
Nataya memberengut sempurna saat mengetahui noona tercintanya berada di rumah sakit dan dia tidak segera diberi tahu. Kedua orang tuanya jadi sasaran kekesalan Nataya. Sedari tadi di mobil Nataya terus menggerutu kesal.
" Kenapa sih nggak ngasih tahu Nataya ma, pa."
Itulah yang sedari tadi dia katakan. Dika dan Silvya hanya menggeleng pelan. Kali ini Dika yang menyetir mobil saat perjalanan pulang.
" Kenapa kamu nggak nanya sama Om Juna, coba bilang gitu ke Om Juna," tantang Silvya.
Cep, Nataya langsung kicep saat sang mama berkata demikian. Sedangkan Juna hanya terkekeh geli melihat reaksi Nataya.
" Halah, beraninya cuma sama emak bapaknya. Noh, calon mertua tanyain coba," celetuk Rey.
Seketika itu juga Nataya mengeplak sang sahabat yang duduk disebelahnya. Juna tersenyum ia kemudian mengatakan bahwa semua itu permintaan Naisha. Naisha tidak mau baik Nataya ataupun Rey menjadi khawatir dan panik. Lagi pula kan di gunung tidak dapat sinyal, bagaimana bisa memberi kabar.
Nataya kini diam,dia tidak banyak bicara. Rasanya ia ingin segera sampai ke rumah sakit dan menemui Naisha. Dika dan Silvya terkekeh geli melihat reaksi nataya tersebut. Bagaimana tidak, wajah tampan putranya itu benar benar menggemaskan. Bahkan juna pun mengakuinya.
“ Tuan Juna, apa kita perlu segera menikahkan putra putri kita,” ucap Dika spontan.
“ Boleh saja, tapi masa iddah Nai masih satu setengah bulan lagi,” jawab Juna dengan kekehan.
Nataya hanya menghembuskan nafasnya dengan kesal. Ia tahu betul saat ini dirinya tengah diledek oleh para orang dewasa.
Tepat pukul 17.30 mobil yang dikendarai Dika menepi di rumah sakit. Nataya langsung berlari tanpa permisi. Beruntung mereka tadi sudah mampir untuk melaksanakan kewajiban 4 rakaat, jadi sudah tidak khawatir akan terlambat.
Brakkkk
“ Noona!!!”
“ AstagfirullahNat, kenapa teriak begitu. ini rumah sakit. Nanti ganggu pasien yang lain.”
Tanpa memperhatikan omelan Naisha, Nataya langsung menghampiri Naisha dan memeluknya erat. Naisha dapat merasakan getaran kekhawatiran dalam pelukan Nataya.
Wanita itu pun mengusap lembut punggung lebar milik Nataya. Ia kemudian mengusap kepala Nataya dan mengacaknya pelan.
“ Aku sudah tidak apa apa. Smuanya berjalan dengan lancar.”
__ADS_1
Nataya kemudian sibuk memeriksa Naisha, ia pun bernafas lega saat mengetahui kondisi Naisha yang berangsur pulih.
“ Maaf ya, andai saja waktu itu aku langsung membawa noona kerumah sakit, aku pasti akan menemani noona.”
“ Tidak perlu minta maaf, aku malah berterima kasih. Mama Silvya datang di saat yang tepat.”
Nataya kembali memeluk Naisha, hingga suara deheman membuat pria itu menarik tubuhnya.
“ Ekhem, belum sah ya. Awas orang ketiganya setan.”
“ Kampret, ya elu orang setannya berarti.”
Rey seakan kena boomerang oleh ucapannya sendiri. Tapi dia acuh, ia pun mendekat ke arah sanga kakak dan memeluknya.
“ Hiash, kau membuat ku khawatir mbak. Untunglah mbak baik baik saja. Mbak tahu si kampret ini dah kayak apa aja tadi saat dikasih tahu mbak di rumah sakit.”
Rey yang masih berbicara dengan memeluk Naisha seketika ditarik oleh nataya. Rey pun melancarkan protes dengan tatapan mata tajamnya.
“ Ape lo?”
“ Eh kampret suka suka gue. Kakak gue ini, posesif amat sih.”
Nataya membuang nafasnya kasar. ia sungguh kalah telak dengan Rey.
🍀🍀🍀
Peter mengerang marah saat mengetahui anak buahnya tidak ada yang kembali. Bahkan mereka tidak bisa dihubungi sama sekali. Pria itu meluapkan kemarahannya dengan melempar barang pecah belah yang berada di dapur. beruntung ia tadi mengirim Erika untuk pergi ke rumah Dwi, jadi dia bebas menyalurkan kemarahannya.
Prang !!!!
Prang !!!!
“ Brengsek!! siapa yang berani beraninya menggagalkan rencana ku. Tampaknya mereka benar benar harus dihabisi dengan cepat. Huh aku sungguh tidak sabar melihat mereka menangis darah.”
Peter kemudian menghubungi seseorang kenalannya yang menyewakan pembunuh bayaran profesional. Tak tanggung tanggung, aia kan menghabisi seluruh keluarga Dika dan Juna.
__ADS_1
“ Aku ingin membuat permintaan. Aku menginginkan nyawa 8 orang. namun sisakan 2, bikin dia hidup tapi berasa di neraka.”
“ Kau berani bayar berapa tuan, kirikan data orang orang yang kau kehendaki kepadaku?”
“ Berapapun yang kau minta akan aku berikan.”
Sesaat kemudian Peter mengirim foto dan namanya. panggilan teleponnya pun berdering.
“ Wohooo tuan, orang yang hendak ingin kau habisi ini bukanlah orang sembarangan. Untuk anak anaknya aku minta 100.000$, untuk yang bernama Juna dan istrinya aku minta per kepala 250.000$, dan untuk pasangan hebat itu aku minta 500.000$ per kepala."
" Gilaa, kau mau memeras ku?"
" Terserah, kalau kau mau beri aku DP setengahnya dulu. Paling tidak 25% dulu. Setelah uang diterima, aku baru akan bergerak."
Peter terdiam sejenak, ia tengah berpikir. Namun tak lama ia pun menyanggupi apa yang diminta pembunuh bayaran tersebut. Kata sepakat sudah didapat. Peter mentransfer 500.000$ ke rekening si pembunuh bayaran.
Pria itu pun tersenyum puas. Ia benar benar akan menikmati masa masa kejayaannya setelah semua orang yang ia anggap pengganggu itu mati. Tadi nya ia akan menyisakan Silvya namun setelah dipikir pikir ia akan membuat wanita itu menderita saat satu persatu orang tersayangnya mati. Dan akhirnya memohon kematiannya sendiri.
" Aku yakin setelah tidak lagi ada Wild Eagle di dunia bawah, kau hanyalah cangkang kosong Q. Haish, beruntung aku memilih pergi darimu. Lihatlah aku sekarang bisa sukses. Dan kau, kau hanya menjadi seorang ibu rumah tangga. Tck tck tck, sungguh sangat disayangkan."
Peter bermonolog sambil menenggak wine yang baru saja ia ambil dari gudang anggurnya. Ia tersenyum penuh dengan kepuasan. Tanpa ia sadari di tempat yang lumayan jauh dari rumahnya, orang yang ia maki itu tengah menyeringai.
Ya, kini Silvya berada di markas Wild Eagle. Wanita paruh baya itu tengah meluapkan kemarahannya kepada orang orang milik Peter. Terlebih setelah Drake mencari tahu bahwa Peter merupakan anak buahnya di masa lampau. Tambah marah saja Silvya. Bagaimana tidak, orang tersebut yang notabene nya mengenalnya malah ingin mencelakakan keluarga nya.
" Orang itu sepertinya perlu dirajam Q," ucap Drake.
" Haish, dia terlalu meremehkanku. Bekukan kegiatan mereka di tanah air. Awas jangan sampai ada satu orang pun yang jadi korban human trafficking. Beritahu Ar mengenai Peter dan minta orang Black Wolf untuk membantu memusnahkan orang orang Peter di tanah air. Bila perlu hubungi orang kita di Myanmar dan hancurkan bisnis Peter hingga ke akar nya."
Drake tersenyum, mode badas Queen nya seperti dibangkitkan. Meskipun Wild Egle dan Black Wolf tak lagi di dunia bawah namun pengaruh mereka masih sangat besar. Bahkan para organisasi mafia yang bermunculan masih menaruh segan dan hormat kepada dua organisasi besar yang sudah lama vakum itu.
" Apa nama organisasi Peter, Drake?"
" Elatra Devoly Q."
" Halah, iblis kurang ajar. Iblis adalah sesuatu yang tidak tampak. Maka bersiaplah menerima kehancuran yang tidak tampak juga."
__ADS_1
TBC