
Keesokan harinya Naisha diantar oleh ayahnya ke pengadilan agama untuk mengajukan gugatan cerai. Tak lupa ia membawa semua bukti yang ia miliki. Dari bukti perselingkuhan hingga bukti kekerasan dalam rumah tangga. Ya meskipun saat Adnan mencoba memaksanya mereka sudah berpisah secara agama namun secara hukum belum. Hal itu tentu saja bisa semakin mempermudah Naisha untuk berpisah dengan pria badjingan tersebut.
Berkas berkas sudah dimasukkan, kini Nai tinggal menunggu untuk sidang mediasi. Namun rupanya Nai sudah bertekad untuk tidak menghadiri. Setelah memasukkan gugatan, Nai akan melimpahkan semuanya kepada pengacara keluarganya.
Cahyo, pengacara ternama yang merupakan pengacara pribadi keluarga Juna sungguh terkejut saat diminta datang ke rumah untuk membantu proses perceraian Naisha dan Adnan. Pernikahan yang bahkan umurnya lebih pendek dari jagung itu sudah akan berakhir. Ditambah setelah Cahyo tahu bahwa mereka sudah berpisah secara agama, tambah terkejut saja pria itu.
" Mengapa bisa begini Nai?"
" Entahlah om, mungkin belum jodoh."
Ucapan Nai membuat hati Cahyo seperti diremat keras. Bagaimanapun ia tahu bagaimana Naisha besar. Bersama dengan Juna semenjak pendirian Star Building membuat Cahyo juga dekat dengan anak anak Juna. Terlebih Naisha sudah menjabat sebagai CEO Star Building selama 4 tahun.
" Apakah benar ini akan jadi yang terbaik, nak?"
" Iya om. Nai yakin akan hal ini. Om lihat sendiri kan bukti bukti nya."
Cahyo tergugu, ia melihat sepintas ke arah sang teman. Juna hanya mengangguk, Cahyo pun langsung paham. Juna sendiri sudah setuju maka ia hanya akan mengikuti alur yang sudah ada.
Jika sang ayah kembali ke rumah maka Naisha kembali ke Star Building. Kedatangannya tentu saja disambut dengan senyum oleh semua karyawannya terlebih Airin. Gadis itu langsung memeluk Naisha, bahkan Airin saat ini sudah langsung menangis di pelukan Naisha. Ia baru tahu permasalahan Naisha saat di beritahu oleh sang papa.
" Eeeh kok malah nangis."
Airin masih terdiam dan terisak. Ia sungguh merasa sedih dengan apa yang dialami wanita yang sudah ia anggap seperti kakaknya itu. Airin yang anak tunggal menjadikan dia begitu dekat dengan Nai ataupun Rey.
Bagi Airin, Nai adalah kakak perempuan yang sangat ia sayangi. Sedangkan Rey adalah abang yang begitu ia kagumi karena selalu melindunginya. Meski tanpa ikatan darah ketiganya bersama layaknya sebuah saudara. Terlebih Airin sudah ditinggal sang mama semenjak usia 12 tahun. Hal tersebut membuat gadis itu begitu dekat dengan keluarga Naisha. Bahkan Gendis pun sudah menganggap Airin sebagai putrinya.
Nai menepuk pelan punggung Airin. Bukan dia yang ditenangkan malah Airin yang histeris dan perlu ditenangan.
" Kamu ki aneh kok Rin."
" Bodo ah kak, hiks. Kok kakak nggak cerita sih sama Airin."
" Kakak butuh ketenangan."
__ADS_1
Airin tahu bagaimana Naisha mencintai Adnan. Dan Airin sungguh sangat kecewa dengan sikap Adnan yang tega memperlakukan Naisha seperti itu.
" Huh, jika aku di sana sudah aku rajam tuh laki."
" Sudah ada yang melakukannya. Kamu tidak perlu repot repot."
" Eh siapa itu?"
Naisha hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan dari Airin. Pertanyaan gadis itu membuat Naisha kembali mengingat Nataya. Senyum wanita yang on the way jadi janda sah itu begitu merekah.
Ya Allaah, apa ini. Mengapa jadi inget dia lagi. Perasaan waktu sama Adnan nggak begini deh.
Naisha kemudian menggelengkan kepalanya dengan cepat untuk mengusir pikiran yang menurutnya gila.
🍀🍀🍀
Senyum Nataya begitu merekah sepanjang hari ini. Mengetahui bahwa wanita yang disukainya sebentar lagi akan free dari ikatan pernikahan membuatnya terus dan terus tersenyum bahagia. Bahkan dari berangkat ke rumah sakit hingga pulang wajahnya itu selalu memperlihatkan binar bahagianya.
" Yoi adikku yang paling cantik. Cewek yang kakak suka bentar lagi free. Jadi kakak bisa ngejar dia hahaha," jawab Nataya senang.
" Kak, you're crazy!"
" I don't care,"
Nataya mencubit pipi sang adik membuat gadis remaja itu manyun. Ya, Nataya sering melakukan hal tersebut kepada adiknya karena gemas. Tapi Dita selalu protes, keduanya begitu dekat satu sama lain. Nataya sangat protektif juga terhadap sang adik.
" Kak, kok nggak pernah lihat maen bareng kak kembar sih?"
" Ooh Akhza sama Abra? Mereka akhir akhir ini lagi sibuk ngurusin perusahaan ayahnya. Dan kamu tahu jadwal kakak di rumah sakit full juga kan."
" Ooh gitu, haish makanya aku nggak mau ngikutin kakak sama papa jadi dokter."
Nadita Jyothika Lagford, gadis berusia 18 tahun yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas itu memang sama sekali tidak tertarik dengan dunia medis. Ia melihat kakak dan papa nya yang begitu sibuk itu membuatnya benar benar tak ingin jadi dokter. Terlebih ia sendiri juga tidak menyukai pelajaran IPA dari dulu.
__ADS_1
" Terus kamu mau apa, mau nerusin perusahaan mama?"
" Ehm, entah ya kak. Dita belum kepikiran."
Nataya mendekat ke arah sang adik lalu memeluk adiknya itu. Ia mengusap kepala Dita dengan sayang.
" Terserah apapun yang kamu inginkan. Kamu mau jadi apa kelak semua keputusan ada di tanganmu. Mama sama papa tidak pernah meminta kita mengikuti jejak mereka. Kakak jadi dokter juga bukan karena keinginan papa, semua kakak lakukan karena kakak ingin dan kakak suka menolong orang. Dita, lakukan lah apa yang kamu inginkan tapi ingat jadilah seseorang yang bermanfaat untuk orang lain."
Dita mengangguk paham. Ia pun balik mengeratkan pelukan sang kakak, membenamkan wajahnya di dada bidang kakaknya yang kata teman temannya Cha Eun Woo kw super.
Kedua kakak beradik itu berbincang kembali, tanpa sadar apa yang mereka bicarakan itu didengar oleh kedua orang tuanya Dika dan Silvya saling pandang dan tersenyum. Dika pun merangkul istrinya lalu berjalan menjauh meninggalkan kedua anaknya itu.
" Masyaallah mas, putra mu sungguh dewasa sekali."
" Betul sayang, dibalik sikap absurd nya Nataya memang anak yang dewasa. Sungguh aku merasa kagum dengan dia, bukan karena dia putraku. Tetapi memang cara berpikirnya lebih dewasa."
Silvya mengangguk, Nataya memang sudah terlihat mandiri dari kecil. Jarang merengek, jarang meminta. Terkadang Silvya lah yang merasa bingung terhadap sang putra karena saking mandirinya itu. Pembawaan Nataya sungguh ceria. Sangat jauh dengan pribadi Sylvia lebih lebih Dika.
" Nataya itu setelah aku pikir pikir malah nurunin sikapnya Andra ya mas."
" Iya bener, Andra itu diantar kami cowok cowok putra Dwilaga dia yang paling rame."
" Tapi setelah dipikir ternyata sikap cerianya itu seperti almarhum Zion mas. Ya, Zion adalah pribadi yang begitu ceria. Huft, andaikan adikku itu masih ada mas pasti senang jika bertemu dengan Nataya."
" Ikhlaskan sayang, semua sudah berakhir. Doakan ya. Kalau kangen Zion, panggil saja Ar. Muka mereka sama ini."
Keduanya tergelak, saudara kembar pastilah mirip. Silvya yang kembar tiga itu tentu saja memiliki manfaat lain. Jika ia merindukan saudara kembarnya yang sudah meninggal, dia bisa memanggil saudara kembarnya yang satu yang bernama Arduino untuk menyalurkan kerinduannya.
Nataya mau ngajak jalan neeh hihihi
TBC
__ADS_1