
Dika sungguh terkejut mendengarkan semua cerita Naisha. Ia tidak menyangka bahwa nasib pernikahan putri dari Arjuna Dewantara itu begitu buruk. Dika sungguh sungguh menyampaikan rasa simpatinya dengan tulus.
" Jadi sekarang bagaimana?"
" Saya akan menyelesaikannya dulu dokter. Tapi saya ingin meminta sesuatu dari dokter, tolong rahasiakan ini dulu dari ayah saya. Saya sendiri yang akan berbicara langsung kepada ayah."
Dika mengangguk, bagaimanapun juga ini bukanlah ranah dia untuk ikut campur. Sebagai dokter dia sudah melakukan tugasnya untuk memeriksa dan mengobati Naisha serta memberikan hasil visum nya.
" Pa, aku mau nganter noona dulu ya?"
" Ya pergilah, setelah itu kita akan bicara nanti."
Nataya keluar bersama Naisha menuju mobil. Ia akan mengantarkan noona nya itu menuju rumah miliknya.
Setelah Nataya keluar dari ruangannya, Dika memijit pelipisnya dengan kedua tangan. Sungguh ia merasa bingung. Sepertinya sang putra sudah masuk lebih dalam terhadap urusan putri dari rekan bisnisnya itu.
" Sayang, bisakah kita bertemu?"
Beruntung hari ini Dika tidak ada jadwal operasi. Ia pun segera keluar dari rumah sakit untuk menemui sang istri.
Di sepanjang perjalanan menemui istrinya Dika terus memikirkan sang putra. Sejauh mana putranya itu masuk ke kehidupan putri dari rekan bisnis nya.
Dika dan Silvya bertemu di sebuah kafe. Mereka datang bersamaan. Dika memeluk sang istri dengan erat. Silvya dapat merasakan sebuah kekhawatiran dari sang suami.
" Kita masuk dulu yuk," ajak Silvya kepada sang suami. Dika pun mengangguk. Pasangan suami istri yang sudah tidak muda itu masuk ke dalam kafe dengan Dika merangkul bahu sang istri.
" Ada apa mas, kamu kelihatan gelisah sekali."
" Ini soal putramu sayang, tampaknya putramu itu benar benar jatuh cinta kepada putri dari Arjuna."
Silvya mendesahkan nafasnya dengan perlahan. Ia tahu tentang hal itu. Bahkan Nataya meminta Drake untuk mengawasi Naisha dan Adnan. Silvya pun menyampaikan hal tersebut kepada sang suami. Tambah nyut nyutan saja kepala Dika saat ini.
" Apakah benar begitu?"
" Iya mas."
" Ya Allaah anak itu. Mengapa dia sungguh nekat."
Dika mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sungguh merasa bingung harus berbuat apa kepada putranya.
Triing
__ADS_1
Sebuah pesan masuk ke ponsel milik Silvya. Wanita paruh baya itu melihatnya sejenak. Rupanya itu dari Drake. Ia pun membuka pesan tersebut. Kini Silvya yang tampak terkejut dengan pesan kiriman Drake.
" Kenapa sayang?"
" Lihatlah mas."
Silvya menunjukkan ponselnya kepada sang suami. Dika membelalakkan matanya melihat isi pesan tersebut. Ia pun bangkit dari duduknya sambil menarik tangan Silvya. Keduanya bergegas menuju mobil.
" Kita satu mobil saja. Minta Ian untuk ambil mobil mu sayang."
Silvya mengangguk patuh. Keduanya pun masuk di mobil Dika. Pria itu kemudian melajukan mobilnya lebih cepat dari biasanya ia mengemudi.
" Sayang hati hati," ucap Silvya memperingatkan.
" Apa kamu sekarang mulai takut hmmm?" gurau Dika.
" Haish, sepertinya kau senang sekali meledekku. Bagaimana kalau malam ini tidur di luar."
Cep, ancaman yang begitu ampuh yang mana membuat Dika tidak berani berkutik. Ia pun sedikit mengurangi kecepatan laju mobilnya demi menyelamatkan malam panjangnya nanti.
Butuh beberapa saat untuk sepasang suami istri itu menuju tempat tujuan yang sudah diberikan oleh Drake. Mata keduanya membulat sempurna melihat pemandangan di depannya itu.
Di sebuah rumah minimalis tersebut mereka melihat sang putra tengah duduk di teras dengan putri dari Arjuna Dewantara. Bahkan Dika sampai menganga akan apa yang ia lihat.
Dika hendak turun dari mobil namun tangannya dihadang oleh sang istri. Silvya menggeleng pelan sebagai tanda agar suami tidak berbuat terburu buru.
" Tapi sayang, mereka? Aku tidak ingin ya, Nataya berbuat yang tidak tidak."
" Jangan berburuk sangka dengan putramu. Kita lihat dulu apa yang akan dilakukan."
Dika membuang nafasnya kasar. Kedua orang tua itu mengamati putra mereka dari kejauhan.
Sekitar 30 menit berlalu, akhirnya mereka melihat Nataya berjalan keluar sendirian lalu menaiki ojek online dan meninggalkan rumah tersebut. Dika dan Silvya menghembuskan nafas kelegaan, mereka pikir putra mereka akan tinggal di sana juga.
" Ayo mas, cepat kita kembali juga."
Dika melajukan mobilnya kembali ke rumah sakit. Namun sebelumnya ia mengantarkan sang istri lebih dulu ke perusahaan Linford Transportation.
🍀🍀🍀
Adnan mendesis kesakitan merasakan setiap pukulan pukaln pria yang tidak ia kenal itu. Bahkan ia kini hanya bisa duduk lemah di sofa.
__ADS_1
" Sialaan, siapa pria yang menolong Naisha tadi. Sejak kapan Naisha mengenal pria lain selain aku."
Adnan merogoh kantong celana nya untuk menelpon seseorang. Dia berharap bisa mendapatkan pertolongan untuk luka lukanya.
" Kesinilah, bawa kotak p3k mu."
" Apa lagi yang kau perbuat?"
" Tck, jangan banyak tanya. Aku kirimkan alamatku. Kemari segera."
Adnan meletakkan ponselnya di atas meja. Ia kemudian menuju ke dapur dan mengambil es dari kulkas untuk mengompres beberapa lebam di wajahnya.
Adnan memejamkan matanya, mencoba menahan ngilu saat es itu ia tempelkan di kulit lebam nya.
" Haish, pria itu sungguh kuat. Aku benar benar bukan tandingannya. Tapi apa hubungan mereka berdua aku harus segera menyelidikinya. Aku tidak akan membiarkan dia jadi penghalang untuk mendapatkan Naisha kembali."
Tak tak tak
Suara langkah kaki memasuki rumah mewah milik Adnan. Pria itu menatap orang yang datang itu penuh kelegaan.
" Huft, akhirnya datang juga, setelah menunggu 30 menit."
" Tck, beruntung aku sedang off jadi aku bisa ke sini."
Orang tersebut pun segera menarik kursi untuk duduk lalu mengeluarkan kotak obat yang ia bawa dan mulai mengobati Adnan. Berkali kali Adnan merintih kesakitan menahan perih saat diobati.
" Mengapa bisa separah ini, siapa yang melakukannya?"
" Aku tidak tahu, aku tidak mengenal pria itu. Oh iya thank you ya. Kapan kau akan pulang?"
" Entahlah, aku nyaman dengan kehidupanku sekarang. Tinggal sendiri lebih menyenangkan tidak banyak gangguan. Meski kadang mama masih sering mengirim orang untuk mengantar jemput saat kerja, padahal aku sudah menolak."
Orang ity tertunduk lesu. Ia sungguh enggan membahas hal yang ditanyakan oleh Adnan.
" Pulanglah Dinar, kasihan mama."
" Mereka saja tidak kasihan kepadaku."
Adnan mengerutkan kedua alisnya. Ia sebenarnya tidak tahu pasti apa yang membuat adiknya itu meninggalkan rumah dan sama sekali tidak ingin pulang. Sudah 5 tahun Dinar meninggalkan rumah, sejak saat itu ia tidak pernah pulang. Bahkan papa nya tidak lagi pernah menyebut nama Dinar saat tengah berkumpul dengan keluarga besar.
Sama juga Dinar, ia yang kebetulan namanya tidak tertera nama Sasongko atau lebih tepatnya menghapus nama Sasongko membuatnya tidak pernah menarik perhatian dari orang orang sekitar. Dinar menjelma menjadi gadis biasa yang sederhana. Bahkan ia berkata kepada teman temannya bahwa dia adalah gadis yang datang dari desa untuk berkuliah dan bekerja ke kota.
__ADS_1
Jika kalian bertanya dari mana uang kuliahnya, semua dari sang mama. Pritaningsih, mama Adnan dan Dinar tetap memberikan tunjangan financial kepada sang putri meskipun suaminya tidak peduli dengan putrinya. Entah bagaimana pikiran Dwi Sasongko hingga benar benar tega terhadap putrinya.
TBC