Mengandung Benih Sang Mantan!

Mengandung Benih Sang Mantan!
Bab 12 - Kebencian yang nyata


__ADS_3

"Kamu lama banget sih, kita udah nunggu dari tadi," keluh Liana saat Trisya memasuki mobil dan duduk di samping Edwin.


"Sorry, aku tadi menelpon temanku dulu, meminta agar menjaga anakku lebih lama. Kalian tahu punya anak itu tidak mudah." Jawab Trisya.


"Makanya aku tidak ingin menikah, melihatmu kehilangan kebebasan saja membuatku enggan," sahut Dion.


"Kamu tuh laki-laki Ion, masa Ia punya anak. Lagian yang ngurusin anak itu Istri kamu nanti," balas Liana yang masih tampak fokus pada kemudinya.


"Tahu tuh dia," cibir Edwin.


Trisya hanya tersenyum menanggapi celotehan temannya, mobil mereka berhenti di sebuah cafe yang menyediakan minuman dan makanan laut.


"Ayo semuanya, selamat makan!"


Trisya dan teman-temannya tampak menikmati makanan sembari bercakap-cakap.


Di-kejauhan, tampak sebuah mobil berwarna hitam terparkir rapi di tepi jalan.


"Tuan, Nyonya tampak bahagia dengan kehidupan barunya," ujar Marc dengan mata ikut mengawasi kegiatan Trisya.


"Hem, meski begitu aku ingin dia tetap kembali bersama-ku, Marc. Aku yang tak bahagia tanpanya," jawaban itu membuat bibir Marc seketika terdiam.


Lama mereka mengawasi kegiatan Trisya di cafe tersebut, hingga Trisya mendapat panggilan di telpon dan berpamitan pulang lebih dulu, "kenapa dia cepat pulang?" gumam Bryant.


"Marc, ikuti mobilnya!" perintah Bryant saat dia melihat Trisya menaiki taksi dan melaju cepat di jalanan.


Trisya turun di depan sebuah gedung apartemen sederhana dan langsung naik dengan langkah setengah berlari.


Marc mendongak menatap gedung tersebut, "apa Tuan ingin menyewa tempat di apartemen ini?" tanyanya, seolah dia tahu jalan pikiran sang majikan.


"Kau pintar Marc, lakukan!"


...----------------...


Langkah Trisya terhenti di depan pintu, dia mengatur napas dalam-dalam, lantas masuk.


"Zalia, sayang! Mommy pulang!" teriak Trisya, namun tak ada sahutan dari dalam, "Zalia!" panggilnya lagi.


Ceklek...


Trisya membuka pintu dan mendapati Zalia tengah duduk menyandar di kepala ranjang sembari mendekap lutut.


"Astaga sayang, kamu kenapa?" Trisya membawa Zalia dalam dekapannya, mengusap lembut rambut se-pinggang gadis kecil itu.

__ADS_1


"A-aku mimpi buruk Mom, a-aku takut," Isaknya lirih.


"Tidak papa, tidak papa, Mommy ada disini bersama-mu. Mommy akan tidur disini malam ini, Zalia tidak usah takut bobok lagi ya!" Trisya menenangkan.


Zalia mengangguk dan kembali berbaring dengan mata terpejam, Trisya menatap sayang wajah polos itu, rasa takut kemudian muncul, takut jika Bryant sampai menemukan keberadaan Zalia.


'Tidak, aku harus bagaimana? Bagaimana jika Bryant mengambil Zalia dariku, aku benar-benar tidak sanggup jika harus kehilangan putriku. Apa yang harus aku lakukan?'


Jessy! Sebuah ide tiba-tiba terbit di kepala Trisya, dia mengeluarkan ponselnya dan menelpon Jessy.


"Halo Trisya ada apa? Apa Zalia baik-baik saja? Maaf aku tadi pergi terburu-buru dan meninggalkan dia saat kau belum kembali, tapi dia tadi sudah tidur saat aku pergi." Cerocos Jessy.


"Dia baik-baik saja, dia meneleponku tadi dia terbangun karena mimpi buruk."


"Oh astaga, lalu bagaimana dia sekarang?"


"Dia sudah tidur lagi, Jes, aku ingin meminta tolong padamu dan Ben." Ucap Trisya.


'Hah, minta tolong apa?" tanya Jessy lagi.


"Mari kita bicara besok!"


Keesokan harinya, Jessy dan Ben sudah duduk di ruang tamu, sedang Zalia dia sedang menonton kartun di televisi.


"Hah apa yang kau katakan?" Ben melebarkan matanya.


"Aku tahu ini tak masuk akal bagi kalian, tapi saat ini aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih, aku takut Jes, aku takut dia akan membawa Zalia." Trisya menopang dahi dengan jemarinya.


"Dia siapa? Apa Ayah-nya Zalia?"


Bertepatan dengan itu, suara ketukan di pintu membuat semua orang terkejut, "siapa yang bertamu di jam begini?"


Jessy beranjak membuka pintu.


Ceklek...


Pintu pun terbuka, menampakan wajah pria asing di ambang pintu, "maaf anda mencari siapa ya?"


Dia memiringkan kepala seraya tersenyum, Jessy berbalik menatap Trisya yang diam terpaku dengan tubuh menegang.


"Hay, saya baru pindah kemari hari ini, jadi kita bertetangga mulai sekarang," dia melangkah masuk, namun pergerakannya di halangi Jessy.


"Mau apa kamu?" tanya Jessy tajam, Ben ikut bangkit dan memblokade jalan.

__ADS_1


"Trisya mengenalku, jadi kalian tidak usah khawatir aku orang jahat." Jawab Bryant dengan tenang.


Selagi Jessy dan Ben menghalangi Bryant dengan cepat Trisya membawa Zalia bersembunyi di dalam kamar.


"Mommy, ada apa?" tanyanya bingung, karena Trisya tampak ketakutan.


"Diluar ada orang jahat, jadi Zalia harus tetap bersembunyi disini dan jangan bersuara," Trisya berucap pelan.


"Biklah Mommy, tapi Mommy harus hati-hati ya." Trisya mengecup dahi Zalia sebelum kembali keluar.


Klak...


Trisya menutup pintu dan berajalan menghmpiri ketiga orang itu, refleks Ben dan Jessy berdiri menyamping.


"Mau apa kamu datang kesini?" tanya Trisya tajam.


"Kenapa kamu begitu galak? Tidakkah kamu ingin menyuruhku masuk lebih dulu, malu kalau di lihat orang." Ucap Bryant, kali ini dia berhasil masuk dan duduk di sopa walau tanpa di persilahkan sekali-pun.


"Kamu hidup dengan baik disini ya." Ucap Bryant dengan pandangan menelaah sekitar.


"Oh, apa disini ada anak kecil?"


Pandangan Trisya seketika melebar, dia lupa menyembunyikan mainan Zalia yang masih berserakan di lantai.


"Sepertinya anak perempuan," Bryant tesenyum, menatap boneka Barbie dan mainan alat-alat masak yang teronggok sembarangan.


"Itu anakku, aku sering menitipkan anakku pada Trisya, jadi mainannya banyak yang tertinggal di tempat ini." Sahut Jessy tampak gugup.


"Ya, itu benar!" Ben mendukung perkataan kekasihnya.


Bryant tersenyum pelan, "kenapa kalian menjelaskan itu padaku, aku bahkan tidak bertanya, anak siapa yang ada disini. Trisya, meski-pun dia anak-mu bagiku itu tidak masalah, selama kau tetap lajang." Bryant bangkit.


"Ah aku lupa, aku membawakanmu sesuatu!" Dia menaruh paper bag yang di bawanya di atas meja, "jangan di buang-ya, kalau kamu tidak mau, kamu bisa memberikannya pada satpam yang berjaga di depan," ujarnya.


"Kalau begitu aku permisi dulu, kita akan sering bertemu sayang. Jangan bosan melihat wajahku," dia menyentuh bahu Trisya yang refleks langsung Trisya hempaskan seperti debu yang tak sengaja menempel.


"Menjauh-lah dariku, kau dengar! Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi!" Teriak Trisya saat Bryant sudah keluar dari rumahnya.


Brak...!!


Pintu tertutup keras, terdengar isakan lirih dari dalam, Bryant menghela napas berat lantas memasuki rumahnya sendiri, yang hanya bersebelahan dengan rumah Trisya.


Dia bersandar di daun pintu, Bryant tidak menyangka Trisya akan sangat membencinya.

__ADS_1


__ADS_2