Mengapa Menikah?

Mengapa Menikah?
MM 61. Dimulai dengan Malam Pertama, Diakhiri dengan Malam Pertama ( END)


__ADS_3

Selama setahun Naisha benar benar menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Ia menjadi sangat sibuk. Berangkat pagi pulang malam. Begitu juga dengan Rey. Keduanya benar-benar seperti kerja rodi. Bahkan mereka sangat jarang bercengkrama dengan kedua orang tuanya. Sesekali Naisha akan mampir ke rumah Silvya untuk sekedar mengobrol dan saling bertukar kabar mengenai keadaan Nataya di negeri nun jauh di sana. 


Hari ini pun sama, Naisha sibuk menggelar rapat akbar tahunan. Semua karyawan Star Building lagi lagi dibuat sibuk karena big bos akan datang. Tak hanya Naisha yang sibuk, Rey yang sedikit demi sedikit memimpin Star building sebagai CEO Pelaksana saat Nai tidak ada ditempat pun ikut sibuk.


Kini pria itu tahu semenakutkan apa ayahnya di mata para karyawan. Sungguh Rey begitu tidak habis pikir, ayah yang begitu penyayang itu mengapa bisa ditakuti oleh para karyawan.


" Rey, Airin, om Teo, apa semua sudah siap?


" Siap sudah!"


Ketiganya menjawab kompak. Kini tinggal menunggu sang big bos datang. Kali ini semua staf dan karyawan menunggu Juna di lobby Star Building. 


Ckiiiit


Sebuah mobil berhenti tepat di depan pintu lobby. Semua tampak gugup menunggu Juna keluar dari mobil. Teo pun berlari menuju mobil Juna untuk membukakan pintu. Pria paruh baya itu keluar dari mobil dengan begitu berkarisma. Usia matangnya malah menambah Juna semakin mempesona.


" Ya Tuhan Big Boss kita semakin tua semakin ganteng."


" Hus!"


Bisik seorang karyawan yang begitu pelan tapi masih bisa didengar oleh Rey dan Naisha. Keduanya hanya saling pandang dan tersenyum mendengar ayah mereka dibicarakan. 


Juna yang sudah berdiri di depan pintu mobil entah mengapa tidak segera berjalan. Seperti ada seseorang yang ditunggu. Lalu tak lama keluarlah seseorang dari balik tubuh Juna. Seseorang yang begitu dirindukan oleh kekasihnya.


Bukannya berlari menghampiri, Naisha malah menurunkan tubuhnya dan berjongkok di lantai ia menangis di sana. Tentu saja semua orang tampak heran kecuali Rey dan Airin. Rey pun memberi kode kepada semua karyawan untuk menuju hall dan segera melaksanakan rapat. Mereka semua meninggalkan Naisha yang masih berada di sana.


Orang yang yang tidak lain adalah Nataya itu langsung ikut berjongkok dan memeluk Naisha dengan begitu erat. Ia mencium pucuk kepala noona nya. Sedangkan Juna, bersama dengan Teo meninggalkan putrinya tersebut melepas rindu kepada Nataya.


" Apakah noona baik baik saja?"


Buk … buk … buk …


Naisha memukul pelan dada bidang Nataya. Sungguh ia sangat terkejut melihat pria itu disana. Lebih-lebih Nataya datang bersama ayahnya. Bagaimana tidak, Nataya yang sebelumnya bicara bahwa kepulangannya masih seminggu lagi tiba tiba sudah di sini.


" Ahhh sakit noona."


" Siapa suruh bohong."


Naisha mengangkat wajahnya dan menatap Nataya. Pria itu membimbing Naisha untuk berdiri lalu memeluk noona nya dengan erat.


" Aku sungguh merindukanmu noona sungguh."


" Aku juga merindukanmu Nat. Aku hampir gila karena menahan rinduku."


Nataya mengurai pelukannya di tatapnya wajah Naisha itu dengan lekat. Tanpa permisi, Nataya langsung meraup bibir manis Naisha tersebut. Keduanya pun mulai terlibat pertarungan lidah dan pertukaran saliva. Bahkan mereka sungguh tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan membuat baper para resepsionis dan security yang ada di sana.


" Ayo ke ruangan mu noona."


" Tapi rapatnya?"


" Ada Rey, biar si kampret yang ambil alih."

__ADS_1


Keduanya berjalan sambil bergandengan. Mengabaikan setiap mata yang melihat.  Sungguh rasa rindu itu mengalahkan segala hal.


"Astaga so sweet banget sih."


" Dunia berasa punya berdua, kita-kita mah ngontrak doang."


Pembicaraan absurd para resepsionis hanya ditanggapi geli oleh dua orang security yang ada di sana.


Di ruangan Naisha, keduanya duduk di sebuah sofa. Nataya masih memegang erat tangan Naisha. Ia benar-benar enggan melepaskannya.


"Kenapa tidak memberitahuku?"


" Maaf."


Nataya tidak ingin menceritakan keadaan terakhirnya di sana. Ia ingat betul saat sebuah ledakan terjadi ketika ia tengah mengobati seorang tentara. Waktu itu ia sedang membawa seorang tentara ke sebuah bangunan untuk memberikan pertolongan pada tentara yang tertembak. Namun nahasnya bangunan tersebut terkena lemparan granat dan granat tersebut jatuh tepat di samping Nataya. Sebisa mungkin Nataya dan si tentara berlari untuk menghindar namun tetap saja mereka terkena saat granat itu meledak. 


Tubuh Nataya terpental dan menghantam sebuah tembok. Sesaat Nataya kehilangan kesadaran. Semua tampak gelap hingga suara Naisha memanggilnya dan membuatnya kembali sadar.


" Baiklah tidak usah dibahas. Kau sudah pulang dan aku sangat bahagia akan hal tersebut."


Naisha kembali memeluk Nataya. Ia benar-benar takut kalau saja Nataya tidak kembali.


" Nat!"


" Hmmm."


" Aku mencintaimu."


Nataya membulatkan matanya mendengar pernyataan Naisha. Ia sungguh tidak mengira Naisha akan mengatakan hal tersebut.


" Bahkan jika hari ini pun aku bersedia Nat."


Nataya tergelak, kepergiannya setahun sungguh membuat keduanya semakin dekat. Dan yang pasti, keduanya semakin mengerti rasa terdalam di hati masing masing.


🍀🍀🍀


Seminggu adalah waktu yang cukup untuk mempersiapkan pernikahan. Kini Nataya dan Naisha sudah berada di Pandawa Resort milik keluarga Dewantara. Meskipun begitu, pernikahan kali ini baik Juna maupun Dika sepakat untuk tidak mengundang banyak orang. Mereka hanya mengundang keluarga dan sahabat terdekat.


Di meja akad, meskipun sebelumnya Juna pernah berada disana untuk menikahkan sang putri, tetap saja Juna merasa gugup. Tidak jauh berbeda dengan Nataya. Pria itu benar benar gugup saat ini.


" Santai ya pak, mas, ini bukan mau perang kok."


Selorohan penghulu membuat mereka berdua tersenyum. Tapi senyum yang begitu terpaksa.


" Mari kita mulai. Pak juna silahkan menjabat tangan saudara Nataya."


" Saudara Nataya Giandra Lagford aku nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandungku Naisha Gita Dewantara binti Arjuna Dewantara dengan mas kawin uang sebesar  3.312.023 rupiah dibayar tunai."


" Saya terima nikah dan kawinnya Naisha Gita Dewantara Binti Arjuna Dewantara dengan mas kawin tersebut tunai."


" Sah!!!"

__ADS_1


Suara sah paling keras diteriakkan oleh Rey hingga semua mata tertuju pada pemuda tersebut. Naisha yang tadi menunggu di belakang kini dibawa menuju ke samping Nataya. Dengan diapit oleh Gendis dan Silvya, Naisha tampak anggun dengan gaun berwarna nude sederhana namun terlihat begitu elegan sungguh serasi dengan tuxedo Nataya yang berwarna senada. 


Nataya begitu takjub melihat Naisha. Sungguh Naisha sangat cantik. Prosesi akad yang dilanjutkan resepsi digelar dengan hangat dan kekeluargaan. Mereka dengan santai berbincang tanpa rasa kaku layaknya resepsi pernikahan pada umumnya. Baik Nataya maupun Naisha, mereka tidak berdiri dan duduk di pelaminan. Melainkan mereka ikut membaur dengan tamu yang datang. Ucapan selamat silih berganti dari semua keluarga dan sahabat yang datang.


" Selamat ya nak, jaga Naisha untuk kami."


" Baik yah, bund, insyaallaah. Nataya akan jaga noona dengan segenap hati."


" Bro apa lo tetep mau manggil mbak Nai begitu?"


" Tentu, panggilan sayang itu soalnya."


Semua tergelak dengan ucapan Nataya. Silvya dan Dika pun memberi selamat dan memeluk sang menantu. Sebuah petuah mereka berikan kepada anak dan menantunya.


" Jaga baik baik istrimu, jangan sekalipun menyakiti hatinya."


" Iya pa, ma."


Acara berlangsung meriah. Satu persatu tamu mulia meninggalkan hall. Semua sanak keluarga sudah kembali pulang ke rumah masing masing. Kini Naisha dan Nataya sudah berada di sebuah kamar president suit di pandawa resort.


Naisha telah berganti baju dengan sebuah baju tidur tipis tali spaghetti panjang paha. Nataya yang melihat tentu saja tidak berkedip.


" Astaga, beneran belah duren gue malam ini."


Ucapan Nataya langsung mendapat sebuah cubitan oleh Naisha. Namun setelah itu Nataya sudah mengungkung Naisha dibawahnya. 


" Apa sudah siap."


" Jiwa ragaku untuk mu."


Nataya melafalkan doa. Sejurus kemudian ia sudah mencium dan ******* bibir manis milik Naisha. Ciuman Nataya terus turun ke leher dan terus menjelajah ke semua tubuh sang istri hingga Naisha mengeluarkan suara suara yang membuat Nataya semakin bersemangat. Mereka pun menikmati malam pertama mereka dengan semua rasa kasih dan cinta keduanya hingga Nataya berhasil menyemburkan benih-benih nya ke rahim sang istri.


"Terima Kasih noona, meskipun aku bukan yang pertama orang yang kau cintai tapi aku lah yang pertama memiliki hati dan ragamu. Terimakasih kau sudah menjaganya untukku."


" Terima kasih Nat, kau sudah menerimaku dengan segala kekuranganku ini."


Suami istri newbie itu kembali mengulang percintaan mereka. Kisah Naisha yang dimulai dari penolakan disaat malam pertama diakhiri dengan sebuah malam pertama yang indah. Dimana dia menyerahkan mahkotanya kepada seorang pria yang tepat. Seorang pria yang meskipun lebih muda darinya tapi begitu mencintainya. Seorang pria yang begitu menghargainya dan selalu melindunginya. Disini Naisha percaya bahwa setiap kejadian pasti memiliki hikmahnya masing-masing.


" I love you suamiku."


" I love you noona ku, istriku."


...~SELESAI ~...


Wohooo akhirnya, alhamdulillah selesai juga guys hehehe. 


Teruntuk Seluruh readers kesayangan othor, othor ucapkan banyak terima kasih untuk semua dukungannya. Sekali lagi maaf jika belum bisa memuaskann masing masing dari readers terhadap kisah ini. 


Sekali lagi terimakasih telah membersamai othor hingga othor sampai sejauh ini. Tanpa sahabat readers semua othor bukanlah apa-apa. 


Sampai ketemu di karya author selanjutnya. See yaa.

__ADS_1


Salam hangat penuh cinta


Author IAS


__ADS_2