
Nai tengah sibuk berada di dalam kamar untuk membereskan barang barang nya. Entah mengapa perasaan nya tidak enak. Dia merasa harus segera pergi dari rumah itu. Dengan dibantu Mbok Yem, Naisha memasukkan semua barangnya ke dalam koper koper besar miliknya.
Kring!!!
Ponsel Naisha berbunyi. Ia segera mengangkatnya. Nai tampak mengerutkan alisnya karena nomor tersebut tidak tercantum dalam kontak ponselnya. Namun ia tetap mengangkat panggilan tersebut.
" Hallo?"
" Noona apakah sudah selesai membereskannya."
" Oh kamu, sebentar lagi. Bolehkah aku membawa orang lain."
" Maksud noona?"
" Ah iya, itu aku mau membawa Mbok Yem dan Pak Jo ke rumah mu."
" Ooh ya tentu saja. Aku sudah berada di luar pekarangan rumahmu. Jika sudah selesai segera beritahu aku ya."
" Baiklah."
Naisha sedikit heran, bukanlah orang itu seharusnya berada di rumah sakit? Namun Nai tidak mau berpikir banyak ia harus segera membereskan semua barang barangnya.
Ckiiit
Sebuah mobil berhenti di halaman rumah. Jantung Nai terasa memompa begitu cepat. Ia sungguh terkejut.
Tak tak tak
Suara langkah kaki mendekat ke kamar miliknya. Naisha semakin gusar.
Brak!!
" Mau pergi kemana kamu Naisha?"
" Bukan urusanmu!"
Seperti dugaan Naisha, orang yang datang itu adalah Adnan. Adnan terlihat begitu marah namun Naisha tidak peduli. Mereka tak lagi memiliki hubungan, jadi tidak berhak saling mencampuri urusan satu sama lain.
" Nai, kamu mau kemana?"
" Aku mau keluar dari rumah ini."
" Tapi kenapa?"
" Kita tidak pantas tinggal satu atap lagi, bukankah kita sudah bukan suami istri. Jadi aku juga tidak mau tinggal bersamamu, haram hukumnya."
Adnan kebingungan, ia sungguh tidak tahu bagaimana cara menahan Naisha sekarang. Jika Naisha benar benar pergi dari rumahnya maka akan semakin sulit mewujudkan keinginan sang papa bahkan bisa saja mustahil untuk dilakukan.
" Mbok, bisakah keluar sebentar. Aku ingin bicara berdua dengan Naisha."
" Jangan mbok! Tetaplah di sini."
__ADS_1
Bukannya berburuk sangka, Naisha sungguh merasa akan ada sesuatu yang buruk jika ia hanya berdua dengan Adnan. Mbok Yem mengangguk patuh mengikuti kemauan nonanya.
Merasa tidak bisa bicara baik baik, Adnan pun menarik tangan Naisha dengan paksa dan membawa Naisha keluar.
" Ad, lepasin. Kau menyakitiku. Aku tidak mau bicara denganmu!"
" Diam!"
Mbok Yem berusaha menghalangi Adnan. Ia pun mencoba menarik tubuh Naisha agar tidak dibawa keluar oleh Adnan. Namun tubuh tua itu kalah kuat. Mbok Yem terjatuh di lantai.
" Non!"
Naisha memberontak ia berusaha melepaskan cengkraman tangan Adnan. Bahkan Naisha mencoba berpegangan pada pintu kamarnya agar Adnan tidak bisa membawanya.
" Ad lepasin!"
" Jangan harap kau bisa meninggalkanku Nai please kembalilah padaku."
" Aku tidak sudi!"
" Baiklah, kau benar benar memaksaku untuk menggunakan kekerasan."
Adnan mengangkat tubuh Naisha lalu menjatuhkannya ke sofa ruang tamu. Naisha berteriak sekencang mungkin.
" Tolong, lepasin Adnan. Kau sudah gila. Aku bukan istrimu. Kau tidak bisa melakukan itu pada ku."
" Maka jadilah istriku kembali."
Adnan mencoba mencium Naisha namun Naisha terus mengelak. Bahkan Naisha berusaha lari namun tubuhnya kembali ditangkap oleh Adnan. Kini baju Naisha pun telah robek. Kancingnya bertebaran karena ditarik oleh Adnan.
Sayup sayup mendengar namanya disebut, ia pun segera berlari memasuki rumah Adnan. Betapa terkejut Nataya saat melihat Naisha sudah menangis dengan rambut yang acak acakan dan baju yang telah koyak.
Nataya langsung mencengkram kerah leher Adnan dan memukul pria itu membabi buta. Mata nya merah menyala menandakan ia begitu marah.
Bugh
Bugh
Bugh
Tidak ada kesempatan untuk Adnan bisa melawan. Bahkan tubuh Adnan sudah berada di bawah Nataya. Pria itu meringis kesakitan bahkan memohon ampun.
" Shhh, am-ampun ... Lepsin ... Argh!"
Namun Nataya terasa tuli, dia tidak mendengar sama sekali rintihan kesakitan dari mulut Adnan. Kaki Nataya terus menginjak tubuh Adnan tanpa ampun. Hingga suara Naisha mengembalikan kesadarannya.
" Nataya, cukup. Dia bisa mati jika kau tidak menghentikannya."
Nataya menoleh ke arah Naisha. Ia segera memberikan jaketnya kepada wanita yang dicintai itu. Nataya membawa Naisha kedalam pelukannya.
" Maafkan aku noona, aku sungguh minta maaf."
__ADS_1
Reflek, Nataya pun mencium pucuk kepala Naisha. Naisha sama sekali tidak protes. Ia menemukan kenyamanan dan keamanan saat berada di pelukan pria muda itu.
Nataya merasa sangat bersalah, ia sungguh tidak melihat mobil Adnan memasuki rumah. Saat itu ia tengah fokus dengan ponselnya. Sungguh Nataya merutuki kelalaiannya sendiri.
Ia pun merapikan rambut wanita yang berada di pelukannya itu. Ia menatap lekat wajah Naisha lalu menghapus air mata yang sudah membasahi pipi chubby Naisha.
" Noona apakah tidak apa apa?"
" A-aku tidak apa apa. Hanya~"
" Sudahlah, mari kita pergi."
Naisha mengangguk. Sungguh ia tidak menyangka Adnan akan berbuat nekat seperti itu.
" Nai, tu-tunggu. Ja-ngan pergi ku mohon."
" Heh tuan yang terhormat, aku bukan lagi istrimu. Besok aku akan mengurus perceraian kita ke pengadilan. Persetan dengan semua perjanjian yang pernah ku buat dulu!"
Naisha kemudian keluar bersama Nataya. Namun sebelumnya ia memberitahu Nataya bahwa Mbok yem dan barang barangnya masih ada di kamar. Nataya pun mengangguk paham, ia akan mengantarkan Naisha ke mobil terlebih dahulu lalu menjemput Mbok Yem dan mengambil barang barangnya.
Nataya mengemudikan mobil Naisha dan meninggalkan motornya di sana. Ia memerintahkan seseorang untuk mengambil motornya.
Sedangkan Pak Jo, rupanya dari pagi Pak Jo di
minta Naisha pergi ke rumah ayah dan bunda nya untuk mengantarkan mobil miliknya yang lain. Agar bisa digunakan Rey nanti, mengingat anak itu pasti sementara waktu tidak akan menggunakan motornya
" Nat, kita mau kemana?"
" Ke rumah sakit."
" Untuk?"
" Visum, noona kau harus melakukan visum. Itu akan menguatkan laporanmu ke pengadilan."
Naisha mengangguk patuh. Apa yang diucapkan Nataya semuanya benar.
Mereka pun tiba di rumah sakit, Dinar yang melihat Nataya memapah seseorang begitu terkejut. Terlebih itu adalah seorang wanita. Ia merasa sangat penasaran hingga perlahan lahan mengikutinya.
" Dokter Nataya sedang sama siapa? Mengapa begitu dekat? Apakah itu kekasihnya?"
Begitu banyak pertanyaan yang berseliweran di kepala gadis itu. Namun ia tidak bisa menemukan jawabannya dan tak lagi bisa mengikuti karena keduanya langsung menuju ruangan pribadi Dokter Dika.
Di ruangannya Dokter Dika, pria patuh baya itu begitu terkejut saat melihat Nataya memapah Naisha.
" Apa yang terjadi Nat? Mengapa Nona Naisha bisa bersamamu, dan mengapa dia begitu. Apa yang kau lakukan kepadanya hah?"
" Astagfirullahaladzim pa, ini bukan Nata yang ngelakuin. Ya kali Nata bakalan gini in wanita, di elus elus aja bisa ngapain dibikin biru biru begitu."
Plak, sebuah pukulan kecil mendarat di kepala Nataya membuat pria muda itu sedikit meringis. Dika sungguh tidak mengerti dari mana sikap absurd putranya itu menurun.
" Maaf dokter, Nataya tidak melakukan apa apa kepada saya. Malah dia lah yang menolong saya."
__ADS_1
Dika pun mengangguk, ia kemudian mempersilahkan Naisha duduk dan memanggil perawat untuk membantu mengobati luka yang ada di tubuh Naisha.
TBC