Mengandung Benih Sang Mantan!

Mengandung Benih Sang Mantan!
Bab 25- Jalan-jalan


__ADS_3

"Sayang, Mommy pulang!"


Selang beberapa waktu Trisya pun pulang, beruntung Bryant sudah mengantar Zalia tepat waktu dan kembali ke-kantor kemudian pulang setelah Trisya agar dia tidak curiga.


"Bagaimana sekolahnya hari ini?" tanya Trisya pada Zalia yang tengah menikmati makan malamnya.


"Sangat menyenangkan!" jawab Zalia.


Trisya tersenyum lembut seraya mengusap kepala Zalia.


'Tetaplah bahagia, Nak. Itu yang Mommy inginkan!'


"Syukurlah, ayo habiskan makanannya."


Trisya duduk diam menghadap jendela menatap keluar dengan segelas minuman di tangannya.


'Sebenarnya apa yang di inginkan pria itu? Seakan dia sangat mencintaiku,' Trisya mendengus kasar.


Seandainya sikap Bryant dulu begini, mungkin perasaan Trisya akan sangat bahagia, tapi sekarang, rasanya usaha dia itu sia-sia saja, hatinya telah membeku dan mungkin akan selamanya tetap begitu.


...----------------...


Hari pun berlalu sama seperti biasanya, dia selalu mengabaikan Bryant seolah pria itu tak pernah ada.


"Mommy, sebenarnya Om tetangga itu siapa sih? Dia selalu liatin Mommy, begini." Zalia menirukan cara Bryant menatap Trisya.


"Dia bukan siapa-siapa sayang, sudah abaikan saja." Ucap Trisya sembari mencium pucuk kepala putrinya.


Saat ini mereka tengah berada di dalam taksi, Trisya hendak mengajak Zalia ke-taman hiburan, untuk menikmati waktu libur mereka.


"Berhenti disini saja, Pak. Ayo sayang!" Trisya menuntun Zalia turun setelah dia membayar ongkos taksi.


"Woah Mommy, tempatnya sangat bagus, aku ingin naik itu!" ucap Zalia antusias saat melihat komedi putar dan berbagai wahana permainan yang tersedia disana.


"Oke, kita beli tiket dulu."


Trisya duduk mengawasi Zalia sembari menyesap gelas kopi di genggamannya. Seseorang duduk di samping Trisya, namun tak membuat wanita itu bergeming.


"Mereka tampak bahagia bukan." Jo menyesap minumannya sendiri.


Trisya menoleh, dia tidak menyangka akan bertemu Jo di tempat ini.


"Kalian juga kemari?"

__ADS_1


"Hem, Arzan merasa bosan di-rumah, jadi kami berjalan-jalan kemari."


"Sepertinya kau sudah cocok menjadi Ayah," goda Trisya.


Jonatan mendengus tawa, "tapi sayang-nya tidak ada wanita yang mau menikah denganku."


Trisya memutar bola mata malas, sembari menyesap kopi di genggamannya.


"Trisya!" panggilnya.


Hem, Trisya menoleh menatap Jonatan penuh tanya.


Jonatan meraih tangan Trisya dan menggenggamnya, "aku ingin meminta kesempatan ke-dua, bisakah?"


Trisya terdiam, dia melepaskan genggaman tangan Jonatan di tangannya, "emh, aku--," Trisya membetulkan kembali posisinya.


"Aku rasa, aku tidak bisa. Jo, aku tidak ingin memberimu harapan apa-pun, jadi aku akan katakan langsung, maaf aku tidak bisa menerimamu. Tapi, kita tetap bisa berteman." Trisya tersenyum dengan mata melebar.


Jonatan bangkit seraya tersenyum, "baiklah tidak papa, walau pun hatiku merasa kecewa."


"Mommy!" teriak Zalia, dia berlari mendekat bersama Arzan.


"Sudah puas mainnya?" tanya Trisya.


"Sudah Mommy, aku lapar." Keluhnya sembari menyentuh perutnya.


Arzan menoleh pada pada Jonatan, mungkin maksudnya meminta pendapat, Jonatan mengangguk membuat Arzan membulatkan matanya, walau tanpa senyuman.


Trisya mengernyitkan dahi, dia menatap Arzan dengan pandangan heran, "Jo, kenapa Arzan tidak pernah tersenyum atau pun bicara banyak seperti anak-anak yang lain?" bisik Trisya di telinga Jonatan.


Emh, Jo terdiam sejenak menimbang kata, "aku juga tidak tahu, semenjak kepergian Ibu-ku dia jadi begini, mungkin ada rasa trauma dalam hatinya."


"Mungkin sebaiknya kau bawa dia ke-pesikiater, aku merasa sedikit khawatir padanya." Ucap Trisya sembari menilik Arzan yang tengah berdiri tak jauh dari mereka.


"Ya nanti aku akan coba bertanya padanya, apa dia mau dibawa kesana atau tidak," Jonatan tersenyum sembari melipat tangan di dada, dia memperhatikan Arzan dan juga Zalia yang tengah duduk sembari memakan makanan ringan.


"Ayo pergi makan, bukankah kalian lapar!" ajak Trisya, Zalia dan Arzan seketika bangkit dan mendekat.


"Ayo Mom, aku ingin makan makanan laut." Ujar Zalia antusias.


"Siap!"


Trisya dan Zalia menumpangi mobil Jonatan untuk pergi makan bersama, Arzan dan Zalia duduk di belakang, dan Trisya duduk di depan bersama Jonatan yang mengemudi.

__ADS_1


Zalia terus saja berceloteh, walau hanya di tanggapi anggukan oleh Arzan, atau kata Hem saja. Entah apa yang di alami anak ini hingga dia menjadi sangat pendiam. Trisya sesekali menoleh pada keduanya sembari tersenyum pelan, mungkin keberadaan putrinya berperan penting untuk Arzan.


Mobil yang mereka tumpangi berhenti di parkiran cafe, dan mereka pun lekas turun. Trisya memesan cukup banyak makanan untuk mereka makan bersama, mereka tampak seperti keluarga.


Tak-jauh dari mereka duduk saat ini, Bryant dan Marc juga turut hadir disana, mereka tengah makan siang bersama rekan bisnis untuk membicarakan masalah pekerjaan.


"Tuan, sepertinya aku melihat Nyonya dan Nona kecil tengah makan bersama dengan mantan calon suami Nyonya dulu." Bisik Marc di daun telinga Bryant.


"Dimana?" Bryant tersentak, dangan mata menelaah sekitar.


"Arah jam sembilan." Seketika Bryant menatap sejurus, dan benar apa yang Marc katakan itu Trisya dan putrinya, serta di hadapannya ada seorang Pria membawa putranya, mereka tampak seperti keluarga bahagia, mereka tertawa bahagia.


"Sialan!" geram Bryant, dia mengepalkan tangannya memusatkan kemarahan disana.


"Ada apa Tuan Bryant? Apa terjadi sesuatu?" tanya rekan bisnisnya yang tampaknya menyadari jika Bryant sedang tidak senang.


"Ah, tidak ada apa-apa Tuan Gilbert, saya hanya tiba-tiba tidak enak badan. Bisa kita bicarakan lagi masalah ini lain hari?"


"Tentu, Tuan Bryant. Itu bukan masalah, jika begitu saya permisi dulu!" Tuan Gilbert dan asistennya pun pergi.


Bryant bangkit, dia benar-benar tidak suka dengan pemandangan yang terpampang di depan matanya itu, hatinya merasa terbakar tiap kali menoleh.


"Tuan mau kemana?" tanya Marc yang juga turut bangkit mengikuti sang majikan.


Bryant tak menjawab dia malah berjalan mendekati meja Trisya dan Jonatan.


"Boleh aku bergabung?!" tegurnya, membuat semua pengisi meja itu menoleh padanya.


"Om tetangga!" pekik Zalia, dia tampak senang melihat Bryant. Bryant melembaikan tangan sambil tersenyum manis pada Zalia.


"Sedang apa kamu disini?" Trisya melempar tatapan sengit.


"Aku bertanya apa aku boleh bergabung?" Bryant mengulangi pertanyaannya yang belum dapat jawaban.


Marc datang menyusul, dia menunduk hormat pada Trisya.


"Silahkan, lagi pula kami pesan makanan cukup banyak, sayang jika tidak habis. Benarkan Trisya," Jonatan yang menjawab, dia meminta pendapat Trisya.


"Ah, terimakasih kalau begitu, jadi aku tidak akan sungkan." Bryant duduk, sedang Marc memilih duduk sendiri tak ingin bergabung dengan masalah yang pasti akan timbul.


"Zalia suka kerang?" Bryant menarik sepiring kerang laut kehadapannya.


"Sangat suka, Arzan juga!" Zalia menunjuk anak laki-laki di hadapannya.

__ADS_1


"Kalau begitu biar Om yang kupaskan," Bryant menyumpit daging kerang dan menaruhnya di piring Zalia, dia tak menghiraukan tatapan kesal yang Trisya layangkan kearahnya.


"Dasar tidak tahu diri!" guamamnya yang hanya terlihat gerak mulutnya saja.


__ADS_2