Mengapa Menikah?

Mengapa Menikah?
MM 39. Aku Mencintaimu, Noona


__ADS_3

Juna yang baru saja mendapatkan fakta terbaru mengenai Erika Sasongko sungguh terkejut. Ia tidak habis pikir, insiden tersebut bahkan dibuat oleh kakaknya sendiri.


" Sebenarnya ada apa ini. Apa masalah yang sebenarnya terjadi di masa lalu."


Juna memeras otaknya mencoba mencari nama Sasongko di setiap hal yang berhubungan dengan keluarga Dewantara. 


" Dante, sepertinya aku perlu meminta tolong dia."


Juna teringat kepada adik sepupunya itu. Ia pun segera mencari nama Dante di perpustakaan kontak ponselnya.


" Assalamualaikum Dan."


" Waalaikumsalam bang, tumben malam malam begini nelpon. Apa ada sesuatu yang mendesak?"


" Dant, apa di DCC pernah ada pegawai yang bernama Sasongko?"


" Sasongko? Kurang paham bang. Coba besok aku cari ya. Jika ada itu sudah sangat lama sekali saat paman Darma menjabat sebagai CEO."


" Apa masih bisa di dapat datanya."


" Tentunya masih bisa. Besok aku coba ke HRD untuk mencarinya."


" Terimakasih Dan, sorry ganggu."


" Santai aja bang."


Juna sedikit bernafas lega. Ia merasa Sasongko ini adalah orang yang mengenal keluarga Dewantara. Pria paruh baya itu kemudian menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya.


Tok … Tok … Tok …


" Ya, masuk saja."


Cekleeek


Rey muncul dari balik pintu, pria 23 tahun iyu mendekat di meja kerja sang ayah. Ia pun kemudian duduk di sofa yang ada di sana.


" Kenapa Rey?"


Rey sedikit bingung. Ia sendiri tidak tahu apa yang membawanya menemui sang ayah.


" Yah," ucap Rey ragu.


" Kenapa hmm, sepertinya ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan kepada ayah."


Rey mengatur nafasnya, ia pun kemudian mengatakan apa yang dari tadi ia simpan mengenai sang kakak. Juna mendengarkan kata demi kata yang diucapkan oleh Rey. Alis pria itu sedikit mengerutkan keningnya mendengar ucapan Rey.


" Apa maksudmu dengan pria yang lebih muda?"

__ADS_1


" Nataya yah, Nataya menyukai mbak Naisha!"


" Heh? Apa? Nataya anaknya dokter Dika dan Silvya?"


" Ya iya dia yah siapa lagi temenya Rey yang namanya Nataya."


Juna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana bisa dokter muda itu menyukai putrinya. Juna sungguh bingung akan hal ini. Tapi ya sudahlah, ia akhirnya membiarkannya. Toh belum tentu juga pemuda itu serius.


" Nataya serius yah."


" He??"


Mendengar mengenai reputasi keluarga Dwilaga dan keluarga Linford membuat bulu kuduk Juna meremang. Sungguh ia merasa sedikit minder dengan kedua keluarga tersebut.


" Haish, anak muda sekarang. Sebenarnya ayah tidak masalah dengan siapa nanti mbak mu akan bersanding. Asalkan jangan seperti pria badjingan tempo hari itu saja."


Rey mengangguk mengerti, kesempatan sang sahabat kini terbuka lebar. Nataya hanya benar benar harus bisa membuat Naisha jatuh hati padanya, maka semua akan beres. 


🍀🍀🍀


Di Kediaman Dika dan Silvya, Nataya tampak gusar sesaat setelah menerima pesan dari Naisha. Pesan tersebut mengatakan bahwa Naisha akan pindah rumah, terang saja pemuda itu blingsatan dan mondar mandir tidak jelas. Terlebih ini sudah jam 10 malam. 


Ragu ragu akhirnya Nataya pun nekat keluar rumah dan mengendarai motornya dengan sedikit lebih cepat. Dia tidak ingin terlalu malam saat sampai di tempat Naisha.


Huft noona, mengapa harus pindah sih. Aku bawa ke KUA secepatnya juga deh biar nggak pergi pergi.


Sekitar 30 menit dokter muda itu sampai juga di kediaman pribadinya. Ia mengatur nafasnya perlahan sebelum mengetuk pintu rumah tersebut. Sebenarnya Nataya sendiri memiliki kunci rumah itu, namun ia harus bertindak sopan karena ada orang lain yang menempatinya.


Tok tok tok


Nataya mengetuk pintu tersebut, tidak kencang juga tidak pelan. Namun belum ada jawaban dari dalam rumah, bahkan langkah kaki pun tidak terdengar.


Mampuss, jangan jangan noona sudah pindah. Arghhh!!! Tidak tidak. Belum hatiku masih mengatakan dia belum pindah.


Nataya kembali mengetuk pintu nya. Kali ini lebih keras.


Tak tak tak


Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah pintu. Pria Itu menghela nafas penuh kelegaan. Masih ada tanda tanda kehidupan di dalam rumah. Berarti keyakinannya benar, bahwa Naisha masih ada di dalam sana.


Cekleeek


" Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Mata Nataya seketika membulat sempurna melihat tampilan Naisha yang menurutnya sangat seksii. Naisha mengenakan kemeja putih yang over size dan rambut yang digelung ke atas namun masih menyisakan helaian helaian rambut di leher jenjang wanita itu.

__ADS_1


Glek


Nataya menelan salivanya dengan susah payah. Merasa diperhatikan Naisha pun seketika melihat tampilan dirinya. Wanita Itu lantas berlari menuju kamar dan memakai jaket besarnya.


Aduuuh malu banget pake pakaian begini.


Naisha merutuki dirinya yang lalai saat akan membuka pintu. Ia beranggapan yang datang adalah Rey dan bukannya Nataya.


Kini Nataya sudah duduk di ruang tamu. Naisha membiarkan pintu rumah mereka terbuka. Sebenarnya tidak jadi soal jika ditutup, di rumah itu ada Pak Jo juga jadi tidak akan timbul omongan orang yang macam macam.


" Noona, mengapa noona mau pindah. Apa di sini kurang nyaman? Apa sangat jauh dengan Star building?"


" Bukan Nat, bukan begitu. Aku tidak enak saja merepotkanmu."


" Noona, keberadaanmu di sini tentu tidak membuatku repot. Aku malah berterima kasih karena noona mau merawat rumahku ini. Aku harap malah noona bisa merawat selamanya untukku, sekalian rawat aku juga gitu."


Naisha mengerutkan kedua alisnya. Ia sungguh tidak tahu apa maksud pria muda di hadapannya. Nataya yang menyadari kebingungan Naisha kemudian mendekat ke arah Naisha dan duduk persis di sebelah wanita cantik itu.


Ia menatap lekat manik mata Naisha dan berhasil membuat jantung Naisha berdetak kencang. Wajah tampan Nataya sejenak membius Naisha.


" Noona, apa kau benar benar tidak bisa menerimaku dalam waktu dekat ini?"


Naisha diam, ia sendiri tidak mengerti tentang perasaannya sendiri. Kemarin saat Nataya tidak ada kabar sama sekali, Naisha merasa kebingungan. Ia merasa ada yang hilang. Tapi ia tidak bisa mempresentasikan perasaanya tersebut.


Nataya semakin mengikis jarak dengan Naisha hingga wajah mereka hanya terpaut 5cm saja. Naisha bahkan bisa merasakan hembusan nafas Nataya.


Cup


Nataya memberanikan diri mengecup bibir Naisha sekilas. Tentu saja Naisha terkejut  mata Naisha membulat sempurna.


" Nat~"


Belum selesai melanjutkan ucapannya, bibir kecil Naisha sudah diraup oleh Nataya. Nataya melummaat lembut bibir Naisha. Lidah pria yang lebih muda dari nya itu sudah menembus rongga mulut milik Naisha. 


Naisha yang tadinya begitu terkejut akhirnya mengikuti permainan lidah Nataya. Mereka saling menyesap satu sama lain. Sesaat kemudian Nataya melepas pagutannya. Ia mengusap bibir Naisha dengan ibu jarinya. Tampak wajah Naisha yang merona, sungguh membuat Nataya begitu gemas.


" Aku anggap noona menerimaku. Mari kita pelan pelan menjalin hubungan. Noona aku sungguh serius, mungkin ini terlalu cepat tapi aku sungguh mencintai mu noona."


Naisha menatap wajah Nataya. Ia menelisik ke dalam mata pemuda itu. Tidak ada kebohongan di sana. Nataya sungguh sungguh mengungkapkan rasa hatinya. 


Apakah aku memang sudah menerimanya? Apakah aku memang memiliki rasa pada dokter muda ini?


" Jadi, aku ingin noona tinggal di sini. Bahkan jika noona siap, setelah masa iddah noona selesai aku akan membawa papa dan mama ku menemui om Juna untuk melamar noona."


" Eh, tunggu. Tunggu dulu. Mari jalin hubungan pelan pelan. Jangan terburu buru. Nat kamu tahu aku masih sedikit takut dengan~"


Nataya memeluk Naisha seketika. Dia tidak ingin noona nya itu melanjutkan ucapannya. Nataya memeluk Naisha dengan erat, seakan akan ingin memberitahu bahwa dia tidak akan berbuat begitu. Dia akan menyayangi Naisha dan memperlakukan wanita yang dicintai itu dengan baik.

__ADS_1


TBC


__ADS_2