisya dan yang lainnya, "apa kamu Zalia?" tanyanya, yang seketika mendapat anggukan dari gadis kecil itu.
"Kalau begitu kemarilah Nak, dan peluk Kakek!" Perkataan itu membuat Wayne dan yang lainnya tampak terkejut.
"Kakek?"
__ADS_1