Mengapa Menikah?

Mengapa Menikah?
MM 31 . Dokter Spesialis Bedah Anak


__ADS_3

Nataya kembali sibuk di rumah sakit. Setelah makan siangnya bersama noona pujaan hatinya itu beberapa waktu lalu, ia belum lagi bisa untuk bertemu dikarenakan jadwalnya yang penuh di rumah sakit. Berkali kali dokter muda itu membuang nafas kasar sehingga menarik perhatian sang papa.


" Kenapa?"


" Eh, nggak pa. Nggak kenapa napa."


" Semua oke kan, nggak ada masalah?"


" Nggak pa, aman semuanya alhamdulillah berjalan dengan baik. Tapi memang sedikit sibuk."


" Makanya ambil spesialis biar nggak sibuk di IGD."


" Nggak ah, Nataya lebih senang di IGD."


Dika membuang nafasnya kasar. Bagian IGD adalah bagian paling sibuk karena bagian tersebut adalah pintu utama rumah sakit. Setiap pasien sebagian besar melalui bagian tersebut dulu  baru setelah mendapatkan penanganan pertama akan ditransfer sesuai penyakit yang di derita.


Berkali kali Dika meminta sang putra untuk mengambil spesialis namun berkali kali juga Nataya menolaknya. Ia masih nyaman dengan pekerjaannya di IGD meskipun memang sangat sibuk. Dia benar benar menikmati setiap prosesnya dalam melihat banyak kasus yang mampir di IGD.


Ngguuuuung Code Blue … Code Blue


Nataya dan Dika saling pandang mendengar suara tersebut. Keduanya pun langsung lari menuju ruangan yang diberitahukan kepada mikrofon. Code Blue digunakan untuk pasien yang mengalami cardiac arrest ( serangan jantung) atau respiratory arrest ( situasi gagal nafas akut). Namun tak hanya itu, code blue juga digunakan untuk situasi darurat yang lain saat pasien terancam nyawanya.


" Pa, pasien mana yang dalam kondisi gawat?"


" Setahu papa satu orang yang ada di ruangan VVIP. Dia adalah  ayah dari seorang pejabat kepolisian setempat. Rencananya dia mau ganti ring jantung tapi memang kondisinya tidak bagus."


Dika menjelaskan hal tersebut kepada sang putra sambil berlari menuju lantai 17. Saat membuka ruangan tersebut tampak dokter Bisma yang sedang memberikan pertolongan pertama dengan menggunakan defibrilator pada pasien.


" Naikkan menjadi 200 joul, clear!"


Dika dan Nataya mendekat untuk melihat Bisma melakukan pertolongan. Beruntung pasien bisa kembali. 


" Bagaimana dokter, apakah ayah saya bisa dioperasi?"


" Maaf pak, kondisi ayah anda saat ini sangat tidak bagus untuk melakukan operasi. Resikonya terlalu besar. Kita tunggu sampai ayah anda normal. Baiklah kami permisi."


Bisma dan semua tenaga medis keluar dari ruang vvip tersebut diikuti oleh Dika dan Nataya.


" Apakah buruk kapam?"


" Ya begitulah, sangat beresiko jika nekat untuk memasang ring jantung tersebut. Terlebih pertama kali memasang mereka tidak di tempat ini. Mari keruangan kapam untuk lebih jelasnya."

__ADS_1


Dika dan Nataya mengekor Bisma ke ruangannya. Mereka pun duduk di sofa dan Bisma langsung menyandarkan punggungnya di sana.


" Nat, ambillah rekam medis orang tadi. Ada di atas meja milik kapam."


Nataya beranjak dari duduknya dan menuju meja Kapam Bisma. Ia sejenak melihat rekam medis dari pasien tersebut. Kedua alisnya mengerut saat membacanya sejenak. Pemuda itu kembali duduk.


"Dia mengalami efek samping saat pemasangan ring yang sebelumnya. Apa prosedurnya ada yang salah?"


" Tidak Nat, tapi pola hidupnya yang tidak dijaga."


Dika mencoba menjelaskan kepada Nataya. Sebagai ahli bedah terbaik dia bisa melihat saat pertama kali pasien datang. Sebenarnya beberapa kali mengalami aritmia (gangguan irama jantung). Pasien juga memiliki infeksi pada lokasi masuknya kateter. Hal tersebut pun dibenarkan oleh dokter spesialis jantung yang ada di rumah sakit mereka.


" Lalu harus bagaimana?"


Pertanyaan Nataya membuat Dika dan Bisma saling pandang. Bisma pun menghembuskan nafasnya dengan pelan.


" Usia pasien sudah sangat tua, namun kitq tidak boleh kehilangan harapan. Hal yang dilakukan adalah mengobati infeksi nya terlebih dahulu. Lalu memasukkan kateter dari tempat lain. Jika sebelumnya kateter dimasukkan melalui pangkal paha berarti kita akan melakukan prosedur angioplasti ( pemasangan ring jantung) dengan memasukkan kateter melalui lengan."


Nataya paham, meskipun belum mengambil spesialis setidaknya dasar dasar penyakit begini ia sudah mengerti.


" Bagaimana, apa kamu tertarik mengambil spesialis jantung?"


" Entahlah pa, Nataya masih melihat semuanya dan akan memutuskan nanti. Tapi sebenarnya Nataya pengen seperti papa mengambil spesialis bedah tapi …"


" Nataya pengen ambil spesialis bedah anak."


Dika sedikit terkejut dengan jawaban sang putra. Namun kemudian Dika tersenyum begitu juga Bisma. Keduanya benar benar mengbangkan senyuman yang lebar yang mana malah membuat Nataya heran.


" Kok jadi aneh. Kenapa pada senyum senyum begitu?"


" Papa seneng kamu punya keinginan itu. Mengingat departemen bedah anak belum ada di sini."


" Betul kata papamu Nat, di RS kita ini belum ada departemen bedah anak. Jika kamu benar benar ingin menjadi spesialis bedah anak maka kapam akan mengadakannya dan kamu yang akan mengepalainya. Kapam harap kamu segera bisa belajar agar banyak anak anak yang bisa kita tolong di sini."


*


*


*


Nataya berada di motornya saat ini. Ia tengah memikirkan pembicaraannya dengan papa dan kakek pamannya. Dan tanpa sadar ia melajukan motornya menuju rumah pribadinya.

__ADS_1


Brummmm


Nataya memarkirkan motornya di halaman rumah lalu duduk di kursi yang ada di teras. Ia kembali terngiang ngiang oleh perkataan sang kapam.


Jika kamu segera belajar maka banyak anak anak yang bisa kita tolong disini.


Nataya mengambil nafasnya dalam dalam dan membuangnya perlahan. Ia pun menyandarkan punggungnya ke kursi lalu memejamkan matanya. Tanpa sadar ia tertidur di sana. Pekerjaan yang begitu banyak hari ini membuatnya sedikit merasa lelah. 


" Nat, Nataya … "


Suara seorang wanita yang begitu ia harapkan kali ini benar benar ia dengar. Nataya membuka matanya perlahan.


" MasyaaAllaah cantiknya."


Kalimat tersebut lolos dari bibir tipis Nataya membuat si empunya wajah seketika merona.


" Nat, ada apa malam malam begini kesini?"


" Astagfirullaah maaf noona, tadi sedikit ngalamun jadi nggak sadar tuh motor belok sendiri kemari."


Naisha menggelengkan kepalanya perlahan. Ia sungguh heran dengan setiap tingkah absurd pria di depannya itu.


" Jangan ngelamun saat berkendara, bahaya. Emang apa yang dipikirkan."


" Noona, kalau aku belajar lagi untuk mengambil spesialis bedah anak apakah noona setuju?"


Naisha mengerutkan keningnya, namun seketika ia tersenyum. Naisha beranggapan bahwa Nataya sedang meminta sebuah masukan darinya. Padahal Nataya sungguh meminta persetujuan dari wanita yang ia sukai itu. Bahkan jika nanti jawaban Naisha tidak maka dia juga tidak akan melakukannya.


" Setuju setuju saja. Soalnya masih sangat jarang kan di negeri ini dokter spesialis bedah anak. Jika kamu memang merasa mampu maka lakukanlah. Dengan begitu akan banyak anak anak yang terselamatkan."


Nataya tersenyum mendengar jawaban Naisha. Keraguannya tadi seketika hilang. Dan dia pun mantap untuk belajar mengambil spesialis. 


Reflek, Nataya meraih tangan Naisha dan menciumnya dengan lembut. Dada Naisha seketika bergemuruh mendapat perlakuan manis dari pria yang lebih muda dua tahun itu. Bahkan wajah Naisha kini sudah bersemu merah layaknya tomat yang sudah siap panen.


" Terimakasih noona. Terimakasih. Aku sudah tidak ragu lagi sekarang."


Naisha seketika menarik tangannya dari genggaman Nataya. Bukannya melepaskan, pria itu malah semakin erat menggenggam tangan kecil nan mulus milik noona pujaannya. Hingga sebuah suara membuyarkan momen manis tersebut.


" Iyaaa, bagus ya baguuus!"


TBC

__ADS_1



Otw Dokter Spesialis Ya Nataya 🤭🤭


__ADS_2