
Lagi lagi Silvya yang memegang kemudi. Tadinya Nataya menawarkan diri untuk mengemudi, tapi ditolak oleh sang mama. Tentu saja Silvya tidak akan bisa bergerak bebas jika tidak memegang kendali setir mobilnya.
Juna yang sudah pernah di setiri oleh Silvya pun langsung bersiap. Ia mengeratkan seat belt dan mencengkeramkan tangannya erat di pegangan mobil. Rey yang melihat aksi sang ayah hanya menggeleng pelan. Sedangkan Juna menatap dengan tatapan mengejek.
Bruuuum
Baru saja Silvya melajukan mobilnya Rey sudah tersungkur ke depan.
" Astagfirullaah."
" Ini lah maksud ayah berperilaku begini."
Rey kini paham apa maksud dari apa yang ayahnya lakukan. Rey benar benar takjup dengan ulah mama nya Nataya dalam mengendalikan mobil rubicon tersebut.
Tidak ada yang berkomentar. Semua nya diam sambil menikmati mobil yang melaju cepat.
Di pelabuhan Peter bersama erika dan Joon langsung menaiki sebuah kapal pesiar dan membaur dengana para tamu. Beruntung, kapal yang akan berlayar 5 menit itu masih mau menerima penumpang. Tentu saja dengan kekuatan uang. Peter masih memiliki beberpa uang sismpanan, dan tanpa diketahui oleh Dwi sasongko Peter telah menjual saham yang dimilikinya di sana.
Sorry Dwi, aku harus menyelamatkan diriku sendiri dulu.
Peter tersneyum simpul saat memasuki kamar yang ia dapatkan di kapal pesiar tersebut.
Nguuuuuuuung
Kapal pesiar berangkat dan mulai membelah lautan. Diketahui kapal pesiar tersebut akan berlayar menuju Eropa. Silvya yang baru saja memasuki kawasan pelabuhan langsung mendapat kabar dari Drake.
“ Q, kita sedikit terlambat. Peter sudah menaiki kapal pesiar. Namun kabar bagusnya kapal yang ditumpangi Peter adalah kapal milih Frederik yang sekarang di kelolah oleh putrinya Tania.”
Silvya mengangguk paham, ia pun meminta Drake menyiapkan heli agar bisa menyusul kapal pesiar tersebut. Seingat Silvya, di kapal milik Frederik itu memiliki helipad,jadi dia bisa mendaratkan heli nya di sana.
“Kenapa sayang?” tanya Dika melihat istrinya menghentikan mobil mereka yang masih jauh dari bibir laut.
“ Peter, orang yang kita kejar sudah naik ke kapal pesiar. Kita sedikit terlambat. Tapi ternyata dia menaiki kapal milik mantan mu?’
Dika mengerutkan alisnya sedangkan nataya tentunya kepo maksimal. Papa nya punya mantan? Ini adalah berita besar. Selama ini yang Nataya ketahui mama nya adalaah wanita satu satunya dalam hidup sang papa.
__ADS_1
“ Wooohaaa apakah begitu pa, papa punya mantan. Siapa dia?”
“ Jangan percaya mama mu. mama mu itu wanita satu satunya dalam hidup papa. mantan dari mana coba, siapa sih sayang.”
Silvya tergelak mendengar penuturan sang suami. Ia sangat gemas melihat wajah suaminya yang sudah manyun begityu.
“ Hahaha, Tania, putri dari Frederik. Kapal pesiar yang dinaiki Peter adalah kapal pesiar miliknya. Nat, Tania itu dulu juga dokter di RS Mitra Harapan. Tania sangat menyukai papa mu. Bahkan dia begitu terobsesi dengan papa mu. Sampai sampai ayahnya sendiri menculik putrinya dari rumah sakit untuk menjalani pengobatan.”
Mulut Nataya menganga karena terkejut. Sedangkan Rey dan Juna hanya diam seribu bahasa. Dika adalah dokter hebat berkarisma, tentu saja banyak wanita yang menginginkannya.
" Tapi tenang saja Nat, pemenangnya tetap mama mu.”
Nataya kemudian tersenyum. Sungguh ia sangat suka melihat kedua orang tuanya yang bisa saling menerima satu sama lain. Ia pun berharap hubungannya dengan Naisha seperti papa dan mama nya.
Buuk … ubuk … ubuk …
Suara helikopter terdengar nyaring di atas kepala mereka. Silvya tersenyum ia pun segera keluar dari mobil dan mengajak keempat pria itu untuk memasuki Helikopter. Semua menurut tanpa tanya dan protes.
" Apakah sudah siap Queen?"
" Yes, Let's go!"
" Permintaan di copy dan disetujui. Langsung mendarat jika sudah sampai."
Perintah Silvya diangguki kepala oleh pilot helikopter yang mana masih anak buahnya juga.
" Kau tidak akan lepas keparat."
Pilot Heli tersebut pun memberikan kode bahwa ada barang di bawah kursi untuk diambil Silvya. Wanita itu tentu tahu apa barang tersebut.
Di sana terdapat dua buah senjata api. Pistol Colt M1911A1 dan pistol SIG Sauer P226 dengan peluru 9×19mm Parabellum. Silvya menunjukkan keduanya kepada Nataya. Ia meminta putranya untuk memilih.
" Ambil salah satu kau mau yang mana."
Nataya melihat keduanya, ia pun menjatuhkan pilihannya pada pistol SIG Sauer P226.
__ADS_1
" Aku ini aja, mama biasanya suka yang klasik."
Juna menelan saliva nya dengan susah payah. Calon menantu dan besannya ini sungguh diluar dugaan. Sedangkan Rey ia menatap takjub. Selama ini dia tidak pernah melihat senjata api betulan.
" Nat itu beneran?"
" Lo mau coba?"
" Kampret."
Rey menampik pistol yang diarahkan ke wajahnya. Pemuda itu bergidik ngeri. Untuk menghilangkan prasangka yang timbul, Dika menjelaskan bahwa putranya itu memiliki surat ijin kepemilikan senjata api. Dan sebenarnya pistol yang ia pegang adalah jenis yang dimilikinya.
" Apa Anda pernah melihat istri Anda melakukannya?"
Dika tertawa terbahak. Dia bukan hanya pernah lihat, tapi bahkan mengobati istrinya yang tertembak pun pernah. Haissh, jika mengingat masa itu Dika sungguh hanya geleng geleng kepala.
" Tenang saja Tuan, istri saya benar benar profesional dalam menggunakan segala jenis senjata."
Bagaimana tidak profesional, dia ratu Mafia yang disegani pada masanya. Baku tembak, luka, darah, orang mati, semua adalah hal biasa yang ada dalam hidupnya. Bahkan nyawa istrinya itu hampir melayang saat itu jika Dika tidak menolongnya.
" Mas, stop bernostalgia."
Dika terkekeh geli saat sang istri mengetahui apa yang dipikirkannya. Ia pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Baiklah boys, aku akan menjelaskan semuanya sebelum kita mendarat. Satu persatu aku beri kalian walky talky. Ketika kita mendarat kita bagi semua memencar untuk mencari pria yang bernama peter."
" Wait ma, bagaimana kita bisa tahu dia peter atau bukan kalau kita tidak tahu wajahnya."
Silvya tersenyum, ia kemudian membuka layar ponselnya. Di sana terdapat seorang pria berusia tidak jauh dari Dika ataupun Juna. Wajah asianya begitu mencolok, meskipun dalam usia matang, tapi Peter terlihat masih tampan.
" Sayang, mengapa dia sepertinya tidak tahu sepak terjang mu. Jika memang dia anak buahmu dulu, seharusnya dia tahu siapa kau."
" Dia hanya sementara di markas pusat. Sekitar setahunan. Dia lebih bergerak di cabang kita yang berada di Myanmar. Meskipun begitu aku tahu bagaimana sifat dia. Sebagai pemimpin aku paham betul bagaimana perangai anak anak buahku."
Dika mengangguk paham, mereka semua juga sudah mengerti dan mencermati wajah pria yang bernama Peter tersebut.
__ADS_1
" Baiklah, mencari tikus dimulai. Oh iya dia bersama seorang wanita, aku khawatir wanita itu akan dijadikan tameng olehnya."
TBC