
Berbeda dengan Nataya yang selalu mengembangkan senyumnya. Semenjak kembali dari rumah yang ditempati Naisa, Adnan terus saja bersungut sungut. Ia sungguh kesal luar biasa dan tentu saja terganggu akan kedekatan Nataya dan Naishs.
" Sial, aku harus segera menemukan keberadaan adik papa itu, agar bisa ku gunakan sebagai alasan untukku bisa kembali mendekati Naisha."
Adnan pun menghubungi orang suruhannya yang ia meminta untuk mencari dimana bibi nya berada. Namun ternyata tidak secepat dan semudah itu mereka menemukannya. Bahkan mereka belum juga menemukan titik terang ataupun petunjuk mengenai keberadaan Erika Sasongko.
Adnan menggebrak meja di depannya. Rasa kesalnya bertambah. Sudah dibuat kesal karena melihat Nataya dan Naisha kini ia bertambah kesal pencariannya belum juga membuahkan hasil.
" Sebenarnya apa yang papa sembunyikan. Dimana bibi Erika. Jika memang sudah mati dimana nisannya, jika masih hidup mengapa sama sekali tidak diketahui keberadaannya."
Adnan mengacak rambutnya dengan frustasi. Ia seakan buntu hingga sebuah ide menghampiri kepalanya.
" Rumah sakit? Panti? Ya mungkin aku harus mencari saru di satu bibi di kedua tempat itu. Harus!"
Adnan kembali menghubungi orang orang nya, ia menyuruh mereka untuk mencari ke semua rumah sakit dan panti yang ada di kota ini. Adnan menekankan bahwa mereka tidak boleh melewatkan satu tempat pun.
Ting tong
Bel pintu rumah Adnan berbunyi. Pria itu menaikkan satu alisnya. Ia menebak siapa yang datang malam malam begini. Adnan pun berjalan cepat menuju pintu dan membukanya.
" Haaah, kau lagi. Mau apa hah?"
Bellia langsung memberikan benda pipih berwarna putih yang sudah ia genggam itu kepada Adnan. Dibenda pipih tersebut terlihat dua buah garis berwarna merah.
" Apa maksudnya ini?"
" Aku hamil Ad."
Pria itu terdiam, ia mencoba untuk menajamkan telinganya agar tidak salah mendengar.
" Aku tidak salah dengar kan. Bohong, tidak mungkin. Bukankah kau selama ini meminum pil kontrasepsi?"
__ADS_1
" Tidak, aku sudah tidak meminumnya setelah kau mengatakan ingin memiliki anak dengan wanita itu. Aku sungguh tidak terima akan hal itu dan aku memutuskan berhenti minum pil kontrasepsi.'
Duarrr
Bagai disambar petir di siang bolong. Adnan sungguh sangat terkejut mendengar setiap ucapan Bellia. Ia pun terkulai lemas. Jika Bellia hamil tentu saja kesempatannya kembali mendekati Aisha akan hilang begitu saja.
" Apa kau yakin itu anakku."
" Huft, aku memang murahaan. Tapi aku hanya melakukannya denganmu. Aku sudah memeriksanya ke dokter OBGYN. Aku hamil 8 minggu."
Adnan benar benar bingung saat ini. Rencana yang sudah ia susun dengan cantik untuk mendekati Naisha tiba tiba hancur berantakan. Meskipun begitu, Bellia sungguh tidak bohong. Dia memang hanya memberikan tubuhnya kepada Adnan. Maka dari itu ia yakin 100% jika anak yang dikandungnya adalah anak Adnan.
" Bell, pulanglah dulu. Aku butuh waktu berpikir."
Brak
Adnan menutup pintu rumahnya bahkan sebelum Bellia mengatakan apapun. Pria itu berjalan limbung menuju kamarnya. Ia berteriak sekeras mungkin. Bahkan teriakannya terdengar hingga keluar.
Bellia yang masih berada di luar rumah Adnan tersenyum puas. Rencananya ingin menjebak Adnan berhasil tanpa harus berusaha lebih. Ia dinyatakan hamil saat merasa mual muntah beberapa pagi kemarin.
" Kau memang membawa berkat di hidupku nak. Dengan adanya kamu aku yakin ayahmu akan menerimaku kembali."
Bellia kemudian masuk ke mobilnya dan melesat pergi meninggalkan Adnan yang tengah berteriak frustasi.
" Apa!! Apa yang harus kulakukan sekarang!!! Arghhhh!!! Bellia sialan, mengapa dia bisa hamil? Hancur sudah harapanku bersama dengan Naisha."
Adnan tergugu, dia memang brengsek. Namun dia tidak segila papanya yang akan menyingkirkan segala hal yang menghalangi tujuannya. Bagaimanapun anak yang dikandung Bellia adalah anaknya. Tapi hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah buatnya. Jika papa nya tahu mungkin keselamatan Bellia bisa terancam. Adnan kembali berpikir keras hingga ia memutuskan suatu hal.
Adnan segera mengambil kunci mobilnya dan melesat pergi dari rumah. Tujuannya adalah rumah Bellia. Adnan bernafas lega saat melihat Bellia di rumah dengan tenang.
" Ad, ada apa?"
__ADS_1
" Bell, kamu harus segera pergi dari kota ini Bel?"
" Apa maksudmu Ad, kau mau menyingkirkanku setelah kau mengetahui aku mengandung anak mu?"
" Bukan begitu Bell. Bukan."
Akhirnya Adnan menjelaskan maksudnya. Ia harus segera menyembunyikan Bellia dari sang papa. Bellia bergidik ngeri saat mendengar cerita Adnan mengenai Dwi Sasongko. Jika dengan sang putri saja tega bagaimana dengan Bellia.
Wanita itu pun mengangguk setuju dengan pengaturan Adnan. Ia pun segera membereskan semua barang barang nya dan pergi meninggalkan kota J. Adnan berjanji akan segera menemuinya jika semuanya sudah beres dan kondusif.
" Baiklah, urusan Bellia sudah beres. Paling tidak papa tidak akan mengancamku melalui anak yang dikandung Bellia."
🍀🍀🍀
Dwi Sasongko nampak geram karena ia tahu bahwa Juna dan Naisha menyelidiki asal usul keluarga nya. Ia mengepalkan tangannya dan meninjukannya ke meja kerjanya.
Bagaimana tidak, jika keluarga Juna menemukan kecurangan yang ia buat maka habislah dia. Dwi Sasongko segera menghubungi seseorang untuk segera mengamankan Erika sasongko agar tidak bisa dijangkau oleh Juna.
“ Sial, mereka begitu cepat bergerak. bagaimana mereka tahu mengenai Erika. padahal Erika saat ini tidak berada di tanah air. dasar Keluarga Dewantara Badjingan. Dari dulu selalu unggul dalam segala hal.”
Rupanya kebencian Dwi Sasangko ini tidak hanya sekedar karena insiden yang menimpa sang adik. Akan tetapi sebelumnya, keluarganya sudah membenci keluarga Dewantara.
Pembalasannya tidak boleh sesederhana ini. Jika Adnan dan Erika tidak bisa digunakan sebagai alat maka ia harus menggunakan cara lain yang lebih frontal. Dwi Sasongko kini fokus berpikir bagaimana menghancurkan keluarga Dewantara. Ia sungguh amat sangat tidak menyukai keluarga yang harmonis itu. Dwi selalu menganggap bahwa kebahagiaan keluarga Dewantara itu berada di atas penderitaan keluarganya.
" Lihat saja Arjuna Dewantata, aku akan membuatmu menangis. Aku akan membuat hidupmu diambang kehancuran."
Dwi tersenyum devil, ia benar benar merasa menjadi seorang eksekutor yang akan mengambil nyawa orang. Ia yakin akan bisa membalaskan apa yang telah diperbuat keluarga Dewantara terhadap keluarganya.
Ingatan Dwi kembali saat usianya 15 tahun. Dimana ayahnya digelandang ke kantor polisi karena kasus penggelapan uang perusahaan. Saat itu Sasongko menjabat sebagai manajer keuangan di DCC yang dipimpin oleh Darma Dewantara, ayah dari Arjuna Dewantara.
Dwi yang baru pulang sekolah sungguh terkejut melihat ayahnya sudah dimasukkan ke mobil polisi. Di sana Sasongko terus berteriak bahwa dia tidak salah. Namun semua bukti mengarah kepadanya. Sasongko pun dijatuhi hukuman 10 tahun penjara. Setelah keluar Sasongko sangat membenci keluarga Dewantara, pria itu menekankan keluarganya agar tidak berurusan dengan keluarga Dewantara. Namun siapa sangka, Erika begitu mengagumi Arjuna. Ia bahkan selalu mengikuti trip yang diadakan Juna dan kawan kawannya. Tentu saja hal tersebut membuat snag ayah murka.
__ADS_1
Sasongko pun meminta Dwi untuk menggagalkan putrinya ikut. Namun dia terlambat, Erika berhasil ikut trip. Dan untuk menjatuhkan nama Juna, Dwi bahkan tega menyabotase mobil yang digunakan oleh Erika. Namun kembali lagi, setelah trip selesai maka ARJ Adventure tidak bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi oleh peserta. Kecelakaan Erika menguap seketika tanpa adanya penyelidikan karena baik Dwi maupun Sasongko langsung menyembunyikan keberadaan Erika.
TBC