
Nataya dan Rey sudah berada di dalam mobil sekarang. Keduanya siap kembali ke kota J. Dengan kewaspadaan tingkat tinggi, Nataya mencoba menghubungi Uncle Drake nya.
" Hallo Uncle."
" Yes son, what happened?"
Nataya pun menjelaskan apa yang dialami nya saat ini. Ia pun menjelaskan ciri ciri orang yang mengikuti mereka. Rey hanya melongo saat Nataya berbicara melalui telepon. Nataya tampak seperti orang yang berbeda saat ini. Namun pemuda itu tidak mau mengganggu sahabatnya. Meskipun tidak sepenuhnya mengerti namun Rey paham bahwa saat ini Nataya tengah meminta bantuan.
" Bagaimana uncle?"
" Kalian berdua tenang saja. Ada beberapa orang kita yang berada di sekitar tempat itu. Kemudikan mobilnya lebih cepat tapi jangan mencolok, bila bisa tarik mereka ke daerah yang sepi penduduk."
" Baik uncle, di copy."
" Good, tetap waspada. Jika bisa bantu lumpuhkan dan bawa mereka nanti ke markas."
Nataya cukup paham dengan arahan sang uncle. Di seberang sana Drake langsung menghubungi Silvya. Bagaimanapun Silvya harus tahu mengenai kondisi Nataya dan Rey. Bahkan Drake juga menghubungi Juna.
Juna yang berada di rumah sakit langsung bergegas dan kebetulan sekali Silvya baru keluar dari mobil. Keduanya saling pandang dan mengangguk.
" Apakah langsung mau ke TKP?" tanya Juna.
" Ya, mari tuan."
Namun ternyata keduanya terlihat oleh Dika. Dika pun segera menghampiri dan bertanya apa yang terjadi. Akhirnya Dika memutuskan untuk ikut bersama mereka.
" Biar aku saja yang menyetir," usul Silvya. Kedua pria paruh baya itu mengangguk. Tentu saja Dika tahu apa yang akan terjadi nanti, namun tidak dengan Juna.
" Tuan, sebaiknya Anda mengencangkan seat belt Anda."
Juna yang tidak mengerti ucapan Dika hanya mengangguk dan menuruti apa yang disarankan. Dan belum juga selesai, Silvya sudah menekan pedal gasnya dalam dalam.
Brummmm
Mobil rubicon hijau kesayangan wanita itu melesat membaur di jalan raya. Juna tentu saja terkejut melihat kemampuan Silvya dalam mengemudikan mobil. Lebih lebih lagi jalanan seakan menjadi lenggang. Tentu saja semua itu ulah Drake yang meretas lampu lalu lintas sehingga mobil milik Queen nya bisa melaju cepat bebas hambatan.
" Astaga dokter, apakah Anda sudah tahu ini."
" Hehehe tentu saja tuan. Makanya saya minta tuan mengeratkan seat belt.'
Dika terkekeh geli melihat raut wajah Juna yang sedikit panik tersebut. Namun sejurus kemudian Juna bisa mengendalikan dirinya.
__ADS_1
" Berasa ikut offroad," gumam Juna pelan namun Dika masih bisa mendengarnya.
" Anda belum tahu saja bagaimana jika dia beraksi seperti film action yang memakai senjata, akan lebih spot jantung Anda nanti tuan," gumam Dika juga.
Silvya tidak terlalu memperdulikan dua pria yang tengah sibuk dengan gumaman mereka masing masing. Hingga wanita yang masih cantik dan enerjik itu teringat sesuatu lalu menghubungi seseorang.
" Assalamualaikum ganteng?"
" Ya tan, waalaikumsalam ada apa?"
" Nak, Yasa apakah bisa tolong tante jemput Dita. Nanti ajak ke rumah ayah ibu ya. Soalnya tante sama om lagi ada urusan."
" Bisa tante. Oke."
" Makasih sayang."
Dika mengerutkan dahinya mendengar pembicaraan sang istri tersebut. Silvya pun menjelaskan bahwa ia meminta bantuan Yasa agar membawa Dita de rumah Kak Radi dan Hasna. Di sana Dita pasti lebih aman dari pada harus di rumah sendirian.
Silvya juga mengirim anak buahnya ke rumah sakit. Jika ini ada sangkut pautnya dengan keluarga Dewantara maka bisa dipastikan Naisha dam Gendis pun harus dalam keamanan ekstra. Bahkan Silvya menempatkan penembak jitu di atap gedung RS Mitra Harapan.
" Kau akan membuat Om Bisma spot jantung lagi sayang."
" Haish, om mu sudah biasa."
Silvya semakin melajukan mobilnya dengan cepat. Bagaimanapun ia harus segera sampai dimana tempat putranya berada.
Disisi lain Rey mulai melihat bahwa mobil mereka diikuti. Ia pun memberitahu Nataya. Nataya mengangguk paham. Ia segera membelokkan setir kemudinya ke sebuah jalan yang menurutnya lumayan sepi dan tidak ada penduduk. Bagi para penguntit, itu adalah hal yang menguntungkan. Mereka tidak tahu saja bahwa mereka memang sengaja digiring ke tempat tersebut.
" Nat, are you sure? Ini daerah sepi. Bukankah kita namanya menyerahkan diri dimakan singa?"
" Don't worry brother. Aku memang sengaja. Kita lihat nanti siapa yang dimakan siapa."
Nataya tersenyum misterius. Rey sungguh baru mengetahui sisi lain dari sahabatnya itu. Jika biasanya Nataya tampak seperti ember bocor, kini pria itu seperti stalaktit es yang dingin dan runcing. Rey sedikit bergidik ngeri melihat tatapan tajam Nataya.
Nih bocah kalau lagi mode serius nyeremin asli, gumam Rey dalam hati.
Nataya benar benar fokus dengan mobilnya. Sesekali ia memperlambat laju mobil namun setelah itu ia kembali membuat mobilnya berlari kencang. Nataya kemudian menekan remnya saat melihat sebuah bangunan tua yang kosong dan tidak terawat. Ia menyeringai.
" Rey!"
" Hmmm"
__ADS_1
" Lo masih masih rajin latihan wingchun kan?"
" Mayan sih, kenapa emang?"
" It's time to practice."
Rey melongo mendengar ucapan Nataya. Sesaat ia tidak mengerti namun sesaat setelahnya ia paham. Nataya mengajaknya untuk berduel dengan para penguntit itu.
" Ya elah, mana kaki gue masih linu linu lagi."
" Ambil tracking pole buat senjata."
Rey mengangguk, beruntung tracking pole dan keril mereka berada di kursi belakang dan bukannya di bagasi. Setelah Rey mengambil tongkat dari besi yang biasa digunakan untuk mendaki gunung itu, Nataya pun langsung menghentikan mobilnya tepat di depan bagunan kosong tersebut. Namun mereka tidak serta merta keluar. Mereka akan menunggu orang orang itu bergerak.
" Wohooo rupanya bocah bocah itu menyerahkan diri," ucap salah satu dari penguntit itu.
" Baiklah, mari kita selesaikan pekerjaan mudah ini."
Ckiiit
Mobil para penguntit itu berhenti, keenam orang yang ada di dalam langsung melompat turun dari mobil. Mereka bersama sama berjalan keluar dan menghampiri mobil Nataya. Tadi setelah berhenti Nataya sudah mengirimkan lokasi mereka kepada Uncle Drake. Nataya yakin, bantuan akan segera datang.
Duagh … duagh … duagh …
" Keluar kalian!! Jangan bersembunyi seperti bayi!"
Mobil Nataya digedor keras. Teriakan orang tersebut sungguh begitu keras. Di dalam mobil Nataya dan Rey saling pandang dan mengangguk. Mereka akan keluar bersama dan melawan.
Cekleek
Bugh bugh bugh
Arghhhh !!!!
Jika Nataya memukul dengan tangan kosong, maka Rey melawan para penguntit itu menggunakan tracking polnya. Dua lawan enam, sungguh sebuah keadaan yang tidak seimbang namun tidak masalah bagi keduanya terlebih Nataya. Hanya butuh beberapa saat keenam orang tersebut sudah tumbang. Rey menatap heran.
" Bro, masa iya cuma cecereme begini? Gue yakin pasti setelah ini ada yang nyusul deh temen temennya."
Baru saja Rey selesai dengan ucapannya. 5 buah mobil datang menghampiri mereka. Kedua sahabat itu mendengus, mereka benar benar harus ekstra mengeluarkan tenaga.
" Kampret lo Rey, omongan lo manjur bener. Mereka beneran datang lho."
__ADS_1
TBC