Mengandung Benih Sang Mantan!

Mengandung Benih Sang Mantan!
Bab 30 - Harapan orang tua


__ADS_3

"Mommy!" Panggil Zalia sembari berlari kearah Trisya dan membenamkan diri di pelukan sang Ibu.


"Kenapa keluar sayang?" Tanya Trisya heran.


"Kata Dokter, Om tetangganya harus Istirahat dan anak kecil gak boleh lama-lama di rumah sakit." Ujar Zalia.


"Ah begitu, kalau gitu kita pulang aja ya, biar Om tetangganya Istirahat." Trisya mengelus pelan kepala putrinya.


"Iya Mommy," jawab Zalia, dia melirik pada Marc yang duduk tak jauh dari mereka, "Mommy, om ini siapa?" Bisik Zalia, dia menutupi gerak mulut dengan telapak tangannya.


Trisya tersenyum, kemudian memperkenalkan Marc pada Zalia, "ini Om Marc, teman Mommy dulu, ayo beri salam."


"Halo Om, senang berjumpa dengan Om, namaku Zalia!" Ucap gadis kecil itu, Marc yang tidak tahu harus menjawab apa dia hanya membalas sapaan Zalia dengan anggukan serata senyuman.


"Marc, kami pergi dulu, lain kali berkunjunglah ke-rumah kami. Ayo, sayang." Trisya berlalu sambil menuntun Zalia.


"Nyonya, menganggap aku temannya?" Marc menatap punggung Trisya yang perlahan mengecil di kejauhan.


Bayangan masalalu tiba-tiba terlintas di benak Marc.


"Marc, apa kau masih punya keluarga?" Tanya Trisya yang tengah duduk di meja makan bersamanya. Beberapa saat lalu, Marc datang untuk menyampaikan pesan dari Bryant bahwa dia tidak akan pulang lagi malam ini, dia akan pergi bersama temannya.


Trisya sudah mulai terbiasa, dia sudah tahu kemana perginya Bryant setiap malam, dan Marc selalu datang untuk menyampaikan pesan, dan sejenak menemaninya makan malam.


"Ibu saya sudah meninggal, Nyonya. Dan Ayah saya, membuang saya di jalanan, sedang dia sendiri pergi dengan wanita lain." Ujar Marc, dia tidak ingin menutup-nutupi apa yang di alaminya pada siapa pun, bukan karena ingin di kasihani, namun karena itu sebuah fakta yang meski di sembunyikan tetap tidak akan pernah berubah.


Trisya menyuapkan nasi ke-mulutnya, kemudian tersenyum, "kita punya nasib yang sama, namun keberuntungan yang berbeda Marc, aku juga di buang keluargaku."


"Tapi, anda cukup beruntung karena masih memiliki keluarga yang lengkap, sedangkan saya," Marc mendengus pelan, meski dia tak menuntaskan kata-katanya, Trsya faham betul apa yang dia maksud.

__ADS_1


"Mereka tidak seperti yang terlihat diluar Marc, lagi pula, mereka hanya orang tua angkatku. Ya bisa di bilang, aku seperti peliharaan mereka, yang bisa di jual kapanpun mereka mau, hanya saja caranya sedikit berbeda." Trisya terkekeh pelan.


'Saat itu, aku pikir perkataan Nyonya hanya sebuah bentuk kekesalannya pada keluarganya, karena telah menjual dia. Namun ternyata semua itu benar adanya, pasangan laknat itu tega melakukan semua itu padanya. Jika sampai aku menemukan kalian, kalian tidak akan pernah aku ampuni.' Marc mengepalkan tangannya memusatkan amarah disana.


Marc masuk kembali ke-ruang rawat Bryant, Pria itu tengah memainkan ponsel di tangannya, dia mendongak saat melihat pintu terbuka.


"Marc itu kau, aku pikir tadi Trisya," raut wajahnya nampak kecewa.


"Nyonya sudah pulang. Dia membawa Zalia pergi, karena Dokter melarang anak kecil berada terlalu lama di rumah sakit." Terang Marc.


"Tapi aku merasa senang, meski aku tertusuk dan kesakitan, setidaknya kini dia memperbolehkan aku bertemu Zalia." Ucap Bryant sambil meringis merasakan perih di lukanya.


"Sebaiknya Tuan istirahat, agar bisa cepat pulih."


Bryant mengangguk, dia menurunkan bagian atas pembaringannya hingga merasa cukup nyaman untuk di tiduri.


"Oke, kamu bisa pergi, aku akan istirahat."


"Hah, apa yang kau lakukan? Itu tidak perlu, aku bisa merawat diriku sendiri," tukas Bryant dengan wajah kesal.


"Tapi--," belum sempat Marc menyelesaikan ucapannya Bryant sudah memotongnya lagi.


"Pokoknya batalkan! Aku tidak mau di rawat oleh wanita lain." Tegas Bryant.


Marc mengulum senyum, akhirnya dia mengerti arti dari perkataan Tuannya itu, "baik Tuan, silahkan beristirahat dengan tenang, saya pergi dulu." Marc pun berlalu.


"Beristirahat dengan tenang, kenapa rasanya pesan itu seperti untuk orang mati," keluh Bryant, dia kembali membetulkan posisinya membuat dirinya nyaman.


Dering ponsel membuat matanya yang semula hendak terpejam harus terbuka kembali.

__ADS_1


"Ah sial, siapa yang menelpon," Bryant menilik nama yang tertera di layar gawai-nya, "Kakek!" Pekiknya pelan sembari membetulkan kembali posisinya.


Ehem...Ehem, "halo Kek!" Sapa Bryant.


"Dasar anak nakal, kemana saja kamu hah? Perusahaan disini menagalami masalah kamu malah enak-enakan liburan, cepat kembali!" Sang Kakek merutukinya dari sebrang telpon setengah berteriak, membuat Bryant refleks menjauhkan benda pipih itu dari telinganya.


"Haish, orang tua ini suaranya masih bisa merobek gendang telingaku," keluh Bryant pelan.


"Maafkan aku Kek, untuk sementara aku belum bisa kembali. Ada hal penting yang harus aku lakukan," jawab Bryant.


"Hal penting apa yang melebihi kepentingan perusahaan? Apa kau ingin membuat kita jatuh bangkrut?" Teriaknya lagi.


"Ini menyangkut kehidupanku Kek,"


"Kehidupan apa dasar anak ini?"


"Aku menemukan Trisya, aku sedang berusaha mendekatinya lagi Kek, aku ingin kembali padanya." Terang Bryant.


Helaan nafas Kakek terdengar jelas, "kau sudah membuatnya terluka Nak, apa kau pikir dia akan memaafkanmu? Menurut Kakek, lebih baik kau menyerah, biarkan dia bahagia dengan kehidupannya."


"Tidak bisa Kek, sampai kapanpun aku tidak akan bisa merelakan Trisya, apa lagi saat ini dia bersama putri kami."


"Putri?!" Lagi-lagi Kakek berteriak karena terkejut, membuat Bryant kembali menjauhkan telpon genggamnya dari telinga, "Apa itu benar-benar Anak-mu? Kakek pikir kalian tidak pernah melakukan, itu."


"Iya itu benar Anakku, aku pernah memaksanya untuk melayaniku sebelum dia pergi, karena aku pikir dengan melakukan itu akan membuat dia kembali kesampingku, dan perlahan aku akan membuat dia memaafkanku. Namun ternyata itu tidak berajalan sesuai rencana, dia kabur entah kemana." Ucap Bryant.


"Kau benar-benar diluar dugaan Nak, aku bingung harus mengatakan apa padamu, tapi aku senang karena tahu bahwa aku sudah punya cicit," Kakek terkekeh pelan, "berjuanglah, dan bawa kembali Trisya bersama putri kalian ke-hadapanku, aku menunggu kalian. Jangan khawatir soal perusahaan Kakek akan mengatasinya."


"Baik Kek, terimakasih atas pengertiannya. Aku berjanji akan kembali bersama keluargaku." Dan sambungan telpon pun terputus.

__ADS_1


Bryant tersenyum senang, dia kembali meletakan telpon genggamnya di atas nakas, kemudian membuat dirinya terlelap.


Akan ada hari dimana kita kembali bersama Trisya, dan aku menantikan hari itu. Dengan wajah tersenyum bahagia, kau menyaksikan Zalia berlari-lari di halaman rumah kita dengan kepala bersandar di bahuku dan kita akan minum kopi dari cangkir yang sama. Kau akan berkata, Zalia, Ayahmu menggodaku, dia sangat menyebalkan dan Zalia pun menjawab, Mommy, Daddy melakukan itu karena dia sangat mencintaimu.


__ADS_2