Mengapa Menikah?

Mengapa Menikah?
MM 44. Lebih Berhati Hati


__ADS_3

Juna yang baru pulang dari Wild Eagle langsung menuju ke Kantor DCC. Ia mendapat pesan dari Dante, sang adik sepupu mengenai permintaanya kemarin. Pria itu bahkan sedikit berlari melintasi lobby perusahaan, semua mata tertuju kepada Juna. Jarang jarang cucu pertama Dewantara itu mendatangi perusahaan.ย 


" Apa yang kau dapatkan Dant?"


Dante tentu saja terkejut, kakak sepupunya itu seperti sangat penasaran mengenai personal data tentang keluarga Sasongko.


" Duduk dulu bang, kau sudah tidak muda lagi. Kau terlihat begitu kelelahan."


" Kampret koe Dant, umur kita cuma terpaut 4 tahun. Jangan sok sok an muda deh."


Dante terkekeh geli melihat reaksi sang abang. Hubungan mereka yang dulu sempat tidak baik itu sekarang justru mendekatkan keduanya.


" Mana data orang itu."


Dante langsung menyerahkan sebuah file cabinet yang berisi lengkap data mengenai orang yang memiliki nama sasongko. Kalimat demi kalimat Juna baca dengan teliti. Ia tidak ingin melewatkan sama sekali. Hingga 15 menit berlalu, akhirnya Juna menyelesaikan kumpulan data tersebut.


" Koruptor, pernah di penjara karena penggelapan dana perusahaan? Berarti ini masa masa almarhum ayah memimpin ya Dant?"


" That's right bang. Tapi saat aku mulai masuk ke perusahaan orang ini sudah mendekam di penjara. Mungkin almarhum paman Darma yang tahu persis kasus nya."


Juna mengangguk mengerti, kini ia bisa menganalisa bahwa mungkin kebencian Dwi Sasongko adalah ini. Dante pun menanyakan mengenai apa yang terjadi dan mengapa Juna menginginkan informasi mengenai Sasongko.


Juna pun menjelaskan tentang apa yang terjadi kepada Naisha dan apa yang menimpa Rey beberapa tahun silam. Dante tentu saja terkejut. Ternyata ada musuh yang diam diam ingin masuk ke keluarga mereka. Juna pun meminta untuk Dante agar lebih hati hati juga menjaga istri dan anak anak nya. Bagaimanapun mereka juga menyandang nama Dewantara. Ia takut jika Dwi Sasongko gelap mata dan menyerang membabi buta.


" Ya Allaah bang, segitunya ya itu orang. Apa dia tidak melihat ke dalam diri dan menelaah dengan jelas bahwa memang ayahnya lah yang salah."


" Haaah, orang yang sudah dibutakan dendam dan dikuasai kebencian tidak akan pernah berpikir bahwa mereka salah. Bukankah kau tahu itu."


" Maaf bang."


Juna tergelak melihat ekspresi adik sepupunya itu. Dante sungguh tahu tentang hal itu. Bagaimana tidak, dia bertahun tahun membenci Juna hanya karena hal yang sepele. Kebencian itu terus terpuruk hingga akhirnya ia menyesali apa yang sudah dia lakukan. Dante begitu menyesal mengingat dirinya yang hampir mencelakakan abang sepupunya.

__ADS_1


" Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Aku sudah melupakan hal tersebut. Ini sudah lewat puluhan tahun Dant. Jadi lupakan lah."


" Makasih bang, dan maaf. Aku sungguh minta maaf."


Juna tersenyum lalu menepuk pelan bahu sang adik. Juna yang memang anak tunggal selalu menganggap Dante dan Alina seperti adiknya. Ia pun berpamitan untuk sekalian mampir ke Star Building. Bagaimanapun kedua putra putri nya harus tahu mengenai masalah ini.


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Star building seketika sunyi seperti kuburan saat tiba tiba Big Bos merek berjalan memasuki lobi perusahaan. Mereka sungguh diam mematung, bagaimana bos besar mereka datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Sungguh semuanya tidak ada yang berani berbicara, padahal Juna sendiri tidak pernah berbuat yang gimana gimana. Tapi entah mengapa mereka sungguh merasa segan dan takut dengan Juna.


Huft, apa wajahku ini seperti penjahat atau apa. Mengapa mereka melihatku begitu ketakutan. Haish, orang orang ini.


Juna bergumam sambil terus berjalan ke arah lift. Ia harus segera sampai di lantai atas tempat putri nya bekerja.


Tringย 


Pintu lift terbuka. Tampak Airin yang baru saja keluar dari ruang CEO, ruangan Naisha. Airin tersenyum lebar. Gadis itu menghampiri Juna dan meraih tangan Juna lalu menciumnya.


" Tumban Tuan Juna kemari tanpa memberi kabar terlebih dulu."


" Iya maaf yah, ada apa ayah ke sini?"


Juna tersenyum sambil mengusap kepala Airin. Ia juga menyayangi putri Teo itu seperti putra putrinya. Namun tentu saja Juna tidak tahu jika Airin menyukai salah satu putra kembar sahabatnya, Rama.


" Ayah ada perlu sama Naisha."


" Begitu, masuklah yah. Kebetulan Bang Rey juga di dalam. Airin pamit, masih banyak pekerjaan Airin."


Juna mengangguk, ia pun melenggang masuk ke ruangan Naisha. Ruangan yang dulu adalah miliknya kini ia berikan kepada anak anaknya. Juna tersenyum ditambah dengan rasa haru melihat kedua anaknya tampak asyik bercanda dan meledek satu sama lain.


Tok tok tok

__ADS_1


" Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam, ayah??"


Naisha dan Rey langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri sang ayah. Keduanya bergantian mencium tangan Juna. Sedangkan Juna mendekap tubuh kedua anaknya itu dengan erat. Naisha dan Rey saling pandang. Mereka merasa ayah mereka tengah merasakan kekhawatiran.


" Ada apa yah?" tanya Naisha tidak sabar. Ayah nya jarang sekali bersikap begitu. Juna membuang nafasnya dengan begitu berat. Ia pun membawa Rey dan Naisaha untuk duduk.ย 


Juna kemudian menjelaskan temuannya di DCC tadi. Bahkan kejadian Rey beberapa tahun silam bisa jadi karena ulah satu orang. Naisha membungkam mulutnya sendiri dengan tangan karena saking terkejutnya. Sedangkan Rey tangannya sudah mengepal erat karena marah.


Keduanya sungguh heran, bagaimana bisa ada orang yang begitu jahatnya hingga mengorbankan berbagai banyak cara hanya untuk membalas dendam. Dimana dendam tersebut sebenarnya sungguh tidak beralasan.


" Maka dari itu, jika kalian menjadi orang tua. Selalu tanamkan kebaikan kepada anak anak kalian. Minta maaf kalau kalian salah. Jangan selalu beranggapan bahwa orang tua selalu benar. Jangan. Itu namanya egois."


Keduanya mengangguk mengerti. Selama ini ayah maupun bunda nya juga begitu. Mereka akan meminta maaf kalau mereka memang yang salah tidak ada istilah gengsi.


" Tapi ngomongin soal anak, Mbak Nai tuh yah yang bakalan bentar lagi."


Plak


Sebuah keplakan tangan mendarat di lengan Rey. Naisha melotot, menatap tajam adik lelakinya itu.


" Sembarangan, jangan dengerin yah. Mulutnya suka ngaco."


" Heleh, emang benar. Orang tuh bocah kampret kayaknya dah ngebet banget."


Nai sungguh kesal dengan ucapan sang adik. Tetapi tidak dengan Juna. Juna hanya tersenyum simpul. Setelah berbicara dengan Silvya, ibu dari dr. Nataya membuat Juna percaya bahwa Nataya adalah pria yang baik. Tapi untuk saat ini ia tidak akan berkomentar apapun. Ia hanya akan melihat dulu bagaimana perasaan putrinya kepada pemuda itu.


" Oh iya yah, terus saat ini apa yang harus kita lakukan. Sebenarnya Nai juga tengah menyelidikinya."


" Hentikan penyelidikan mu sayang, kita saat ini hanya bisa menunggu apa yang akan orang itu akan lakukan. Ayah sudah meminta Wild Eagle, organisasi detektif dan jasa pengawalan swasta untuk selalu menjamin keselamatan kalian. Tapi tetap kalian harus selalu hati hati dan waspada."

__ADS_1


Baik Rey maupun Nai mengangguk paham. Kali ini mereka sudah tahu siapa musuh mereka, jadi mereka bisa lebih berhati hati.


TBC


__ADS_2