
Hari pun berlalu, Bibi Merry sudah mulai bekerja dan sepertinya dapat di percaya membuat Trisya sedikit lebih tenang.
"Marc, kau yang membantu Trisya mencari pengasuh untuk putrinya?" tanya Bryant dengan tatapan menyelidik.
"Iya Tuan," jawab Marc sembari membereskan berkas yang berserakan di atas meja.
"Mengapa sepertinya dia lebih percaya padamu di banding aku," keluh Bryant dia tampak tak suka.
"Apa Tuan tidak senang?" Marc balas bertanya.
"Tidak, aku senang. Tapi, kau tahu aku seorang pria pencemburu, tapi tenang saja aku bukan orang yang picik, tetap lanjutkan saja pendekatannya, aku tahu itu demi aku." Bryant menghela napas berat, dia merasa iri karena dengan mudahnya Trisya bisa mempercayai Marc, sedang padanya bahkan sikap Trisya sangat galak.
Marc menoleh lantas berkata, "tugas Tuan sekarang adalah untuk mendekati putrinya Trisya, yang mungkin adalah putri Tuan sendiri."
"Oke Marc, langkahmu memang selalu selangkah di depanku. Apa jadinya jika kau tidak ada di sampingku," Bryant terkekeh pelan.
Marc mengalihkan pandangan kearah lain, "jangan terlalu mengandalkan ku Tuan, bisa jadi kau akan lebih kecewa terhadapku nantinya."
Bryant mengangkat bahunya ringan, "aku bukannya pria tanpa toleransi, jika kau hanya melakukan kesalahan sepele aku akan melupakannya. Ayo kita harus ke-ruang rapat."
Bryant menepuk bahu Marc sembari berlalu.
...----------------...
"Lima di tambah tujuh itu berapa ya? Satu, dua, tiga," Zalia tampak berpikir sembari menghitung jemarinya.
"Arzan, menurutmu berapa?" dia melempar pertanyaan pada Arzan.
"Aku tidak tahu," Arzan menunduk dan fokus pada bukunya sendiri.
Zalia manyun, dia sebal karena Arzan selalu saja begitu, dia selalu menghindari Zalia dan tak pernah mau menatapnya.
"Om, boleh aku minta makanan, aku lapar." Ucap Zalia.
"Tentu saja, kau mau makan apa?" Jo berjalan mendekat dengan senyum tersemat di bibirnya.
"Roti sandwich dan susu." Jawab Zalia.
"Hanya itu?"
__ADS_1
Zalia mengangguk, "baiklah, Arzan kau mau yang lain?"
Seperti biasa anak itu tak menjawab, pandangannya selalu datar tanpa ekspresi, "kalau begitu aku buatkan sandwich juga untukmu."
Jonatan menghela napas berat, sejak Neneknya meninggal, Arzan jauh lebih pendiam dari sebelumnya, meski Jo terus berusaha berbaur dan mengisi kekosongan dalam hidup Arzan, namun nampaknya itu tak berhasil sama sekali.
Arzan melirik buku PR yang tadi di kerjakan Zalia, dia tahu Zalia hanya pura-pura tidak tahu, padahal dia murid terpintar di-sekolah.
"Roti sandwich kalian sudah datang, satu untuk Zalia dan satu untuk Arzan, jika kalian masih lapar Om akan membuatkannya lagi. Makanlah, Om akan berada disana!" tunjuk Jonatan pada sebuah kursi yang terletak di balkon rumahnya.
"Oke Om!"
Zalia meraih roti itu dan menyantapnya sambil meminum susu, "hey kenapa tidak di makan?" tanya Zalia saat melihat Arzan tak menyentuh makanan itu sama sekali.
"Aku tidak lapar." Jawab Arzan dingin, dia malah fokus menggambar di bukunya.
"Kau menggambar apa?" Zalia hendak melihat, namun dengan segera Arzan menutupnya.
"Bukan apa-apa, kala kau mau kau bisa memakan ini semua," Arzan menyodorkan piring bagiannya pada Zalia.
"Kenapa kau tidak mau, kau harus makan. Dan itu, kenapa wajahmu selalu begitu, senyumlah sedikit." Arzan menatap Zalia dengan tatapan sulit di artikan.
"Tersenyum, seperti ini," Zalia mempraktekannya dia tersenyum manis.
"Kau sangat cantik," pujinya, "teruslah begitu," ujarnya, namun dia sendiri hanya berwajah datar.
"Kamu sendiri tidak tersenyum, ayo coba senyumlah," Arzan mempraktekan itu dan hanya senyum kaku yang dia hasilkan.
Ting...Tong...
Suara bel pintu membuat atensi semua teralihkan, Jonatan berjalan mendekat lantas membukanya, ternyata itu adalah Merry pengasuh Zalia, dia datang menjemputnya.
"Zalia ayo pulang, sudah cukup mainnya."
"Baiklah bibi. Arzan, besok kita main lagi ya, Om terima kasih sandwich nya sangat lezat."
"Sama-sama kalau kamu suka, Om akan membuatkan sandwich untukmu setiap hari."
"Benarkah, terima kasih Om. Arzan pamanmu sangat baik, kau beruntung punya paman yang baik dan tampan." Ucap Zalia yang tak di tanggapi sedikit-pun oleh Arzan.
__ADS_1
"Om, kalau begitu aku pulang dulu, dadah Arzan."
"Tuan Jo, kami pulang dulu, terima kasih sudah menjaga Zalia."
"Sama-sama, saya justru sangat senang karena Arzan ada teman bermain."
Setelah berpamitan Zalia dan bibi Merry pun meninggalkan kediaman Jonatan dan Arzan.
"Apa mainnya sangat menyenangkan?" tanya Bibi Merry.
"Ya, Pamannya Arzan sangat baik, aku suka dia."
"Zalia mau main ke-taman?" tanya Bibi Merry.
"Mau, mau, mau, tapi... Apa Mommy akan mengijinkan kita pergi?"
"Tenang saja, Bibi sudah minta Izin Mommy dan Mommy bilang boleh, asal jangan pulang terlalu sore."
"Asik, ayo beli eskrim dulu." Ucap Zalia penuh semangat.
"Baiklah."
...----------------...
Langkah kaki Bryant dan Marc menggema di ruangan tersebut, mereka baru saja keluar dari ruang rapat, menuju ke ruangan Bryant kembali.
'Tuan, kami sudah berada di taman.' Pesan itu di terima Marc di ponselnya.
"Tuan, tidak ada jadwal pertemuan lagi hari ini, apa anda ingin pergi keluar?" Bryant mengerutkan dahi merasa heran dengan pertanyaan Marc.
"Zalia berada di taman pinggiran kota," bisik Marc, membuat mata Bryant melebar sempurna.
"Kau yakin?" Bryant memastikan, Marc menunjukan bukti chat yang ia dapat dari Merry.
"Oke, aku akan segera kesana." Ucap Bryant penuh semangat.
"Tapi Tuan ingatlah, jangan buat gadis itu curiga, atau dia akan mengatakan kalau kalian bertemu denganmu tanpa sepengetahuan Trisya, anda harus mendekatinya secara perlahan."
"Oke Marc, aku mengerti."
__ADS_1