
Naisha menepuk keningnya dengan pelan saat ia lupa menyampaikan hal penting kepada Nataya. Padahal dia sudah menunggu pertemuannya dengan Nataya untuk mengatakannya.
Nai merencanakan kepindahannya. Ia menemukan sebuah rumah untuk ditinggali nanti. Naisha sepertinya bertekad untuk hidup mandiri. Dalam artian ia ingin hidup terpisah dengan kedua orang tuanya meskipun saat ini statusnya adalah single.
" Kak, kenapa?"
" Eh Rin, maaf aku lagi mikirin sesuatu."
" Mikir apa kak?"
Naisha tidak menjawab pertanyaan Airin. Ia memilih untuk tersenyum tanpa mengatakan apapun. Dan jika sudah seperti itu maka Airin tahu bahwa Naisha tidak ingin membahasnya.
Gadis itu membiarkan kakak sekaligus bos nya larut dengan apa yang ia pikirkan.
Tring
Sebuah pesan masuk ke ponsel Naisha. Wanita itu langsung membukanya saat mengetahui pesan dari siapa itu.
Noona, apa kau sedang sibuk?(Nataya)
^^^Tidak, ada apa?( Naisha)^^^
Hari ini aku tidak ada kelas tapi aku sedang di RS, bisakah kita makan malam bersama nanti?( Nataya)
^^^Bisa, mari makan malam bersama.( Naisha)^^^
Oke!( Nataya)
Naisha tersenyum senyum sambil membaca dan membalas pesan di ponselnya. Terlebih saat kata terakhir yang dikirim Nataya dibubuhi emoticon love. Sungguh ia seperti anak abg yang tengah berkirim pesan terhadap crush nya. Airin sampai terheran heran. Selama ini Naisha tidak pernah begitu.
Apa iya kak Nai benar benar jatuh hati dengan pria itu?
Airin hanya bisa bergumam melihat tingkah CEO nya. Sekilas Airin tadi melihat nama si pengirim pesan.
Naisha yang belum mendapat pesan dan setelah mendapat pesan sungguh berbeda. Jika tadi ia tampak gelisah sekarang senyum mengembang di bibir wanita 24 tahun itu.
" Kak?"
" Hmmm?
" Apa kakak sedang jatuh cinta?"
Uhuk … uhuk …
__ADS_1
Naisha tersedak salivanya sendiri mendengar pertanyaan dari Airin. Jatuh cinta? Mana mungkin ia sedang merasakan hal tersebut. Itu adalah hal gila yang mungkin ia rasakan jika benar adanya.
" Jangan aneh aneh Rin. Siapa juga yang jatuh cinta."
" Kak Nai, terus ngapain senyum senyum sendiri saat berbalas chat. Itu chat dari dokter muda nan tampan yang kata orang orang cha eun woo kw super kan?"
Naisha mengusap tengkuknya, ia merasa salah tingkah dengan tebakan benar Airin. Tapi sebisa mungkin ia menguasai dirinya agar terlihat natural di depan sekretaris pribadinya itu.
" Nggak kok rin, biasa aja. Nggak ada tuh senyum senyum seperti yang kamu bilang tadi."
Airin memutar bola matanya malas. Tapi ia membiarkan Naisha seperti itu. Paling tidak bos nya itu bisa tersenyum setelah peristiwa memilukan dalam hidupnya. Airin pun meninggalkan Naisha di ruangannya.
Bodoooh, kok aku bisa sih lepas kendali gitu. Ampun deh tuh bocah, bisa bisanya kamu buat aku senyum senyum nggak jelas.
Di rumah sakit Nataya yang tengah sibuk bolak balik ruang IGD tampak begitu bersemangat setelah membuat janji makan malam bersama noona kesayangannya. Ya, Nataya jika off di kampus ia tetap bertugas di rumah sakit. Dia tidak ingin waktu kosongnya terbuang.
Ternyata tingkah polah Nataya tersebut tidak lepas dari penglihatan Dinar. Wanita yang berstatus sebagai perawat itu terus melihat Nataya yang tengah sibuk menangani pasien pasiennya di sela pekerjaannya.
Aku harus mengungkapkan rasa hatiku hari ini juga.
Dinar sungguh bertekad. Ia harus segera menyatakan cintanya kepada Nataya. Ia tidak mau hidup dalam penyesalan karena tidak mengungkapkan apa yang ia rasakan. Entah apapun nanti jawaban yang akan diterima ia akan siap.
Jam demi jam bergulir begitu cepat. Jam kerja Nataya akhirnya selesai juga. Dokter tampan itu tersenyum lebar. Ia berjalan menuju ruangannya untuk berganti pakaian. Sebenarnya bukan ruangan pribadi, karena ia disana dengan beberapa rekan dokter lainnya. Namun langkah Nataya terhenti saat seseorang memanggilnya.
" Dokter Nataya, bisakah saya meminta waktu Anda sebentar."
Gadis berambut pendek itu terlihat gugup. Ia mengambil nafasnya dalam dalam dan membuangnya perlahan.
" Dokter ada yang ingin saya sampaikan."
" Katakanlah."
" Dok, saya sudah lama menyukai dokter Nataya."
Nataya diam, sebenarnya dia sudah bisa menebak hal tersebut. Dia bukan pria yang tidak peka. Nataya tahu betul bahwa Dinar memiliki rasa khusus terhadapnya.
" Sudah,apakah seperti itu saja yang ingin kau katakan?"
Dinar mengangguk, memang dia hanya butuh mengutarakan rasa hatinya itu. Sedangkan Nataya tertawa, ia sungguh merasa kagum dengan Dinar.
" Kau hebat perawat Dinar. Aku akui keberanianmu. Tapi maaf, aku hanya menganggapmu rekan kerja. Ada seseorang yang aku sukai dan yang tengah ku perjuangkan saat ini. Aku harap kau menemukan pria yang pas untuk mu."
" Tidak apa apa dokter. Aku sudah cukup lega dengan mengatakan perasaanku. Semoga wanita yang kau perjuangkan segera bisa menjadi milikmu. Aku sudah cukup puas dengan pengakuanku."
__ADS_1
" Kau wanita yang baik, aku harap kau akan mendapatkan pria yang baik juga."
Nataya tersenyum dan menepuk bahu Dinar dengan lembut. Pria itu kemudian berlari kembali masuk ke rumah sakit. Dinar menghembuskan nafas kelegaan.
Ternyata tidak sesulit yang ia bayangkan. Kini Dinar lega, dia merasa sudah menghilangkan beban berkilo kilo yang ada di dadanya. Kini dadanya tampak lapang dan tidak ada lagi batu yang menghimpit.
" Haaah, akhirnya. Semoga kau mendapatkan kebahagiaanmu dokter. Dan aku akan mencari kebahagiaanku."
Dinar
🍀🍀🍀
Nataya kini sudah berada di halaman rumah pribadinya. Sebelum adzan maghrib dia sudah sampai di sana.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumslaam."
Teriakan Naisha yang menjawab salam nya membuat rasa lelah bekerja seharian hilang begitu saja. Terlebih wajah cantik itu menyembul dari balik pintu untuk menyambut kedatangannya.
Elaah, berasa pulang disambut istri kalau begini.
Nataya bergumam dalam hati sambil tersenyum membayangkan masa depannya itu.
" Masuk dulu yuk, mau magrib nih."
Nataya mengangguk patuh. Ia mengekor Naisha lalu mendudukkan bokongnya di sofa ruang tamu. Nataya pun menyandarkan punggungnya di sana. Tampak Naisha membawakan minuman hangat untuknya.
" Terimakasih sayang, eh noona."
Naisha hanya menggelengkan kepala nya pelan melihat tingkah pemuda itu. Tak lama adzan magrib pun berkumandang. Nataya langsung beranjak ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. Ia kemudian memasuki mushola kecil yang sengaja ia buat di rumahnya tersebut. Ternyata di sana sudah ada Naisha dan Mbok Yem.
" Apakah mau berjamaah?"
" Ya, boleh."
Nataya mengambil posisi sebagai imam. Pria itu pun memulai kewajiban 3 rakaat, lantunan merdu ayat ayat suci yang keluar dari bibir pria itu begitu menyejukkan hati Naisha. Naisha menemukan sebuah kedamaian di sana. Setelah salam diucapkan tanda sholat berakhir sejenak Nataya dan Naisha mengangkat kedua tangannya untuk berdoa kepada Yang Maha Kuasa.
Ya Allaah jika noona jodohku maka dekatkan ya Allaah. Tapi jika bukan tetap dekatkan agar berjodoh ya Allaah. Aamiin
Sungguh doa yang absurd, dalam doa nya pun Nataya memaksa untuk tetap dijodohkan dengan Naisha.
__ADS_1
Ya Allaah, berikan aku jalan yang lapang. Jauhkan aku dan keluargaku dari marabahaya. Dan hadirkan pria yang tepat untuk jadi imam ku nanti. Aamiin.
TBC