
Trisya menghela napas dalam, "jika itu yang kau inginkan, maka baiklah." Trisya mencengkram ujung kemeja yang Ia kenakan, memusatkan kemarahan dan rasa tak berdaya disana. Mempertahankan sebuah pernikahan ternyata lebih sulit dari pada yang dia bayangkan.
"Kau boleh tetap tinggal di apartemen ini, aku membeli ini atas namamu, anggap saja sebagai kompensasi dariku."
"Tidak, aku akan kembali ke-rumah orang tuaku, terima kasih untuk belas kasih yang kau berikan, tapi aku menolaknya!" Frank... Trisya menaruh sendok tersebut dengan kasar, rasa lapar yang semula hinggap di perutnya, kini terbang entah kemana.
"Apa sudah tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan?" tanya Trisya masih pada posisi memunggungi Bryant, dua tahun menikah tak sekalipun mereka saling bertatap muka, bukan Trisya yang menghindar tapi Bryant.
"Tidak ada. Emh, apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu?" balasnya balik bertanya.
"Tidak, tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, aku permisi!" Trisya berlalu meninggalkan panci yang masih berisi mie Instan, dia mencengkram dadanya yang terasa sesak.
Air mata pecah seketika dari kedua sudut matanya, tanpa menunggu lagi Trisya mengemasi seluruh barang-barangnya kedalam koper. Dia tidak ingin tetap tinggal di tempat yang tak lagi menginginkannya.
'*Hubunganku dengan Bryant, sudah berakhir.'
flashback of*.
"Ck, tidakkah dia ingat, dia sendiri yang ingin bercerai dariku. Tapi lihat dia sekarang, seolah aku yang pergi meninggalkannya, dasar menyebalkan!" gerutu Trisya dengan tangan terlipat di dada.
Dia bejalan menuju kamar Zalia untuk memastikan apa gadis kecil itu benar-benar tertidur lelap atau tidak. Trisya tersenyum pelan dan kembali menutup pintu kemudian berlalu.
__ADS_1
Satu Minggu berlalu, hari-hari tetap Trisya jalani seperti biasa, begitu pun dengan Bryant, dia selalu memantau kegiatan Trisya seperti penguntit.
'Halo Tuan, ada kabar baik!' Suara Marc terdengar di earphone Bluetooth yang Bryant kenakan.
"Kabar baik apa? Cepat katakan!" Desak Bryant tak sabar, dia melajukan mobilnya mengikuti Taksi yang Trisya tumpangi dengan jarak beberapa meter.
'Anaknya Nyonya, sepertinya memang milik anda, dalam hasil tes DNA menunjukan 99% kalian Ayah dan anak.' Ucapan Marc membuat perasaan Bryant benar-benar senang, dia tersenyum cerah.
"Oke Marc, bawa hasil tes DNA-nya aku ingin melihatnya secara langsung."
'Baik Tuan, sampai jumpa di kantor.'
Bryant pun mengakhiri sambungan telponnya, bibirnya tak henti-hentinya menerbitkan senyuman, "sudah aku duga, Zalia memang putriku firasat-ku tak pernah salah.
Tok...Tok...
Suara ketukan pintu tak membuat perhatian Bryant teralihkan, dirinya sibuk meninjau berkas yang bertumpuk di meja.
"Masuk!" Ujarnya tanpa menoleh.
Selembar kertas tersodor kearahnya, Bryan menghentikan aktifitasnya kemudian mendongak, ternyata yang datang adalah Marc. Dengan segera Bryant meraih kertas tersebut yang ternyata hasil tes DNA.
__ADS_1
Lagi-lagi Bryant tersenyum, "apa Tuan senang?!" tanya Marc.
"Kau bercanda, tentu saja aku senang!" Jawab Bryant antusias, "mengetahui fakta bahwa aku sudah punya anak, membuat diriku menjadi lebih bersemangat, apa lagi putriku sangat cantik dan pintar, bagaimana aku tidak bahagia, Trisya merawat putri kami dengan baik."
"Kapan anda akan mengatakan pada Nyonya tentang anak kalian?"
Bryant terdiam, dia menghela napas berat, "entahlah Marc, tunggu hingga saat yang tepat. Untuk sementara ini berpura-puralah tidak tahu apa-apa, kita dekati Trisya perlahan, aku ingin dia menerima aku bukan hanya karena aku Ayah dari putrinya, tapi karena aku pria yang dicintainya."
"Baiklah, terserah anda saja."
"Kau memang asistenku yang paling dapat di percaya Marc, cepatlah cari pasangan!" ledek Bryant.
Marc membetulkan posisi kaca matanya seraya melempar pandang ke-arah lain, "saya tidak pernah berpikir hingga ke-arah sana Tuan, bagi saya hidup sendiri jauh lebih baik, dimana saya tidak perlu berbagi tempat tidur dengan orang lain, saya juga tidak suka berbagi sendok makan dengan siapa pun."
"Astaga, si gila kebersihan ini memang tiada duanya," Bryant terkekeh geli mendengar penuturan Marc.
Ya, Marc adalah orang yang gila kebersihan, bahkan dia selalu menggunakan hand sanitaizer setelah memegang benda yang di pegang orang lain, entah ini bisa disebut kelainan atau apa, yang jelas seperti itulah dia. Saat makan di restoran dia akan membawa sendok dan garpu dari rumah, benar-benar aneh bukan, tapi semua itu sudah tak asing lagi bagi Bryant yang selalu bersamanya tiap waktu.
"Apa kau pernah berciuman?" Marc melongok mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir Bryant.
"Orang sepertimu mana pernah berciuman, bahkan berbagi sendok dengan orang lain pun tidak pernah kau lakukan, apa lagi berbagi ludah," Marc mengernyit merasa jijik dengan penuturan Bryant. Namun itu justru membuat Bryant semakin ingin meledek pria berusia 28 tahun tersebut.
__ADS_1
"Ayolah cari pacar dan coba berciuman, itu sangat menyenangkan."
Marc menenggak Salivanya, menggeleng pelan membuang semua bayangan aneh yang muncul di kepalanya.