
Juna berada di ruang kerjanya. Ia mendapat sebuah surel balasan dari permintaannya waktu itu. Juna membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di sana. Matanya memicing saat melihat sebuah nama yang ia rasa familiar lengkap dengan foto di bawahnya. Ia pun mengambil foto tersebut menggunakan ponselnya lalu mengirimnya di grup pertemanan yang ia miliki.
^^^Apa kalian ingat siapa orang ini? ( Juna)^^^
Ooh, iya. Ini bukannya mahasiswi yang ikut trip kita ke gunung R di pulau L ya. ( Sukhdev)
Iya bener, kenapa Jun? ( Rama)
Tapi aku dengar orang ini ada insiden. ( Charles)
^^^Iya, bener dan insiden itu saat dia kembali dari trip kita. Dan ternyata dia adalah adik dari Dwi Sasongko mantan besanku. Dia kemarin menikahkan anaknya untuk balas dendam padaku. Aku menarik kesimpulan dia beranggapan bahwa aku penyebab apa yang terjadi kepada adiknya. ( Juna)^^^
Gila!!! ( Sukhdev)
Bajingan betul, keponakanku jadi sasaran perilaku buruknya yang salah sasaran. (Charles)
Wong edan kui Jun. Mau diapakan dia? ( Rama)
^^^Tenang teman teman, aku akan menyelidiki lebih lanjut motifnya. Aku tidak akan tinggal diam saat dia menyakiti buah hatiku. Ini jelas salah paham. Insiden itu bukanlah ada hubungannya denganku dan dengan kita saat itu.( Juna)^^^
Semua sahabat Juna memberi support positif tentang permasalahan yang dengan sahabatnya itu alami. Erika Sasongko, ia sungguh lupa jika nama belakang gadis itu sama dengan nama mantan menantu bangsaat nya itu. Bisa juga semua ini adalah ulah Dwi Sasongko. Tapi bagaimanapun juga tidak akan ada maaf untuk pria brengsek yang menyakiti putrinya. Juna akan mengusut tuntas hal ini. Ternyata nama Erika Sasongko di sembunyikan oleh keluarga itu. Hal ini sendiri sudah membuat Juna tidak habis pikir.
Ia kembali mengingat trip yang diadakan 30 tahun silam itu. Semua berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun. ARJ Adventure selalu mengadakan evaluasi setelah kegiatan Trip. Meskipun waktu itu belum besar seperti saat ini, Juna dan para sahabatnya selalu bersikap profesional. Dan, setelah para peserta trip kembali dari trip yang diadakan maka sepenuhnya bukan lagi tanggung jawab ARJ Adventure.
"Ini pasti tidak sederhana, aku harus hati hati. Aku harus minta bantuan Mr. sun lagi untuk mengetahui data mengenai Erika Sasongko."
Juna kembali mengirim permintaan kepada Mr. Sun mengenai apa yang ia ingin ketahui. Paling tidak ia harus tahu sebenarnya insiden apa yang terjadi 30 tahun silam itu.
Setelah selesai, Juna berjalan keluar dari ruang kerjanya. melihat istrinya tengah sibuk di dapur, pria patuh baya itu langsung memeluk tubuh sang istri dari belakang. Ia meletakkan kepalanya di bahu Gendis.
" Ada apa hmm?"
Bukannya menjawab Juna malah semakin mengeratkan pelukannya lalu mencium kepala sang istri. Gendis menghentikan pekerjaannya. Ia pun membalikkan tubuhnya hingga saling berhadapan dengan suaminya.
__ADS_1
Kedua tangan Gendis terulur menyentuh wajah sang suami. Ia menatap lekat pria yang merupakan cinta pertamanya itu. Begitu pula Juna, Gendis adalah wanita pertama dalam hidupnya.
" Ada apa sayang?"
" Rupanya keluarga Sasongko ingin balas dendam kepadaku melalui puteri kita. Maafkan aku sayang, aku sungguh minta maaf."
Gendis sedikit terkejut namun ia kemudian tersenyum ke arah sang suami. Bahkan Gendis mengecup sekilas bibir suaminya.
" Mas, semua sudah Allaah gariskan. Kita berdoa saja semoga Naisha nanti mendapatkan pria yang benar benar baik untuk jadi suaminya kelak, yang jelas pria tersebuta bisa mencintai dan membahagiakannya."
Juna mengangguk, ia kemudian menarik dagu sang istri dan meelumaat lembut bibir Gendis.
" Ayaaah bundaaaaa noooo, kalian menodai mata suciku!!"
Teriakan si bungsu membuat Juna menarik diri sedikit menjauh dari Gendis. Sedangkan Gendis hanya tersenyum kikuk karena kepergok oleh Rey.
Dasar bocah kampret, ganggu aja. Tapi kok dejavu ya. Siaaal kayaknya aku dibales sama putraku. Dulu aku sering neriakin ayah sama bunda juga. Kampret, karma ini mah.
Juna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mengingat kelakuan tengil nya dulu kepada kedua orang tuanya. Siapa sangka semuanya dibayar lunas oleh sang putra bungsunya.
" Elaah yah kalau mau begitu nggak perlu nunggu nikah kali."
Plak, sebuah keplakan telapak tangan mendarat di kepala Rey Ganesh Dewantara. Membuat pemuda itu meringis.
" Awas ya kamu jika macem macem in anak gadis orang."
" Astaga ayaaah, nggak lah. Rey nggak akan gitu."
" Kalau ketemu gadis yang tepat langsung bawa ke rumah kenalin ke kami biar kami langsung melamar dan meminta ke orang tuanya."
Glek,
Rey menelan salivanya kasar. Ucapan bunda nya tentu saja merupakan sebuah warning kalau nggak boleh lama lama pacaran.
__ADS_1
Haish, bagaimana aku akan berkelana mendapatkan wanita yang sesuai dengan hati ku. Elaaah dramatis banget sih. Lagian siapa juga yang mau buru buru nikah.
Rey bermonolog dalam hati sambil memasukkan tempe mendoan yang dibuat sang bunda kedalam mulutnya.
Memang tidak sedikit wanita yang mengejarnya, namun Rey tidak pernah menanggapi. Ia merasa semua wanita yang mengejarnya hanya menyukai ketampanannya saja. Bukannya narsis, tapi memang dia tampan dan sudah diakui banyak orang. Wajahnya yang sedikit mirip mirip dengan salah satu member idol Korea itu bahkan membuat dirinya sering dijadikan salah sasaran saat berada di negeri ginseng tersebut. Tapi entah mengapa Rey sama sekali tidak tertarik.
Baginya wanita yang menarik adalah saat bertemu ia akan merasakan getaran di dalam dada nya.
" Rey."
" Ya yah."
" Jika suatu hari kamu menikah perlakukanlah istrimu dengan baik. Jangan pernah sekalipun menyakiti hatinya. Wanita itu adalah makhluk yang super duper sensitif. Bahkan salah nada bicara kamu bisa dianggap memarahinya."
" Pengalaman pribadi kayaknya."
" Heh bocah dibilangin malah."
" Iya yah, Rey mengerti. Jika sudah menikah sebaiknya bertanggung jawab terhadap lahir batinnya."
" Iti baru putraku."
Juna mengusap kepala sang putra dengan sayang. Hatinya mencelos mengingat kegagalan pernikahan sang putri. Raut wajah Juna menjadi sendu. Rey paham apa yang dirasakan oleh ayahnya.
" Yah, sudah. Mbak Naisha pasti akan mendapat pria yang baik. Aku yakin itu."
" Semoga seperti itu ya Rey, sungguh ayah tidak sanggup melihat mbak mu sedih seperti kemarin lagi."
Rey tersenyum, ia meraih tangan sang ayah dan mengusapnya dengan lembut.
Tenang yah, jika si kampret Nataya bisa mendapatkan hati mbak Naisha, Rey jamin mbak Naisha akan dicintai dengan sepenuh hati. Orang tuh bocah edan udah bucin akut. Haish, masa nanti judulnya sahabatku adalah kakak iparku. Macam judul novel sama judul FTV aja.
Rey terkekeh geli mengingat kalimat terakhir yang ia ciptakan sendiri. Ia bahkan menepuk keningnya dengan telapak tangannya. Juna dan Gendis hanya saling pandang melihat tingkah absurd putra bungsunya itu.
__ADS_1
TBC