
" Sayang, mbak Naisha tidak ke sini?"
Gendis dan Juna tengah berada di ruang rawat sang putra. Rey tampak tengah makan dengan lahap makanan yang dibawa sang bunda.
" Rey pelan," sergah Juna.
" Yah, Rey udah lama nggak makan masakan bunda. Jadi biarkan Rey menikmatinya. Mbak nggak ke sini, mungkin kerjaannya banyak."
Juna menaikkan satu alisnya mendengar ucapan sang putra. Bagaimana mau sibuk jika Naisha tidak berangkat ke Star Building hari ini. Tadi ia sudah mengonfirmasi kepada Teo, dan jawaban Teo adalah Naisha tidak berangkat ke kantor. Bahkan tadi Pak Jo berada di rumahnya bukan di rumah Naisha bersama Adnan.
Namun Juna tidak berkata apapun. Ia takut Gendis akan khawatir. Ia akan mencari tahu sendiri.
Di luar kamar rawat, Dika yang hendak masuk sedikit ragu. Banyak hal yang diketahui mengenai Naisha membuatnya agak canggung bersitatap dengan Juna. Dika pun mengambil nafasnya dalam dalam dan membuangnya perlahan. Sebenarnya visit ke ruangan Rey bukanlah bagian tugas nya melainkan tugas sang putra.
Ceklek
" Assalamualikum, selamat sore Rey, tuan dan nyonya," sapa Dika ramah.
" Waalaikumslamam," jawab semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
" Loh dok, bukannya biasanya Nataya?" tanya Rey sedikit heran melihat Dokter Dika yang visit ke ruangannya.
" Iya, Nataya lagi ada perlu katanya. Jadi saya yang menggantikannya dulu besok dia akan mengganti jam yang ia tinggalkan."
Juna tersenyum mendengarkan perkataan Dika. Ternyata Dika juga merupakan orang tua yang disiplin terhadap anaknya.
Dika kemudian mendekat dan memeriksa Rey. Pria itu tersenyum kondisi Rey jauh lebih baik dari kemarin. Mungkin besok atau lusa ia sudah boleh pulang.
Gendis merasa senang dengan penjelasan Dokter Dika. Gendis lebih senang merawat putranya di rumah ketimbang harus wira wiri ke rumah sakit.
Setelah Dika keluar dari kamar rawat Rey, Juna kembali duduk di sofa. Iavteringat oleh ucapan sang putra mengenai dia yang berteman dekat dengan putra dari dokter hebat itu. Juna pun penasaran dengan sosok Nataya.
" Rey, katamu kau dan anak dari Dokter Dika berteman? Bagaimana bisa?"
" Oh, ceritanya panjang sih. Tapi yang jelas waktu Rey masih SMA, Nataya pernah nolongin Rey."
" Maksud kamu?"
" Iya yah, jadi waktu SMA Rey pernah mau di culik gitu. Terus Nata dateng nolongin. Dia hebat bener yah, ilmu beladirinya top. Nataya bahkan bisa ngalahin 6 orang sekaligus padahal masih SMA. Nah setelah itu kita lanjut temenan. Kita jarang ketemu saat Nataya mulai jadi dokter residen. Dia itu nggak kalah cerdasnya dari papa nya. Orang usia 19 tahun dia sudah jadi dokter residen. Jadi kalau nggak salah dia itu lompat kelas saat masih smp dan sma."
__ADS_1
Juna mengangguk paham, namun mengapa dia tidak pernah tahu kalau sang putra hampir diculik. Gendis pun ikut tercengang mendengar penuturan putranya.
" Kenapa Rey nggak bilang ke bunda atau ayah kalau sempet mau di culik?"
" Eh?"
Rey menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rahasia yang disembunyikan selama ini akhirnya terungkap juga oleh dia sendiri.
" Maaf, Rey nggak mau ayah sama bunda khawatir."
" Apakah gara gara itu juga kamu selalu mengajak mbak mu untuk ke sekolah bareng?"
Pertanyaan sang ayah hanya dianggap anggukan kepala oleh Juna. Ia yang merasa hidupnya baik baik saja rupanya banyak hal yang janggal di belakangnya tanpa ia ketahui. Rupanya ada banyak hal yang ia lewatkan.
Sepertinya aku harus mulai menyelidiki semuanya satu persatu. Siapa sebenarnya musuhku itu? Dan, aku harus mulai dengan keluarga Sasongko.
Gendis menatap suaminya sekilas, ia tahu suaminya itu pasti tengah merencanakan sesuatu.
🍀🍀🍀
Di kediaman Dika, kepala rumah tangga itu sedari tadi wira wiri tidak jelas seperti setrikaan. Ia sungguh gelisah. Sesaat Dika melirik jam di dindingnya lalu menghembuskan nafasnya dengan berat.
Suara sang putri membuyarkan lamunannya. Ia pun lahirnya memilih duduk di sebelah Dita. Gadis berusia 18 tahun itu terlihat semakin mirip sang ibu. Ia mewarisi mata coklat milik Silvya.
" Sayang, apakah kamu sudah punya pacar?"
" Eh, papa apa an sih. Kok tumben nanya begitu. Pap, Dita tuh masih kecil. Belum kepikiran yang begitu begitu."
" Bagus, begitu baru anak papa. Besok kalau cukup umur langsung nikah aja ya, nggak usah pacar pacaran. Dosa."
Dika mengusap kepala sang putri dengan lembut, sungguh ia takut putrinya punya pergaulan yang aneh aneh di luar sana. Sedangkan Dita mendengus kesal, entah mengapa sang papa jadi aneh gitu. Tapi ia tidak terlalu memperdulikannya, pasalnya ia sendiri sampai saat ini masih belum berminat memiliki kekasih. Walaupun teman temannya sudah pada ramai dan heboh memamerkan pacar mereka.
Dita sendiri memiliki standar khusus untuk pacarnya, yakni dia harus seperti papa atau kakaknya. Bagi Dita, papa nya adalah sosok pria yang luar biasa.
" Sayang, sudah menyelesaikan tugasmu?"
" Sudah ma."
" Bisakah mama bicara dengan papa dulu?"
__ADS_1
Dita mengangguk, gadis itu pun berlalu ke kamarnya. Kini giliran Silvya yang duduk di sebelah Dika.
" Kenapa tadi tanya tanya ke Dita soal pacar. Puteri kita tuh masih kecil mas."
" Tau, makanya itu. Aku ngeri deh sama pergaulan anak anak sekarang. Aku nggak mau Dita berteman dengan orang yang salah."
Silvya paham maksud sang suami. Ia pun juga berpikir begitu, maka dari itu Silvya menempatkan orang orangnya untuk menjaga putrinya itu.
" Sayang, sudah jam 8 putramu belum juga pulang?"
" Apa mas menganggap Nataya bersama dengan Naisha?"
Dika mengangguk, ia sungguh merasa gelisah karena hal itu. Pasalnya dari sore Nataya sudah tidak terlihat di rumah sakit.
Brummm
Suara motor mulai mendekat lalu memasuki pekarangan rumah. Baik Dika maupun Silvya bernafas lega melihat sang putra turun dari motornya.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumslaam."
Nataya mencium tangan Dika dan Silvya bergantian. Lalu ia hendak melenggang masuk ke kamar, namun tidak jadi karena Dika menahannya.
" Duduk, papa mau bicara. Kemana saja sesorean gini."
" Ooh, itu pah. Nata ketemu temen temen kampus. Mereka mau ngajak Nata buat ikut acara bakti sosial, pengobatan geratis gitu."
Jawaban Nataya membuat Dika lega. Silvya pun menyenggol lengan sang suami. Dika paham maksud Silvya.
" Maafin papa ya."
" Eh untuk apa pa."
" Papa udah suudzon sama kamu."
Nata hanya tersenyum kecil. Ia pun mengatakan bahwa tidak masalah jika papanya berpikir yang tidak tidak soalnya dia sendiri lupa memberitahu alasannya tadi pulang awal dari rumah sakit. Namun dia sungguh bangga kepada papanya, tidak hanya papa nya tapi mama nya juga. Kedua orang tuanya itu selalu meminta maaf jika memang mereka salah.
Sebagai orang tua Silvya dan Dika memang demokratis dan terbuka kepada kedua putra putrinya. Mereka juga akan meminta maaf jika mereka yang salah. Tidak ada istilah gengsi dalam mengakui kesalahan. Karena bagi mereka itu juga salah satu cara mendidik kedua anaknya untuk saling memaafkan dan mengakui kesalahan. Tidak ada istilah yang tua selalu benar dan yang muda harus memaklumi, karena yang namanya kesalahan harus diakui lalu diperbaiki.
__ADS_1
TBC