
"Ah, akhirnya aku bebas dari pria tidak waras itu. Terima kasih Trisya, jika kamu tidak ada disana mungkin aku tidak akan berdiri disini bersama-mu."
"Sama-sama, aku senang akhirnya kau terbebas dari Ben. Mulai sekarang kau harus berhati-hati untuk memilih pacar, jangan sampai ada Ben ke-dua dan ke-tiga." Trisya mengeluarkan petuahnya.
"Siap, laksanakan Nyonya Jonatan!" Jessy tertawa senang.
"Oh ya, mengenai pernikahan-ku dengan Jo, itu di batalkan."
"Hah, bagaimana bisa?" Jessy terkejut dengan mata membola.
Trisya pun menceritakan semua yang terjadi pada Jessy, "jadi sekarang kau hamil?" Jessy memastikan kembali.
Hem, Trisya mengangguk sebagai jawaban, dia menatap langit kelabu tanpa bintang, kini mereka berada di rooftop apartemen Trisya, dengan masing-masing minuman di tangannya. Jessy minum beer sedang Trisya hanya minum Jus mangga sebagai gantinya.
"Anak mantan suami-mu?" lagi-lagi Trisya mengangguki pertanyaan yang terlontar dari bibir Jessy.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" tambahnya, "apa kau akan kembali padanya?"
Trisya mendengus kasar, "tidak mungkin aku akan kembali pada bedebah sialan itu, dia sudah membuang-ku dan memperkosa-ku, aku tidak sudi merendahkan diriku untuk meminta pertanggung jawabannya. Lagi pula aku bisa membesarkan anak-ku seorang diri." Ucap Trisya sembari meneguk tetes terakhir dari minumannya.
"Kau yakin? Trisya, membesarkan anak seorang diri itu tidak mudah, aku melihat sendiri perjuangan Ibu-ku membesarkan-ku itu seperti apa, makanya aku memilih bekerja dari pada masuk perguruan tinggi. Aku tak ingin Ibu-ku terus di tekan dengan uang sekolah di masa senja-nya, aku ingin dia menikmati hidup dengan uang hasil keringatku, walau aku jarang menemuinya." Jessy menunduk sambil tersenyum.
"Tapi Jes, aku yakin orang tuamu ingin melihat dirimu mengenyam pendidikan tinggi bukan karena dia ingin hidup dalam kemewahan, tapi lebih pada kebanggaan karena telah berhasil melahirkan anak yang sukses, dia akan melihat dirimu dengan mata berkaca-kaca, dan bibir tersenyum penuh rasa bangga!"
"Jadi apa aku harus meneruskan kembali sekolah-ku?" Jessy meminta pendapat.
"Menurutku, Ya! Selagi kau masih muda, kau bisa menjadi pekerja paruh waktu, aku akan membantumu bicara pada Nyonya Wang!" Trisya menggenggam tangan Jessy memberinya kekuatan.
__ADS_1
"Baiklah!" dia tersenyum, "Kau sendiri, bukankah pendidikan-mu cukup tinggi, kenapa kau malah memilih bekerja disini, kau bisa mendapat pekerjaan yang gajinya lebih tinggi jika kau bekerja di kantoran."
"Bekerja di Toserba lebih nyaman bagiku untuk sekarang, apa lagi kini aku hamil."
"Mari kita berjuang bersama, aku akan selalu disini bersama-mu!" Jessy meletakan tangan di atas tangan Trisya. Kini Jessy yang balik memberi Trisya kata-kata penyemangat.
"Baiklah, mari berjuang bersama!"
...----------------...
Lima taun kemudian.
"Trisya cepatlah pulang, pengacau kecil ini mengamuk!"
Prank...!! Suara benda beradu membuat kebisingan terjadi dari balik telpon, Trisya yakin putrinya itu tengah membuat kekacauan lagi di rumahnya.
"*Aku tidak ingin makan Tante, aku ingin Mommy pulang sekarang juga!" teriakan itu mampu tertangkap di indera pendengaran Trisya.
"Baiklah, aku segera kembali, tolong jangan biarkan Zalia menghancurkan perabotan, aku baru saja membelinya bulan kemarin, jika dia menghancurkannya lagi, aku tak yakin aku bisa membeli yang baru." Trisya mengurut keningnya sembari menghela napas.
Dia menutup telponnya dan mengemasi barang, "Trisya bukankah kita akan makan malam bersama hari ini." Liana mengingatkan.
"Maafkan aku, sepertinya aku harus pulang. Putriku membuat masalah lagi, kau tahu anak-anak-kan, mereka akan membuat masalah saat mereka butuh perhatian, mungkin aku terlalu sibuk akhir-akhir ini," ujar Trisya tak enak hati.
"Oh begitu, baiklah." Ujarnya menghela napas dia tampak sedikit kecewa.
"Sampaikan juga permintaan maaf ku pada anak-anak yang lain, aku janji lain kali aku akan ikut makan bersama kalian."
__ADS_1
Selepas itu, Trisya pun berlalu dengan langkah cepat, dia memasuki Taksi yang sudah Ia pesan sebelumnya dari aplikasi online.
Putrinya yang Ia lahir-kan lima tahun lalu selalu saja membuatnya cemas, tingkahnya yang ceroboh membuat dia seringkali terluka dan menghancurkan barang-barang di rumahnya. Pernah suatu hari, Trisya membeli mesin cuci baru karena yang lama sudah rusak, namun belum sempat benda itu di sentuhnya, mesin tersebut sudah lebih dulu rusak karena ulah sang putri, entah apa yang dia perbuat-nya pada benda besar itu. Sifat alaminya yang selalu saja penasaran membuat dia sering mengotak-atik perabotan rumah. Kesal, marah, rasa itu di kalahkan oleh rasa sayangnya pada Anzalia.
Tak...Tak...
Langkah kaki Trisya menggema menginjak tangga menuju apartemennya. Dia langsung menerobos masuk saat dirinya telah sampai di depan pintu.
Whush... Kertas berwarna-warni menghambur menghujaninya.
"Kejutan! Happy Bilthday Mommy, Happy Bilthday Mommy, Happy Bilthday, Happy Bilthday, Happy... Bilthday...Mo...mmy!" Lagu itu mengalun merdu dari bibir Zalia, suara cadelnya yang khas membuat Trisya terharu, membuat matanya berkaca-kaca.
"Terima kasih sayang!" Trisya berjongkok dan membawa Zalia dalam dekapannya, ia lantas menghujani wajah Zalia dengan ciuman.
"Oh no! Stop Mommy, aku tidak suka di cium!" Zalia mendorong wajah Trisya dengan tangan mungilnya.
"Kenapa kau tidak suka di cium?"
"Aku tidak mau, temanku bilang, ciuman pertama seharusnya milik pacarku nanti." Ujarnya dengan wajah polos.
"Astaga, siapa yang mengajari teman-mu kata-kata seperti itu." Trisya tampak geram, sedang Jessy dia hanya tertawa menanggapi celotehan bocah Lima tahun tersebut.
"Aku tidak tahu, dia hanya bilang begitu, dia tidak bilang siapa yang mengajarinya." Zalia menggeleng dengan pandangan menatap lurus mata sang Ibu.
Trisya menghela napas, "Nak, jangan dengarkan kata-kata aneh dari temanmu itu lagi, oke. Pengetahuan seperti itu tidak cocok untuk anak kecil, lagi pula aku ini Mommy-mu ciuman dari Ibu tidak di hitung ciuman pertama atau yang lainnya." Trisya memberi pengertian, putrinya ini memang sangat polos dan murni, dia tidak ingin dia di ajari nilai-nilai tak masuk akal oleh orang lain.
"Sudah-sudah, ayo tiup lilinnya dulu nanti meleleh!" Jessy memecah keheningan.
__ADS_1
Selepas acara tiup lilin dan makan kue, lanjut acara makan malam. Jessy sudah menyiapkan makan malam tadi, di bantu oleh Zalia, sebetulnya bukan membantu, namun lebih ke mengacau. Dia malah menjadikan adonan tepung sebagai mainan dan menukar Lebel garam dengan gula, membuat dua bumbu inti itu tertukar gunanya.
"Trisya, jangan heran dengan rasa masakannya, kau tahu itu ulah siapa." Sindir Jessy, orang yang di maksud hanya acuh tak acuh, dia menikmati susu kocok yang Jessy buatkan untuknya tadi.